Jebakan Utang China Memakan Korban, RI Terjerat?

Heldi Satria
- Kamis, 16 Desember 2021 | 11:25 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi


HARIANHALUAN.COM - Isu jebakan utang China sedang menjadi perbincangan hangat. Sejumlah negara menjadi korban, terperangkap tidak bisa membayar utang dari Negeri Tirai Bambu sehingga harus menyerahkan aset.
Sebuah penelitian menyebut bahwa program pendanaan China, Belt and Road Initiative (BRI), memang berpotensi menjerat negara-negara berkembang dengan utang 'tersembunyi'. Bahkan nilanya ratusan miliar dolar AS.

Uganda menjadi salah satu 'korban' terbaru yang dilaporkan tersandung 'jebakan' utang China. Bulan lalu, negara ini gagal membayar utang (default) kepada China sebesar US$ 200 juta.

Akibatnya, salah satu negara di Afrika Timur ini terancam kehilangan Bandara Internasional Entebbe. Padahal itu satu-satunya bandara internasional yang menangani lebih dari 1,9 juta penumpang per tahun.

Tidak hanya Uganda, Kepulauan Solomon juga digadang-gadang masuk perangkat utang China. Pada September lalu, parlemen Kepulauan Solomon mengungkapkan Beijing bersedia memberikan 'bantuan' senilai US$ 8,5 juta jika Kepulauan Solomon memutuskan hubungan dengan Taiwan.

Baca Juga: Resi Gudang untuk Ketahanan Pangan, Ini Upaya yang Perlu Dilakukan

"Ekspansi China ke wilayah Pasifik membuat banyak negara terperangkap dalam jebakan utang. Infrastruktur megah yang dijanjikan China harus dibayar dengan kedaulatan," tutur Joanne Ou, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Taiwan, dikutip dari Reuters.

Beruntung utang dari China belum mendominasi Indonesia. Mengutip data Utang Luar Negeri (ULN) keluaran Bank Indonesia (BI) per Oktober 2021, outstanding utang dari China adalah US$ 20,87 miliar.

China menduduki peringkat keempat negara kreditur Indonesia setelah Singapura (US$ 63,72 miliar), Amerika Serikat (US$ 30,61 miliar), dan Jepang (US$ 27,89 miliar).

Menurut mata uang, ULN berdenominasi yuan China pun sangat minim. Per Oktober 2021 nilainya adalah US$ 85 juta. Bandingkan dengan ULN dalam dolar AS yang bernilai US$ 91,26 miliar.

Halaman:

Editor: Heldi Satria

Sumber: CNBC Indonesia

Tags

Terkini

X