Uji Coba Sistem Senjata Cegat Rudal Antar Benua, Boeing Kerja Sama dengan US-MDA

- Selasa, 14 September 2021 | 00:37 WIB
Ilustrasi rudal Korea Utara.(Japantimes.co.jp)
Ilustrasi rudal Korea Utara.(Japantimes.co.jp)

 

HARIANHALUAN.COM - Boeing melakukan uji coba senjata militer yang bekerja sama dengan US Missile Defense Agency (US-MDA) membuat sistem senjata khusus yang mampu mencegat serangan peluru kendali (rudal) antar benua atau Intercontinental Ballistic Missile (ICBM).

Sistem senjata yang dinamakan Ground-based Midcourse Defense (GMD) itu diuji coba di Vandenberg Space Force Base, California, Amerika Serikat baru-baru ini. Dalam uji coba itu GMD sukses meluncur dan berhasil memamerkan teknologi terbaru yang mereka miliki yakni menghancurkan rudal antar benua dalam dua langkah.

Disebutkan New Atlas, bahwa sistem pencegat rudal antar benua sebenarnya bukan hal yang baru bagi sistem pertahanan Amerika Serikat. Saat ini mereka memiliki 44 rudal yang ada di beberapa markas pertahanan Amerika Serikat seperti Fort Greely, Alaska dan Vandenberg Space Force Base.

Puluhan rudal itu disiapkan untuk mencegat peluru kendali yang diarahkan ke wilayah Amerika Serikat. Masalahnya adalah sistem itu tidak mampu mencegat rudal berkekuatan besar seperti senjata nuklir. Selain itu cara kerja puluhan rudal itu terbilang memakan waktu karena terdiri dari tiga tahapan.

Peluang ini yang coba ditawarkan oleh Boeing kepada MDA. Sistem pencegatan rudal antar benua yang mereka buat diklaim bekerja dalam dua langkah. Selain itu Boeing mengklaim bisa mencegat rudal berkekuatan besar seperti senjata nuklir.

"Teknologi yang kami miliki lebih dini menghancurkan rudal yang masih ada di udara. Keunggulan ini menawarkan peluang untuk mencegah dan mengalahkan ancaman dari rudal-rudal yang datang ke Amerika dari benua lain," ungkap Boeing dalam keterangan resminya dikutip harianhaluan.com dari sindonews.com

Menariknya lagi Boeing tidak hanya mengandalkan sistem pencegatan dua langkah. Sistem tersebut dilengkapi dengan dengan perangkat lunak digital yang bisa diperbarui. Jadi pihak militer Amerika Serikat bisa mengubah sistem pencegatan dua langkah menjadi tiga langkah dengan melakukan pembaruan software.

"Boeing sangat siap jika dipanggil atau terpilih untuk mengamankan negara. Selama 20 tahun kami sudah mengembangkan sistem ini. Kami sangat bangga sistem buatan kami akan digunakan untuk menjaga negara hingga tahun-tahun berikutnya," ujar Debbie Barnet, Boeing GMD Vice President dan Program Director. (*)

Editor: Jefli Bridge

Sumber: sindonews.com

Tags

Terkini

PBB Keluarkan Peringan, Bumi Memasuki Fase Kritis!

Kamis, 28 Oktober 2021 | 17:05 WIB

Indonesia-Pakistan Jajaki Kerja Sama Antar BUMN

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 03:00 WIB

Innalillahi, 46 Orang Tewas akibat Banjir di India

Kamis, 21 Oktober 2021 | 07:35 WIB
X