Irak Masih Sulit Keluar dari Krisis

- Kamis, 12 Mei 2016 | 04:30 WIB

BAGHDAD, HALUAN —Ak­si-aksi protes yang menuntut reformasi politik sudah tidak berada di jalan-jalan Bagh­dad, ibu kota Irak. Namun, tantangan yang melatar­bela­kangi protes massa dan keti­dakstabilan keamanan, be­lum berakhir.

“Situasi politik negara ini kacau-balau,” kata mantan Penasihat Keamanan Nasio­nal dan anggota Parlemen Irak, Mowaffak al-Rubaie, seperti dilaporkan Voice of America, Rabu (11/5/2016).

Perundingan di antara faksi-faksi politik di parlemen dan masyarakat sipil yang masih terpolarisasi, gagal. Tidak ada solusi apapun yang dihasilkan.

Parlemen terpecah dan ti­dak mampu menghasilkan kuo­rum. Pembicaraan untuk meng­ganti pemerintahan de­ngan pe­merintahan transisi macet total.

Krisis ini mencapai pun­caknya dua minggu yang lalu ketika pemrotes yang dipim­pin ulama Syiah, Muqtada al-Sadr, mendobrak masuk ke gedung parlemen di Zona Hijau.

Zona yang menjadi pusat perkantoran pemerintah dan dijaga ketat oleh pasukan keamanan internasional itu ditembusi massa pemrotes. Mereka menuntu reformasi pemerintahan.

Kekuatan Sadr, didukung oleh warga Irak yang marah karena tidak tersedianya layanan mendasar dan korupsi besar-besaran, telah meng­goncangkan pemimpin-pe­mim­pin politik Irak.

Upaya Perdana Menteri Haider al-Abadi untuk mela­kukan reorganisasi kabinetnya tidak berhasil menentramkan partai-partai politik.

Kekacauan yang terjadi telah menyebabkan Irak ter­pecah atas golongan Suni, Syiah, dan Kurdi. Masing-masing mereka dengan faksi-faksi politiknya, saling ber­tikai.(h/kcm)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Indonesia-Pakistan Jajaki Kerja Sama Antar BUMN

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 03:00 WIB

Innalillahi, 46 Orang Tewas akibat Banjir di India

Kamis, 21 Oktober 2021 | 07:35 WIB

Jamaah yang Sudah Divaksin Sinovac Dibolehkan Umrah

Selasa, 19 Oktober 2021 | 05:10 WIB

Selama Pandemi, Kasus Bunuh Diri di Thailand Meningkat

Minggu, 17 Oktober 2021 | 19:40 WIB
X