Alhamdulillah, Perkembangan Dakwah Muslim di Belanda Kian Pesat

- Senin, 6 Desember 2021 | 00:48 WIB
Keindahan bunga tulip di Belanda (ake1150sb)
Keindahan bunga tulip di Belanda (ake1150sb)


HARIANHALUAN.COM - Belanda, salah satu di antara negara maju di Eropa barat, dengan kehidupan yang serba bebas sebagaimana kehidupan warga Eropa secara umum. Meskipun sampai saat ini mayoritas warganya tidak beragama, sedikit demi sedikit pemeluk agama Islam semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Berkembangnya Islam di Belanda tidak terlepas dari migrasi besar-besaran setelah perang dunia ke dua, di mana Belanda membutuhkan tenaga kerja asing dalam jumlah besar untuk melakukan percepatan pembangunan di berbagai bidang.

Masuklah penduduk muslim yang didominasi berasal dari Turki dan Maroko ketika itu, dan dalam jumlah yang lebih kecil berasal dari Suriname. Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak pula warga asli Belanda yang masuk Islam.

Perkembangan Islam pun semakin pesat dengan semakin banyaknya masjid yang didirikan di Belanda. Masjid-masjid ini sebagiannya merupakan gereja yang dialih-fungsikan menjadi masjid.

Hal ini dilatarbelakangi karena semakin sepi dan merosotnya jumlah jamaah gereja mereka, sehingga mereka pun kesulitan secara ekonomi untuk memelihara dan merawat bangunan gereja.

Sehingga akhirnya, aset-aset bangunan gereja dijual, di antaranya kepada umat muslim, yang kemudian diubah menjadi masjid. Sebagian dijual dalam harga yang relatif murah. Secara finansial, hal ini jauh lebih murah dibandingkan membuat dan mendirikan masjid baru sejak awal, di mana proses perijinan juga lebih sulit. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak masjid di Belanda dari luar tampak seperti gereja. Suasana masjid baru didapatkan jika kita memasuki bangunan masjid tersebut.

Kondisi “Islam” di Belanda

Melihat sejarah mulai berkembangnya Islam di Belanda, maka tidak heran jika ada banyak aliran yang bisa kita temui di Belanda. Kita bisa menjumpai pemeluk agama Syi’ah di sini. Bahkan di Belanda ini pula, penulis berjumpa dengan pemeluk Syi’ah pertama kali dalam sejarah hidup penulis.

Perjumpaan ini berawal dari keheranan penulis ketika melihat salah seorang teman di kampus yang selalu menolak untuk shalat berjamaah bersama kami, dan lebih memilih untuk shalat sendiri. Perkenalan selanjutnya akhirnya terkuak bahwa teman ini adalah pemeluk Syi’ah.

Begitu pula dengan penganut sufiyah (tasawwuf), yang rata-rata didominasi oleh penduduk muslim Turki. Di sini pula penulis secara tidak sengaja menghadiri acara tari-tarian sufi mereka.

Halaman:

Editor: Jefli Bridge

Sumber: muslim.or.id

Tags

Terkini

X