Harian Haluan

Harianhaluan.com

Disebut Seperti Orang Mabuk, Budi Membantah

Disebut Seperti Orang Mabuk, Budi Membantah
 

Padahal, razia itu digelar POM TNI AL dan Propam Polri atas perintah Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko. “Mereka seperti orang mabuk karena mereka seolah-olah tidak peduli dengan situasi. Kalau normal kan bisa tahu ada operasi dan koor­dinasi sama kita,” terang Manahan, Minggu (8/2).

Dikatakan, saat hendak di­perik­sa, kedua perwira Polri itu tak mau menunjukkan identitas. Setelah ditangkap, mereka baru mengaku sebagai anggota Polri. “Setelah di­tang­kap, mereka baru bilang Polri. K­it­a sempat ajukan saran untuk tes urine tapi mereka nggak mau. Kita ada kok bukti-bukti, foto lengkap,” ucap Manahan.

“Nggak apa-apa kalau memang tu­gas, tapi kenapa nggak ngaku. Me­re­ka laporannya cuma berdua, kalau kita ada 48 orang karena memang lagi operasi. Ada dari Propam juga, kita memang lagi penegakan keter­tiban gabungan,” ujar Manahan.


Manahan membenarkan adanya pemukulan terhadap 2 perwira polisi itu. Namun hal tersebut terpaksa dilakukan karena petugas razia gabungan membela diri.

“Pemukulan itu untuk membela diri karena mereka mengacungkan pistol. Mereka membentak saat diperiksa, dan mengacungkan pistol sehingga petugas membela diri. Akhirnya diamankan. Lalu dilak­sanakan koordinasi dengan Polri dan diserahkan ke kesatuannya. Saya ingin meluruskan, nggak ada kok kita gimana-gimana sama Polri. Orang kita langsung koordinasi dengan Polri,” imbuh Manahan.

Budi Bantah

Sementara itu, Kompol Budi Hermanto, salah seorang yang men­jadi korban penganiayaan, mem­bantah hal itu. “Saya selama 15 tahun dinas, tidak pernah membawa senja­ta api ke mana pun saya pergi. Kemu­dian yang kedua, laptop kami masih terbuka, kami lagi kerja,” ujarnya.

Budi menambahkan, tuduhan mabuk, buang narkoba, semua itu semua tidak benar.

“Diminta tes urine pagi. Saya sudah tes urine di Dokkes Polda (Polda Metro Jaya), itu untuk proses penyidikan laporan ke polisi juga. Saya membantah, selama 15 tahun saya dinas, tak pernah membawa senjata api ke mana pun. Bahkan senpi itu ada di dalam tas dan itu dirampas, tidak keluar (senpinya),” jelas Budi.

Ditegaskan Budi, tas yang di dalamnya berisi senjata api itu adalah milik Kompol Teuku Arsya Khadafi. Kompol Arsya sempat tarik menarik tas dengan personel TNI AL itu hingga talinya putus.

Budi membenarkan bahwa cin­cin emas Bulgary milik Arsya hi­lang. “Iya itu cincin sampai detik ini hilang benar. Kami minta di sana, nggak ada yang mengakui. Kami tarik-tarikan tas sampai putus tali­nya,” jelas Budi.

Rekan Budi, Arsya, sekarang masih dirawat di suatu rumah sakit. Budi pun berencana melaporkan personel TNI AL itu karena diper­lakukan tidak wajar. Laporan akan dilakukan ke Mabes POMAL.

Budi menyayangkan kehadiran kolonel AL itu malah mem­pro­vokasi anggota. Padahal, bawa­han kolonel itu sudah sudah berbicara dengan Budi dan rekannya dan dianggap selesai.

“Hadirnya kolonel di dalam situ membuat anggota terprovokasi. Seorang kolonel seharusnya punya wibawa,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Bi­dang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Martinus Sitompul mengatakan, kasus itu akan dibuatkan laporan secara pidana. Langkah tersebut diambil karena mereka sebagai korban telah mengalami luka berat akibat keja­dian tersebut. “Kami menyerahkan kasus ini ke POM TNI untuk diusut tuntas,” ucap Martinus menam­bahkan. (hr/bbs, dtc, kom, sis)



Ikuti kami di