Peringatan LPPOM MUI: Sirup Sajian Istimewa saat Puasa dan Lebaran Bisa Saja Haram

- Kamis, 20 Agustus 2020 | 23:56 WIB

HARIANHALUAN.COM - Sirup merupakan minuman yang kerap hadir dalam sebuah perjamuan. Di setiap rumah Muslim,  pada hari raya, pasti telah tersedia minuman sirup. Bahkan aneka minuman dengan campuran sirup biasanya menjadi minuman istimewa saat berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Saat Lebaran sirup memang disiapkan untuk menyambut para tamu yang datang berkunjung. Sebab tidak enak rasanya, kalau kita hanya menyuguhkan air tawar kepada para tamu pada hari istemewa tersebut. Terlebih,  seorang Muslim diperintahkan untuk menghormati tamunya.

Salah satu bentuk manifestasinya menyuguhkan hidangan makanan dan minuman yang istimewa tamu, termasuk air minum dengan campuran sirup dan es yang segar rasanya. Meski begitu digemari, konsumen Muslim hendaknya hati-hati dalam memilih produk sirup yang akan dikonsumsi. Sebab, produk yang satu ini memiliki titik kritis keharaman yang perlu diwaspadai.

Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia, (LPPOM MUI),  Lukmanul Hakim, mengatakan,bahan terbesar produk sirup adalah air. Namun, kata dia,  untuk membuat sirup diperlukan bahan-bahan lain yang harus ditambahkan, agar sirup terasa makin enak.

Bahan-bahan tambahan yang terkandung dalam sirup antara lain;  gula, garam, konsentrat buah, pewarna, flavor, pengatur keasaman, pewarna, pengawet, stabilizer, dan pemanis buatan. ‘’Saat mengkonsumsi sirup umat Muslim harus berhati-hati, sebab sirup juga mengandung bahan-bahan yang dianggap mempunyai titik kritis keharaman,’’ tutur Lukmanul.

Apa saja bahan tambahan yang memiliki titik kritis keharaman itu?  Menurut Lukmanul, bahan seperti gula, konsentrat buah, flavor, serta pengatur keasaman, dan pemanis buatan memiliki titik kritis keharaman yang perlu diwaspadai setiap konsumen Muslim.

Gula, terang Lukmanul, walaupun berasal dari nabati, status kehalalannya bisa menjadi sumir, bisa halal atau haram. Dalam istilah fikihnya disebut syubhat. Sumber bahan baku gula adalah tebu atau bit. Namun di dalam proses pengolahannya hasil ekstrak tebu atau bit yang halal tersebut bersinggungan dengan bahan tambahan lain yang mungkin tidak halal.

Hal ini lebih banyak terjadi pada gula yang mengalami proses pemutihan. Dalam dunia industri gula jenis ini disebut gula rafinasi. Titik kritis keharaman dari gula rafinasi terletak pada proses refinery, yakni tahap proses yang menggunakan bahan tertentu dalam memutihkan gula tersebut.

Bahan yang dianggap bermasalah dalam proses pemutihan ini adalah penggunaan arang aktif. Dari aspek bahan, arang aktif bisa berasal dari tempurung kelapa, serbuk gergaji, batu bara, atau tulang hewan.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Melihat dan Mendengar Buya Guzrizal Gazahar

Jumat, 23 Juli 2021 | 22:18 WIB

Tiga Langkah Mewaspadai Kecelakaan Mobil

Rabu, 21 Juli 2021 | 23:34 WIB

Bahaya Banget! Ini Risiko Memakai Lampu Neon

Minggu, 18 Juli 2021 | 21:26 WIB
X