Harianhaluan.com

Harianhaluan.com

Kasus Corona RI Rekor Lagi, Jangan-jangan Penyebabnya Ini...

Kasus Corona RI Rekor Lagi, Jangan-jangan Penyebabnya Ini...
Ilustrasi 

HARIANHALUAN.COM -  Penyebaran virus corona (Coronavirues Disease-2019/Covid-19) di Indonesia kian meluas. Penambahan kasus lebih dari 1.000 per hari seakan menjadi rutinitas, sudah biasa.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melaporkan, jumlah pasien positif corona per 2 Juli 2020 adalah 59.394 orang. Bertambah 1.624 orang (2,81%) dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Penambahan pasien yang mencapai 1.624 orang dalam sehari adalah rekor tertinggi sejak Indonesia mencatatkan kasus perdana pada awal Maret. Sementara dari sisi persentase, laju 2,81% adalah yang tercepat sejak 18 Juni. Kurva kasus corona Indonesia jauh dari kata melandai, masih melengkung ke atas. 

"Jika kita melihat kasus positif terkonfirmasi, setelah kami lakukan analisis berdasarkan tingkat hunian rumah sakit tidak ada penambahan signifikan. Tingkat hunian rumah sakit nasional adalah 55%.

Baca Juga : Jaksa Pinangki Diduga Terima Suap Rp 7 Miliar
Baca Juga : Banjir Kritikan, Jaksa Agung Akhirnya Cabut Pedoman Nomor 7 Tahun 2020


"Kasus positif ini dari hasil tracing yang secara agresif dilakukan, ditambah testing yang masif. Sebagian dari konfirmasi positif ini adalah kasus yang tidak memiliki indikasi untuk dirawat di rumah sakit. Ini yang menjadi penting diperhatikan, penambahan kasus yang banyak, tidak selalu dimaknai penambahan pasien di rumah sakit," jelas Achmad Yurianto, Juru Bicara Gugus Tugas.

Kemarin, jumlah spesimen yang sudah menjalani pengujian dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Tes Cepat Molekuler (TCM) mencapai 23.519. Dengan begitu, total spesimen yang sudah diperiksa adalah 849.155.

Indonesia duduk di peringkat teratas di negara-negara ASEAN dalam hal uji corona. Tes yang masif membuat pasien baru menjadi signifikan, sebab kasus yang semula belum terekspos kini muncul ke permukaan.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa perluasan penyebaran virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini akibat semakin mengendurnya disiplin masyarakat Indonesia dalam menjaga jarak. Padahal seperti diketahui, virus corona amat menyukai kerumunan. Virus akan mudah menyebar kala interaksi dan kontak antar-manusia semakin tinggi.

Kedisiplinan dalam menjaga jarak bisa dipantau dari perkembangan Social Distancing Index yang disusun oleh Citi. Semakin angkanya menjauhi nol, berarti masyarakat semakin patuh, semakin berjarak. Sebaliknya jika kian dekat dengan nol, maka masyarakat semakin dekat, tidak taat menjaga jarak.

Pada 27 Juni 2020, skor Social Distancing Index Indonesia ada di -22 sementara sepekan sebelumnya adalah -25. Semakin dekat dengan nol, berarti warga 62 bukannya menjaga jarak tetapi malah semakin ikrib.

Mengendurnya disiplin menjaga jarak di Indonesia terlihat di seluruh tempat yaitu perkantoran, stasiun/terminal transportasi publik, pusat perbelanjaan dan rekreasi, serta pasar swalayan dan rumah obat. Di tempat kerja, tingkat keramaian pada 14 April turun 38% ketimbang hari biasa tetapi pada 27 Juni berkurang menjadi 20%. Kemudian di lokasi transit transportasi massal, tingkat keramaian pada 14 April turun 57% dibandingkan saat normal dan pada 27 Juni berkurang menjadi 40%.

Sedangkan di lokasi perbelanjaan dan rekreasi, tingkat keramaian pada 14 April turun sampai 38% daripada hari-hari biasa dan pada 17 Juni berkurang menjadi 23%. Lalu di pasar swalayan dan rumah obat, tingkat keramaian pada 14 April turun 21% dan pada 27 Juni berkurang menjadi -7%.

"Perlu ada adaptasi kebiasaan baru yang memastikan kita aman dari Covid-19. Selalu upayakan jaga jarak fisik setidaknya lebih dari satu meter, menggunakan masker untuk menghindari percikan droplet orang positif.

"Mencuci tangan adalah hal penting. Kadang menjaga jarak sulit misalnya di transportasi umum, di saat ini gunakan masker, cuci tangan dengan sabun dan air. Permasalahan ini belum bisa diatasi dengan kekebalan buatan dari vaksin," tambah Yurianto. (*)

loading...
 Sumber : CNBC Indonesia /  Editor : Heldi Satria

Ikuti kami di