'Perlu Pertimbangan Lain Sebelum Masuk ke Ranah Pidana'

- Rabu, 26 Oktober 2016 | 11:29 WIB

PADANG, HALUAN – Guru besar Hukum Pidana Universitas Andalas (Unand) Profesor Elwi Danil menjadi saksi yang meringankan (a de charge) sekaligus ahli, dalam sidang lanjutan dugaan peredaran gula tanpa label Standar Nasional Indonesia (SNI), yang menjerat bos gula Xaveriandy Sutanto sebagai terdakwa.

 

Selain Elwi Danil, pengajar hukum pidana asal Unand lainnya, Lucky Raspati, juga didapuk sebagai ahli dari pihak terdakwa.

 

Dalam keterangannya di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Padang, Selasa (25/10), Elwi Danil menilai, selain melihat aturan-aturan yang berlaku dalam Undang-Undang (UU) perdagangan, perlu pula dilihat berbagai aspek dalam tataran praktek peredaran suatu barang, termasuk hal-hal yang mendasari seseorang mengedarkan suatu barang, sebagaimana terdakwa mengedarkan gula kemasan yang diduga tanpa label SNI.

 

Menurutnya, aspek praktek bisa dipertimbangkan untuk menilai apakah terdakwa melakukan perbuatan melawan hukum atau tidak. Setelah itu, baru diputuskan apakah pantas atau tidak kasus tersebut di bawa ke ranah hukum pidana.

 

“Berdasarkan berkas-berkas yang saya baca dari penasihat hukum (PH), diterangkan bahwa salah satu alasan pengedaran gula ini adalah untuk operasi pasar. Memenuhi kebutuhan masyarakat dalam menyambut Ramadan dan Idulfitri. Pertimbangan-pertimbangan seperti ini rasanya perlu digali lebih dalam, dan bisa saja menyatakan terdakwa tidak bermaksud melakukan perbuatan melawan hukum,” kata Elwi.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Indonesia-Pakistan Jajaki Kerja Sama Antar BUMN

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 03:00 WIB

Innalillahi, 46 Orang Tewas akibat Banjir di India

Kamis, 21 Oktober 2021 | 07:35 WIB

Jamaah yang Sudah Divaksin Sinovac Dibolehkan Umrah

Selasa, 19 Oktober 2021 | 05:10 WIB

Selama Pandemi, Kasus Bunuh Diri di Thailand Meningkat

Minggu, 17 Oktober 2021 | 19:40 WIB
X