Bill Gates Prediksi 6 Vaksin Corona Siap Disuntikkan 2021

Administrator
- Selasa, 8 Desember 2020 | 23:22 WIB

HARIANHALUAN.COM - Bill Gates memperkirakan ada 6 vaksin COVID-19 yang siap didistribusikan pada awal 2021 mendatang. Hal itu ia yakini menimbang kemajuan medis yang terus meningkat dalam memerangi virus COVID-19.

"Saya berharap kita akan memiliki sekitar 6 vaksin yang disetujui (untuk disuntikkan ke masyarakat) pada kuartal pertama (2021)," ujar Gates dalam acara FinTech Festival di Singapura dikutip dari CNBC, Selasa (8/12/2020).

Selain vaksin Pfizer-BioNTech yang sudah lolos uji, Gates bilang kandidat kuat lainnya yang bakal menyusul adalah Moderna, AstraZeneca, Johnson&Johnson, dan Novavax. Keempatnya diyakini sudah bisa mendapatkan otorisasi siap distribusi tersebut dalam beberapa bulan mendatang. Namun, Gates tak menyebut kandidat vaksin keenam yang bakal mendapat persetujuan distribusi.

Untuk diketahui, pekan lalu, Inggris menjadi negara pertama yang memberikan persetujuan penggunaan darurat vaksin Pfizer-BioNTech. Sementara Amerika Serikat melalui Badan Pengawas Makanan dan Obat-obat rencananya memberikan persetujuan serupa pada Kamis (10/12).

Bill Gates melalui Bill & Melinda Gates Foundation telah lama terlibat memberi dukungan terhadap perkembangan vaksin COVID-19. Mereka ingin vaksin tersebut bisa dibagikan secara merata pada seluruh golongan masyarakat di dunia.
"Kami perlu memastikan bahwa kami (mendistribusikan) dengan cara yang adil, bukan seberapa kaya Anda yang menentukan apakah Anda mendapatkan akses ke vaksin ini," ucap salah satu pendiri Microsoft itu.

Bill & Melinda Gates Foundation juga telah melakukan kerja sama dengan Serum Institute asal India, yang merupakan produsen vaksin terbesar dunia secara volume. Serum Institute diinstruksikan untuk mulai memproduksi dan mendistribusikan vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca dan Novavax.

Pemilihan AstraZeneca dan Novavax karena vaksin mereka dikembangkan dengan teknologi vaksin tradisional, artinya vaksin itu dapat disimpan dan dikembangkan dengan biaya yang relatif lebih rendah dibanding dari produksinya Pfizer dan Moderna. Sehingga, kemudian bisa lebih cocok untuk masyarakat di negara-negara yang kurang kaya. 

"Tujuannya adalah untuk mengeluarkan hal-hal ini sebanyak mungkin pada tahun 2021, bahkan di negara berkembang, pandemi akan berakhir pada 2021," imbuhnya. (*)

Editor: Administrator

Terkini

Kim Jong Un Sakit Keras, Disebut Tak Bisa Berbaring

Jumat, 12 Agustus 2022 | 17:57 WIB

Oleksiy Vadatursky, Konglomerat Ukraina Dibom Rusia

Senin, 1 Agustus 2022 | 13:36 WIB

Joe Biden Positif Covid-19 Lagi, Begini Gejalanya!

Minggu, 31 Juli 2022 | 12:21 WIB
X