Kesulitan Bayar Utang, Sri Lanka Barter Pakai Teh

- Senin, 10 Januari 2022 | 14:45 WIB
Ini 5 Peran Ibu dalam Mengatur Keuangan Rumah Tangga, Hati-hati Jangan Gampang Berhutang.  (Foto: HeungSoon/pixabay.com)
Ini 5 Peran Ibu dalam Mengatur Keuangan Rumah Tangga, Hati-hati Jangan Gampang Berhutang. (Foto: HeungSoon/pixabay.com)


KOTTE, HARIANHALUAN.COM - Sri Lanka kesulitan membayar utang negaranya karena krisis keuangan yang memburuk. Negara itu melakukan segala upaya untuk dapat melunasi utangnya ke sejumlah negara, termasuk dengan barter bayar memakai komoditas teh.

China telah meminta China untuk merestrukturisasi pembayaran utangnya, sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi situasi keuangan yang memburuk. Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa mengajukan permintaan tersebut dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi pada Ahad (9/1/2022).

Baca Juga: Punya Utang Rp1,2 Triliun, Pangeran Arab Dikejar-kejar Bank Swiss

Dalam dekade terakhir, Cina telah memberikan pinjaman senilai lebih dari 5 miliar dolar AS kepada Sri Lanka untuk sejumlah proyek pembangunan termasuk pembangunan jalan, bandara, dan pelabuhan. Tetapi para kritikus mengatakan, uang pinjaman itu digunakan untuk skema yang tidak perlu dengan tingkat pengembalian rendah.

"Presiden mengatakan bahwa, akan sangat melegakan jika perhatian dapat diberikan pada restrukturisasi pembayaran utang sebagai solusi atas krisis ekonomi yang muncul dalam menghadapi pandemi Covid-19," kata kantor pernyataan kantor presiden, dilansir dari BBC melalui Republika.co.id, Senin (10/1/2022).

Baca Juga: Asetnya Disita Negara Terkait Utang BLBI, Bos Texmaco Gugat Kemenkeu

Kantor presiden meminta China memberikan persyaratan "konsesi" untuk ekspornya ke Sri Lanka, yang berjumlah sekitar 3,5 miliar dolar AS pada tahun lalu. Selain itu, Presiden Rajapaksa juga menawarkan untuk mengizinkan turis China kembali ke Sri Lanka asalkan mematuhi peraturan pencegahan Covid-19 yang ketat.

Sebelum pandemi, turis China memberikan sumber pemasukan utama bagi pariwisata Sri Lanka. Selain itu, ekspor China ke Sri Lanka juga sangat besar. Dalam beberapa bulan terakhir, Sri Lanka telah mengalami krisis utang dan valuta asing, yang diperburuk oleh hilangnya pendapatan turis selama pandemi.

Cina adalah pemberi pinjaman terbesar keempat Sri Lanka, setelah Bank Pembangunan Asia dan Jepang. Sri Lanka telah menerima pinjaman lunak senilai miliaran dolar dari China. Tetapi, Sri Lanka telah mengalami krisis valuta asing yang telah mendorong negara tersebut ke ambang default.

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: republika.co.id

Tags

Terkini

Raja Arab Salman Wafat? Begini Penjelasan KJRI Jeddah

Minggu, 23 Januari 2022 | 11:33 WIB

Microsoft Beli Pembuat Call of Duty Rp987 Triliun

Rabu, 19 Januari 2022 | 21:25 WIB

China Ciptakan Bulan Buatan, untuk Apa?

Senin, 17 Januari 2022 | 08:30 WIB
X