Muhammadiyah Kerjasama dengan Mufti Malaysia untuk Memajukan Islam di Asean

- Selasa, 28 September 2021 | 02:17 WIB
Al Quran. (islami.co)
Al Quran. (islami.co)

HARIANHALUAN.COM - Dalam rangka untuk memajukan Islam di Negeri Serantu, Perserikatan Muhammadiyah menjalin kerja sama dengan Mufti Negara Bagian Perlis, Malaysia. Kerjasama antara rakyat Perlis dengan Muhammadiyah diharapkan menguatkan persaudaraan serumpun sekaligus usaha memajukan Islam di wilayah Asean.

Salah satu dampak fanatisme itu adalah fikih yang seharusnya menjadi perangkat menerjemahkan kemudahan dan keluasan Islam, sering menjadikan Islam terkesan sempit dan kaku. Fenomena fanatisme mazhab fikih ditengarai menjadi sebab perpecahan dan kemunduran umat Islam jauh sejak sebelum abad kesembilan Hijriyah.

“Saya sebagai rakyat Perlis, Mufti Perlis dan sebagai seorang pihak pentakdir urusan agama Islam di negeri Perlis ini melihat ini adalah satu hubungan yang sangat penting di dalam sejarah umat Islam di Nusantara dalam bahasa yang diguna atau di rantau alam Melayu Islam di Asia Tenggara,” tuturnya dikutip laman resmi Muhammadiyah, Senin (27/9/2021).

“Saya mengharap hubungan yang baik. Dengan dua organisasi ini, kita akan kembali membawa umat pada taisirul fikih (kemudahan fikih), memulai kembali umat ini hidup, mempunyai pilihan-pilihan di dalam fikih, tetapi mereka tetap sebagai umat yang beridentiti dengan identity Islam,” imbuhnya.

Keinginan kerja sama ini disampaikan saat Diskusi Peradaban Serumpun seri pertama bertajuk “Keluasan Fiqh dalam Menangani Permasalahan Umat”, Senin (27/9/2021). Diskusi daring yang berpusat di Negeri Perlis Malaysia ini dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dan Mufti Negeri Perlis Malaysia, Dato’ Arif Perkasa Mohd Asri Zainul Abidin.

Dalam acara yang diselenggarakan Majelis Agama dan Istiadat Melayu Perlis (MAIPS) ini Mufti Negeri Perlis Malaysia, Dato’ Arif Perkasa Mohd Asri Zainul Abidin mengawali diskusi yang menjelaskan kekayaan agama Islam dengan khazanah fikih.

Menurut pria yang akrab dipanggil Dr Maza ini, fikih dalam Islam tidak terbatas pada empat imam saja. Karena itu perbedaan yang ada tidak seharusnya menjadikan umat Islam saling bermusuhan.

“Saya sampaikan hal ini agar umat Islam membuka ufuknya di dalam pemikiran untuk mengetahui kita punya khazanah Islam yang begitu besar,” kata Mohd Asri mengutip nama-nama besar seperti Imam Ja’far As Shadiq, Imam Al-Auza’i, Sofyan Tsauri, Imam Al-Laits ibn Sa’ad, Imam Sufyan ibn Uyainah, hingga berbagai karya mahsyur dalam khazanah fikih.

Menurutya, jika tidak menisbahkan pada mazhab satu bukan berarti tidak menghormati mazhab tersebut.

Halaman:

Editor: Jefli Bridge

Sumber: hidayatullah.com

Terkini

Indonesia-Pakistan Jajaki Kerja Sama Antar BUMN

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 03:00 WIB

Innalillahi, 46 Orang Tewas akibat Banjir di India

Kamis, 21 Oktober 2021 | 07:35 WIB

Jamaah yang Sudah Divaksin Sinovac Dibolehkan Umrah

Selasa, 19 Oktober 2021 | 05:10 WIB

Selama Pandemi, Kasus Bunuh Diri di Thailand Meningkat

Minggu, 17 Oktober 2021 | 19:40 WIB
X