Logo Harianhaluan

Edhy Prabowo Diduga Gunakan Uang Suap Benih Lobster untuk Beli Tanah dan Parfum Ternama

Edhy Prabowo Diduga Gunakan Uang Suap Benih Lobster untuk Beli Tanah dan Parfum Ternama
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (Ari Saputra/detikcom) 

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - KPK menduga Edhy Prabowo membeli tanah hingga parfum dengan merek ternama menggunakan uang suap ekspor benih lobster atau benur. Penyidik mendalami dugaan tersebut kepada seorang saksi bernama Heryanto.

Heryanto diperiksa penyidik di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, hari ini. Dia hadir sebagai saksi untuk tersanga Edhy Prabowo.

Baca Juga : Enam Polda Jadi Prioritas Penanganan Karhutla

"(Heryanto) didalami pengetahuannya terkait dengan dugaan aliran sejumlah uang yang peruntukannya membeli berbagai aset dan barang mewah di antaranya tanah, parfum dengan merek ternama untuk tersangka EP (Edhy Prabowo)," ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dikutip dari detik.com, Kamis (11/2/2021).

Ali tak membeberkan secara detail berapa luas dan lokasi tanah yang dimaksud. Begitu pun merek parfum ternama yang diduga dibeli Edhy Prabowo.

Baca Juga : Wujudkan Danau Toba sebagai Destinasi Kelas Dunia, Pangdam I/BB Tertibkan KJA di Baktiraja

Sebelumnya, KPK telah mengungkap Edhy Prabowo diduga memakai uang suap untuk membeli barang mewah, seperti jam tangan Rolex, tas LV, baju Old Navy, dan sepeda di Amerika Serikat.

Duit itu juga diduga digunakan untuk membeli, mobil, wine, tanah, dan sewa apartemen hingga memodifikasi mobil. Edhy Prabowo ditetapkan KPK sebagai tersangka penerima suap dalam kasus ini. Dia dijerat bersama enam tersangka lainnya.

Enam orang tersebut adalah Safri sebagai mantan staf khusus Edhy Prabowo dan Andreau Pribadi Misanta, Siswadi sebagai pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Ainul Faqih sebagai staf istri Edhy Prabowo, Amiril Mukminin sebagai sekretaris pribadi Edhy Prabowo, serta Suharjito sebagai Direktur PT DPP.

KPK menduga PT DPP yang merupakan calon eksportir benur memberikan uang kepada Edhy Prabowo melalui sejumlah pihak, termasuk dua stafsusnya.

Dalam urusan ekspor benur ini, Edhy Prabowo diduga mengatur agar semua eksportir melewati PT ACK sebagai forwarder dengan biaya angkut Rp 1.800 per ekor.

Suap untuk Edhy Prabowo itu diduga ditampung dalam rekening anak buahnya. KPK telah melakukan sejumlah penggeledahan terkait kasus ini. Antara lain di kompleks rumah dinas DPR hingga gedung KKP. (*)

Editor : Milna Miana | Sumber : Detik.com