Logo Harianhaluan

Penjualan Batu Nisan Menurun

Penjualan Batu Nisan Menurun
 

Ziarah kubur men­jelang puasa, merupakan berkah tersendiri bagi para penjual kembang dan wewangian, karena disaat ini mereka akan panen rezeki dari pen­jualan dagangan mereka, bahkan penjual batu ni­san­pun ikut merasakan manisnya rezeki dari para pembeli dan peme­san yang akan berziarah kemakam keluaraga me­reka.

Baca Juga : Waspada! Krisis Covid-19 India Menjalar ke Tetangga, Asia Selatan Dibayangi Bencana

Namun tidak dengan tahun sekarang, peng­rajin batu nisan yang dulunya meraup untung dari para penziarah, se­ka­rang malahan mereka gigit jari atau paceklik orderan semenjak tiga bulan terakhir.

Rosmadi salah seo­rang pengrajin batu nisan di Desa Pauh Barat Ke­camatan Pariaman Te­ngah, Kota Pariaman, mengatakan pada Ha­luan, untuk tahun ini semenjak tiga bulan je­lang ramadhan hingga sekarang penjualan batu nisan sepi pembeli, pada­hal lokasi pembuatan batu nisan miliknya ber­hadap-hadapan langsung dengan pemakaman umum milik VII Koto Nagari Air Pampan.

Baca Juga : Arab Saudi Tegaskan Belum Ada Instruksi Resmi tentang Haji Tahun Ini

“Semenjak berusaha mencetak batu nisan dari tiga puluh tahun yang lalu, baru kali ini saya merasakan sepinya pem­beli jelang ramadhan, padahal para penziarah tidak berkurang setiap tahunnya, malahan ber­tambah, padahal batu nisan yang saya kerjakan secara manual ini di jual lebih murah dengan ku­alitas tetap bagus,” ungkap Rosmadi pada Haluan kemarin.

Ia juga menuturkan sebelum memburuknya situasi ekonomi indo­nesia, dalam satu hari ia mampu menjual 5-6 pa­sang, batu nisan kepada pembeli yang sudah dipesan dari jauh-jauh hari, oleh keluarga yang akan melakukan ziarah kubur.

Untuk harga Ros­ma­di menjual batu nisan yang berukuran sedang seharga Rp450.000/satu pasang, dan ukuran besar maksi­mal harganya Rp900.­000/pasang, meskipun harga yang dipatok untuk satu pasang batu nisan jauh lebih murah dari tempat yang lain, namun se­menjak beberapa ming­gu belakangan, dalam satu hari hanya terjual satu pasang.

“Kita sangat ber­ha­rap pada pemerintah, untuk segera memu­lihk­an keadan ekonomi ini secepat mungkin, karena yang paling terkena dam­pak macetnya pereko­nomian negara adalah masyarakt kecil, con­tohnya, saya ini, selain membuat batu nisan usa­ha sampingan hanya me­laut, namun cuacapun beberapa hari ini sering extrem, sementara kebu­tuhan 4 orang anak dan istri harus dipenuhi se­tiap hari, apalah daya sekarang usaha macet, melautpun cuaca tidak mengizinkan, “tutup Rosmadi mengeluhkan. (h/mg-man)