Industri Mebel Jatim Bakal PHK 2.400 Karyawan

Administrator
- Minggu, 22 Februari 2015 | 18:37 WIB

“Melemahnya daya saing mebel Jatim di antaranya di­sebabkan tingginya biaya pro­duksi seperti komponen upah pekerja di ring I (Surabaya dan sekitarnya) sebesar Rp2,7 juta per bulan, kenaikan tarif tena­ga listrik, dan pemberlakuan sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK),” katanya, Sabtu (21/2).

Pengalihan order senilai 40 juta dollar AS itu sangat meru­gikan semua pihak, bukan hanya produsen mebel. Order itu kata Peter setara dengan angkutan 2.000 unit kontainer ukuran 40 feet. Adapun ong­kos angkutan setiap truk dari Kab. Mojokerto menuju Pela­buhan Tanjung Perak sebesar Rp 3,2 juta.

Bahkan, lanjutnya, produ­sen mebel berorientasi ekspor di Kab. Mojokerto mulai me­nu­tup pabrik akibat tingginya beban biaya produksi terutama upah pekerja. Kata dia, dua pabrik mebel di Mojokerto yang masing-masing mempe­ker­jakan 200 orang, mulai Januari tahun ini berhenti produksi karena manajemen perusahaan itu hanya mampu memberikan upah Rp 2,3 juta/bulan.

“Tapi para pekerjanya jus­tru minta di-PHK guna men­dapatkan pesangon tinggi yakni Rp 70 juta hingga Rp 80 juta per orang,” jelasnya.

Mojokerto merupakan sa­lah satu sentra industri mebel berorientasi ekspor, selain Pasuruan dan Gresik. Semen­tara total perusahaan mebel di Jatim sebanyak 5.000 unit terdiri dari usaha skala kecil, menengah dan besar.

Karena itu, dia meminta kepada pemerintah agar me­ngam­bil langkah yang dapat meringankan beban industri mebel, diantaranya mem­beri­kan insentif untuk revitalisasi atau peremajaan mesin, serta kebijakan khusus soal upah pekerja. (h/kcm)

Editor: Administrator

Terkini

Calon Diplomat Ikuti Sekolah Dinas Luar Negeri

Selasa, 30 November 2021 | 17:54 WIB

156 Jiwa Meninggal Akibat Kolera di Afrika Barat

Selasa, 30 November 2021 | 13:33 WIB

Raja Salman Cari Investor dan Siap Tawarkan 160 Proyek

Senin, 29 November 2021 | 22:35 WIB
X