Desa Wisata | Inilah Definisi Desa Wisata yang Digalakkan Pemerintah dan Patut Kamu Ketahui

- Rabu, 15 September 2021 | 12:00 WIB
Salah satu desa wisata di Bali
Salah satu desa wisata di Bali

Apa Itu Desa Wisata?

Dalam konteks wisata pedesaan, desa wisata merupakan aset kepariwisataan yang berbasis pada potensi pedesaan dengan segala keunikan dan daya tariknya yang dapat diberdayakan dan dikembangkan sebagai produk wisata untuk menarik minat kunjungan para wisatawan ke lokasi desa tersebut.

Sementara, wisata desa adalah kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang menggambarkan orisinalitas desa, baik dari segi sosial ekonomi, budaya, maupun berbagai potensi unik desa yang telah dikembangkan menjadi komponen wisata, misalnya pesona alam desanya yang indah, kuliner khas desa, cendera mata, serta fasilitas tinggal homestay.

Desa wisata pun dibentuk untuk memberdayakan masyarakat, sehingga bisa berperan langsung dengan meningkatkan kesiapan dan kepedulian dalam menyikapi potensi dan daya tarik pariwisata di wilayah mereka.

Desa wisata juga merupakan komunitas atau masyarakat yang terdiri atas penduduk suatu wilayah terbatas yang saling berinteraksi secara langsung di bawah naungan pengelolaan, serta memiliki kepedulian dan kesadaran bersama untuk menyesuaikan keterampilan individual yang berbeda.

Manfaat utama dari desa wisata adalah warga di desa tersebut akan menjadi rukun dan sangat toleran satu sama lain. Solidaritas juga akan menguat, karena timbulnya rasa tanggung jawab bersama pada diri mereka untuk menciptakan desa yang aman dan nyaman bagi orang-orang yang datang ke desa.

Apa Saja Komponen Desa Wisata?

Berikut ini komponen pembentuk desa wisata, antara lain:

1. Batasan geografis ataupun administratif yang jelas.

2. Potensi daya tarik wisata, baik alam, budaya, maupun karya kreatif sebagai unsur penarik kunjungan wisatawan.

3. Rasa antusias dan dukungan dari masyarakat dalam pengembangan desa wisata.

4. Fasilitas pariwisata sebagai unsur pendukung wisatawan dalam berkegiatan wisata di desa tersebut, seperti akomodasi atau homestay, warung makan yang dikelola oleh masyarakat setempat, serta pusat informasi wisata.

5. Sarana prasarana berupa jaringan jalan serta moda angkutan wisata, yang mendukung kemudahan wisatawan dalam mencapai desa tersebut.

6. Organisasi pengelolaan desa wisata, yang berfungsi sebagai unit pengelola kegiatan wisata di desa tersebut, misalnya merencanakan, melaksanakan, mengelola, serta mengevaluasi atau memantau kegiatan pengembangan.

7. Sumber daya manusia sebagai motor penggerak pengelolaan kegiatan wisata di desa tersebut.

Dalam mengembangkan desa wisata, sangat penting terlebih dahulu memahami potensi dan perkembangan yang sudah ada di desa wisata tersebut. Sehingga, strategi dan program yang akan datang bisa disesuaikan dengan tingkat perkembangannya di desa tersebut.

Daya tarik wisata bisa berupa potensi alam misalnya gunung, danau, sungai, pantai, ataupun laut, potensi budaya yaitu adat istiadat, museum, benteng, serta situs peninggalan sejarah, serta potensi buatan manusia.

Selain itu, daya tarik wisata bisa berwujud bentang alam, yaitu objek alam, budaya, ataupun buatan manusia yang dilatarbelakangi oleh pemandangan alam. Contohnya, Pura Batu Bolong dengan pemandangan lautnya, Pura Gunung Penataran Gunung Rinjani dengan Gunung Rinjani, atau hamparan persawahan Sembalun dengan pegunungan sekitar.

Apa Itu Tiga Tahap Perkembangan Desa Wisata?

Berdasarkan Tourism Life Cycle dan Product Life Cycle, tingkat perkembangan desa wisata sebagai salah satu produk wisata dikelompokkan menjadi tiga tahap utama.

1. Tahap embrio atau berpotensi

Pada tahap ini, sebuah desa bercirikan masih berwujud potensi yang bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata, terbatasnya pengembangan sarana prasarana wisata, belum ada kunjungan wisatawan, serta belum tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap potensi wisata.

2. Tahap berkembang

Pada tahap ini, sebuah desa bercirikan sudah mulai dikenal orang dan dikunjungi wisatawan, terdapat pengembangan sarana prasarana dan fasilitas pariwisata, mulai tercipta lapangan pekerjaan dan kegiatan ekonomi bagi masyarakat setempat, mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap potensi wisata, serta masih butuh bimbingan dari pihak terkait seperti pemerintah dan swasta.

3. Tahap maju

Pada tahap ini, sebuah desa bercirikan sudah menjadi destinasi wisata yang populer dan dikunjungi oleh banyak sekali wisatawan, layaknya sarana prasarana dan fasilitas pariwisata, masyarakat sudah mandiri dan mampu mengelola usaha pariwisata secara swadaya, serta terbentuk sepenuhnya masyarakat yang sadar potensi wisata, mampu membangun jaringan promosi dan pemasaran secara swadaya maupun kerja sama dengan pihak luar, secara mandiri mampu melakukan kegiatan pengembangan kapasitas secara internal misalnya SDM, produk, organisasi, serta bisa menjadi model percontohan bagi pengembangan desa-desa wisata lainnya.

Itulah 

 

Halaman:

Editor: Hisni Munafarifana

Tags

Terkini

Pare Ampuh Atasi Jerawat, Bisa Dijadikan Masker Wajah

Minggu, 17 Oktober 2021 | 18:58 WIB

Mengenal Kolagen dan 5 Manfaatnya untuk Kecantikan

Minggu, 17 Oktober 2021 | 18:06 WIB

Cara Turunkan Kolesterol Tinggi Tanpa Harus Minum Obat

Minggu, 17 Oktober 2021 | 05:10 WIB

Terpopuler

X