Harian Haluan

Harianhaluan.com

Temukan Katak Beranak Hingga Cicak Batik

Temukan Katak Beranak Hingga Cicak Batik
 

“Pada tahun 1978, saya menemukan katak yang diberi nama Barbourula kaliman­tanensis. Katak primitif ini biasanya di Eropa, ternyata ada di Indonesia, tepatnya di Ka­limantan Barat-Kalimantan Tengah (Sungai Pinuh, Mela­wai, Seruyan),” kata Djoko.

“Ini merupakan penemuan terbesar, jenis katak ini spe­siesnya ada 8, saya temukan yang ke-9,” sambungnya.

Selain itu, Djoko juga per­nah menemukan spesies katak unik lainnya di Kalimantan pada tahun 2008. Awalnya dia curiga karena katak itu setelah ditangkap, lalu ditaruh di ember, mati. Ternyata, itu adalah katak kepala pipih.

“Katak kepala pipih itu ternyata nggak memiliki paru-paru. Itu geger dunia. Jenis katak tersebut satu-satunya di dunia yang tidak punya paru-paru, bernafasnya menggu­nakan kulit,” tambah Djoko. Katak Barbourula kali­mantanensis dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 6 Mei 2008.

Khusus untuk katak di atas, pria kelahiran Bandung, 23 Agustus 1950 ini, khawatir dengan keberadaannya. Sebab, populasinya minim. “Saya khawatir habitatnya hancur dan terancam punah karena daerah logging dan pertam­bangan. Terkena polusi sedikit, katak itu bisa habis. Katak ini hanya hidup di air,” tam­bahnya.

Untuk mencari katak tanpa paru-paru tersebut, Djoko sempat kesulitan, bahkan sampai harus membongkar batu seberat 5-10 kilogram. Butuh waktu satu malam un­tuk mendapatkan dua katak.

“Saya sampai gemetaran kedinginan karena kondisi airnya dingin. Sekarang kalau kita bawa katak itu, keburu mati di perjalanan. Ya kecuali kalau bisa nyewa helikopter,” ceritanya.

Selain katak, Djoko juga menemukan cicak bermotif batik. Menurutnya, cicak terse­but memiliki motif paling indah. “Saya menemukan ci­cak di daerah Sulawesi (Gu­nung Tompotika di wilayah Sulteng). Spesies cicak beng­kok ini diberi nama Cyr­todactylus batik. Ini cicak paling indah. Polanya seperti batik. Saya merasa bangga menemukan cicak batik itu,” ung­kapnya. Penemuan ini di­pu­blikasikan di jurnal Zootaxa pada 29 April 2011. (h/net)

Ikuti kami di