Minim Efek Samping, 2 Calon Vaksin Corona Ini Akan Diuji ke 30 Ribu Pasien

- Jumat, 21 Agustus 2020 | 15:19 WIB

HARIANHALUAN.COM - Mengejutkan, dua vaksin covid-19 yakni Pfizer dan BioNTech mengumumkan akan melakukan studi skala besar vaksin untuk COVID-19. Terlebih, vaksin tipe kedua itu akan diuji pada 30 ribu pasien.

Menurut perusahaan tersebut, vaksin kedua tampaknya menghasilkan tanggapan kekebalan yang serupa, tetapi efek sampingnya lebih sedikit. Pada hari Kamis, mereka mengunggah hasil dari 332 orang yang menerima salah satu vaksin, yang disebut sebagai vaksin B1 atau B2. Memang, penerima B2 mengalami lebih sedikit efek buruk yang terkait dengan vaksin tersebut.

"Jelas, semakin baik toleransi vaksin tersebut, saya pikir itu akan mendorong penerimaan publik terhadap imunisasi yang luas,” kata William Gruber, wakil presiden senior penelitian klinis dan pengembangan vaksin di Pfizer.

"Keduanya akan menjadi kandidat yang hebat. Kami beruntung B2 benar-benar memuaskan karena memiliki profil kekebalan yang baik dan reaksi yang lebih sedikit," tambahnya, dikutip dari laman Stat News.

Studi tersebut menguji dosis masing-masing vaksin mulai dari 10 mikrogram hingga 100 mikrogram. Dosis B2 sebesar 30 mikrogram sedang digunakan dalam uji klinis.


Dengan vaksin asli, yang disebut BNT162b1, atau disingkat B1, pasien yang berusia antara 18 dan 55 tahun mengalami efek samping vaksin sekitar 50 persen pada dosis 30 mikrogram. Mereka yang berusia antara 65 dan 85 memiliki efek samping sekitar 16,7 persen.

Untuk vaksin kedua, BNT162b2, atau B2, pasien antara 18 dan 55 memiliki efek samping sebanyak 16,7 persen, dan tidak ada efek samping yang dianggap terkait dengan vaksin yang dilaporkan pada mereka yang berusia antara 65 dan 85.

Kedua vaksin menggunakan mRNA - pembawa pesan genetik yang digunakan tubuh untuk membuat kode DNA menjadi protein dikemas di dalam kapsul lemak, yang disebut nanopartikel lipid, yang memungkinkannya masuk ke dalam sel. Vaksin B2 membuat keseluruhan protein ini, yang dikenal sebagai protein spike.

Menggunakan protein spike lengkap memungkinkan sistem kekebalan untuk mencari tahu lebih banyak cara untuk mendeteksi dan menyerang virus. Efek samping yang terlacak sebagian besar adalah yang diharapkan dari suntikan vaksin, termasuk nyeri di tempat suntikan, demam, menggigil, sakit kepala, dan nyeri otot atau sendi. Sementara, pasien usia lebih tua tidak ada efek samping bahkan tak melaporkan kemerahan atau bengkak di tempat suntikan. (*)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Filipina Diguncang Gempa Berkekuatan M 6,7

Sabtu, 24 Juli 2021 | 09:19 WIB

Cina Tolak Investigasi WHO, Ada Data Rahasia?

Jumat, 23 Juli 2021 | 07:32 WIB

Pembuat Kartun Nabi Muhammad Dijemput Maut

Kamis, 22 Juli 2021 | 21:55 WIB

China Dihantam Banjir, Puluhan Orang Tewas

Kamis, 22 Juli 2021 | 00:01 WIB
X