Harian Haluan

Harianhaluan.com

Terpidana Mati “Bali Nine” Belum Dipindah ke Nusakambangan

Terpidana Mati “Bali Nine” Belum Dipindah ke Nusakambangan
 

Menurut dia, Lapas Den­pasar hanya sifatnya menung­gu perintah dan sampai saat ini belum ada kepastian rencana pemindahan kedua terpidana asal negeri Kangguru tersebut.

Sejak penolakan memori Peninjauan Kembali (PK) kedua terpidana tersebut, se­jum­lah keluarga mereka se­cara rutin melakukan besuk ke lapas terbesar di Pulau Dewata tersebut.

Kedua keluarga terpidana mati melakukan kunjungan secara rutin dua kali dalam sehari.

Kelompok “Bali Nine” terdiri atas sembilan warga negara Australia yang ditang­kap pada 17 April 2005 di Bali karena berupaya menye­lun­dupkan heroin seberat 8,2 kilogram dari Australia.

Pengadilan Negeri Den­pasar memvonis Lawrence, Czugaj, Stephens, dan Rush dengan hukuman seumur hi­dup, sedangkan Myuran Suku­ma­ran dan Andrew Chan di­hukum mati.

Dikunjungi Komnas HAM

Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai, mengu­n­­jungi dua terpidana mati “Bali Nine”, Myuran Suku­ma­ran dan Andrew Chan. Setelah bertemu, dia menilai, kedua­nya telah menjadi mentor yang baik selama di dalam lapas.

“Saya bertemu dengan An­drew dan Myuran dan saya sampaikan simpati saya kepa­danya. Ada doa terbaik (untuk mereka). Saya berkesimpulan bahwa mereka telah menjadi mentor yang baik, dan mem­berikan sumbangsih yang cu­kup besar, terutama bagi rakyat kita,” kata Natalius, Selasa (24/2).

Natalius juga menyam­pai­kan, bahwa keduanya telah menghasilkan seribuan karya sejak tahun 2008, berupa luki­san dan karya dari sejumlah pelatihan yang berkaitan dengn kemahirannya, seperti melukis, memasak dan menjadi pem­bimbing gereja dalam lapas.

Kehadiran Komisioner Ko­m­nas HAM ini diharapkan bisa memberikan pertim­ba­ngan baru kepada Presiden Joko Widodo untuk membe­rikan pengampunan bagi ke­dua­nya sehingga terbebas dari hukuman mati. Ketika ditanya apakah ada pesan khusus dari mereka, Natalius menjawab singkat. “Itu rahasia,” ujarnya. (h/kcm)

Ikuti kami di