Harian Haluan

Harianhaluan.com

Usul Penutupan Pabrik Gula

Anggota DPR Dinilai Asal Bunyi

Anggota DPR Dinilai Asal Bunyi
 

JAKARTA, HALUAN — Ketua In­donesia Sugar Watch (ISW), Gatot Triyono menilai pernyataan anggota Komisi IV DPR RI, Abdul Wachid yang mendesak pemerintah menutup sembilan industri gula rafinasi asal bunyi, tanpa solusi dan berpotensi  akan membunuh industri makanan dan minuman nasional.

Gatot mencurigai pernyataan Wachid merupakan pesanan para importir gula putih untuk membar­gain pemerintah membuka kran im­port gula putih sebagai usaha untuk meng­impor gula putih secara lang­sung.

“Padahal impor gula putih tersebut tidak memberikan value added un­tuk industri dalam negeri, karena tidak melalui proses rafinasi menjadi gula putih dan menambah beban devisa negara,” kata Gatot di Jakarta, Kamis (7/4).

Menurutnya, gula impor yang tanpa proses itu tidak terjamin kandu­ngan ICUMSA, sehingga bisa memba­hayakan kesehatan masyarakat yang mengkomsumsinya. “Gula impor ini juga, akhirnya akan menghancurkan pabrik gula milik BUMN dan men­jatuhkan harga panen tebu petani dan nasib petani tebu makin mera­na,” katanya.


Gatot menyarankan pemerintah Jokowi untuk membiarkan 11 indus­tri gula rafinasi tetap memproduksi gula kristal sampai dengan tumbuhnya pabrik-pabrik gula milik BUMN. Dari proyeksi kebutuhan gula nasional pada tahun 2015, kebutuhan gula nasional mencapai 5,77 juta ton, maka kebutuhan gula nasional 2016 akan meningkat sebesar sebesar 5,97 ton. Sementara jumlah produksi nasional untuk tahun 2016 akan menurun mendekati 2  juta ton  dibandingkan produksi tahun 2015 yang sebesar 2.9 juta ton.

“Dengan kondisi ini, keberadaan industri gula rafinasi sangat dibutuh­kan. Jadi, pernyataan anggota DPR tersebut menunjukan ketidakpekaan dengan dampak jika 11 industri rafinasi gula ditutup,” katanya.

Dijelaskan Gatot, produksi gula 2016 juga diakibatkan oleh el nino pada 2015 dan pada akhirnya berdam­pak pada capaian produksi gula 2016. Tanaman tebu baru yang ditanam pada awal 2015 mengalami stagnasi per­tumbuhan akibat kekurangan pasokan air. Akibatnya produktivitas berpo­tensi menurun dari 67,6 ton/ha pada 2015 menjadi 64 ton /ha pada tahun ini.

Akibat produksi gula yang terus anjlok ini, kebutuhan gula nasio­nal untuk konsumsi langsung sekitar 3 juta lebih ton tidak cukup untuk dipenuhi oleh produksi dalam negeri. “Maka, jika 11 industri gula raginasi asal ditutup, maka akan terjadi kelang­kaan gula nasioanal dan menyebabkan hancurnya jutaan industri usaha kecil menengah yang menghasil­kan ma­kanan minuman,” ujarnya.

Sebelumnya Wakil Ketua Panitia Kerja Gula DPR, Abdul Wachid meminta pemerintah mengevaluasi keberadaan sembilan dari 11 industri gula rafinasi yang izin operasionalnya sudah habis.

Pernyataan tersebut disampaikan dihadapan Dewan Pembina dan DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indo­nesia (APTRI), serta Direksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI, PTPN X, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), dan PT Kebon Agung selaku mitra strategis petani tebu di Surabaya pada 21 Maret 2016. (h/sam)



Ikuti kami di