Harian Haluan

Harianhaluan.com

Sungai Batanghari, Kekayaan Alam yang Terabaikan

Sungai Batanghari, Kekayaan Alam yang Terabaikan
PARA pengunjung wisata budaya harus menyeberangi Sungai Batanghari, untuk dapat sampai ke wisata candi yang ada di seberang sungai. (MARYADI) 

Bola mata Dah­rizal ber­kaca-ka­ca ketika me­ngi­n­tip kemenakan­nya,  Juleha, dara manis yang tengah mandi sore di aliran Sungai Batanghari yang mem­ben­tang dan mem­belah di Na­gari Sungai Dareh Keca­matan Pulau Punjung Kabu­paten Dhar­masraya.

Dari balik unggukan kayu, lelaki paruh baya ini melihat bebas kain basahan nan sering tersibak. Air sungai mengalir deras, mes­ki warna airnya keruh ber­campur tanah. Semalam, hujan baru saja meng­guyur bumi mekar, se­hing­ga permukaan air bertambah.

Batanghari merupakan sungai historis. Orang Belanda me­nyebutnya Batanghari Districten. Batanghari yang mengalir ke Jambi dan bermuara di Selat Berhala, diduga tercemar oleh kandungan merkuri. Batanghari riwayatmu. Oh...

Sungai nan berhulu dari Bukit Barisan itu, berabad-abad mengalir tanpa makna. Padahal, bila dihitung investasi sungai tertua itu, tiap detik mencapai miliaran rupiah. Begitu besar manfaat yang dijanjikannya. Pada tahun 2012 lalu, tercatat atau termanfaatkan 11 liter/detik. Investasi Batanghari begitu men­janjikan akan kemakmuran bagi rakyat Dharmasraya. “Tapi, kini semua sirna. Karena, pence­maran air Batanghari sudah di ambang batas,” ucap Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Dharmasraya, Ir. H. Benny Mukh­­tar MM., dalam suatu wak­tu di ruang kerjanya.

Benny Mukhtar, salah seo­rang kandidat kuat yang diga­dang-gadangkan bakal memim­pin Kota Gelamai atau Kota Payakumbuh, mengemukakan, pencemaran sungai ini sudah di ambang batas dan mengkha­watirkan.

“Solusinya harus ada aksi nyata dan tindakan tegas dari Pemprov Sumbar, Pemkab So­lok, Solok Selatan dan Kabupaten Dhar­masraya, untuk mengem­balikan kejernihan sungai itu seperti dahulunya,” terang man­tan Wakil Walikota Payakum­buh itu.

Sekadar informasi, pada ta­hun 1977 silam, datang warga transmigrasi dari Pulau Jawa. Jumlahnya sekitar 4 ribu kepala keluarga (KK). Namun, setiba di bumi cati nan tigo, impian mas­yarakat Suku Jawa itu, pupus sudah. Ini lantaran belum adanya irigasi untuk mengolah perta­nian, terutama sawah dan perikanan.

Akhirnya, impian tersebut baru bisa ditebus pada tahun 1996 lalu. Yakni, rencana gadang untuk membendung Batanghari, terutama sekali untuk keperluan irigasi. Malah, saluran irigasi itu juga dimanfaatkan masyarakat tetangga seperti Kabupaten Bu­ngo dan Tebo. Data mencatat ada 18.963 hektare sawah di ranah ini dan sisanya sekitar 3.000 hektare di Provinsi Jambi.

“Jadi, itulah Batanghari yang mempunyai impian untuk me­ngangkat harkat dan derajat peta­ni lewat program turun ke sa­wah,” ucap Sekdakab Benny berkisah.

Kala itu, penduduk transmi­grasi Dharmasraya dihuni warga berasal dari Provinsi Jawa Te­ngah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sumatera Barat sendiri atau lebih dikenal dengan sebutan transmi­grasi lokal. “Transmigrasi lokal umumnya warga korban galodo,” ucapnya lagi.

Setelah pembangunan ben­dungan tuntas pada tahun 2002, maka bendungan dengan lebar 150 meter dan tinggi 12,1 meter difungsikan. Yaitu, mengaliri ke sebuah bak besar dengan saluran sepanjang 15 kilometer.

Menyikapi bendungan yang telah selesai dibangun, pemerin­tah waktu itu melakukan cetak sawah baru. Kemudian, mem­bangun saluran irigasi. Waktu itu, dibangun irigasi Sungai Dareh yang didukung oleh Ben­du­ngan Piruko dan Bendungan Siat dengan kapasitas air 15,50 M3 perdetik.

Menurut Benny, aliran Ba­tanghari berhulu di Kabupaten Solok Selatan. Asal muasal aliran Batang Suliti yang kemudian bergabung menjadi Batang Sa­ngir, Muaro Sangir dan Batang Gumanti. “Menjadilah Ba­tang­hari,” jelas Sekdakab.

Dulu, timpal Syaiful, salah seorang warga menyatakan, se­pan­jang aliran Batanghari banyak ikan yang bisa ditemui dengan mudahnya. Bahkan, saking jer­nihnya air sungai, ikan-ikan seperti Soma, Baung, Patin, Ikan Lanpam mudah diperoleh. Selain jinak, ikan tersebut juga enak dan manis dagingnya. “Kini, hanya tinggal cerita dan kenangan saja,” papar Syaiful.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Dhar­masraya, dr. Rahmadian, men­jelaskan, pencemaran air Ba­tanghari sudah di ambang batas, atau sudah melebihi batas to­leransi. “Sudah sangat berbahaya bagi kesehatan manusia,” tegasnya.

Ia juga mengakui bahwa ka­lau dampak terhadap kesehatan manusia, untuk saat ini belum akan nampak. Karena, reaksi dari kandungan mercuri adalah sepu­luh tahun ke depan. “Manusia itu akan mengalami penyakit lum­puh layu atau otak tidak ber­fungsi,” imbuhnya.

Orang yang terkena penyakit tersebut,  seperti orang sakit stroke, tapi otaknya tidak ber­fungsi. Hal itu dapat dilihat di Teluk Buyat, Sulawesi atau di Teluk Mina Mata Jepang. “Sam­pai saat ini, masih hidup orang-orang yang terkena dampak dari pencemaran air tersebut. Sebagai saksi sejarah,”ujarnya.

Ia melalui berbagai fasilitas yang ada sudah menyampaikan kepada masyarakat serta sudah mengajak masyarakat dengan hati nurani, agar tidak melakukan pencemaran terhadap lingkungan seperti sungai.

Sebab, menurutnya lagi, lebih parah krisis air dari pada krisis minyak. Karena  krisis air me­nyangkut kehidupan manusia, namun  kalau krisis minyak hanya akan berdampak kepada ekonomi saja.

Menyikapi persoalan Batang­hari itu, baik Benny Mukhtar maupun Rahmadian, sepakat melakukan penertiban dengan melibatkan semua pihak. Pener­tiban dilakukan dengan serius dan bersama-sama memerangi praktik illegal mining. “Perlu keterlibatan dan keseriusan se­mua pihak untuk mengatasi pen­cemaran Sungai Batanghari,” ucap Benny.

Manfaat dari bebasnya Ba­tang­hari dari pencemaran, diya­kini mampu membuat kehidupan baru di Dharmasraya. Mulai dari pemanfaatan cetak sawah, cetak kolam, intek air minum dan menjadikan wisata air bumi mekar dengan beragam per­mainan dan keunggulan.

Bahkan, kalau air Batanghari steril, pemasukan daerah bertam­bah besar, selain memanfaatkan potensi lainnya. Apalagi, salah satu objek wisata budaya yang ada, pengunjung harus mengarungi derasnya Sungai Batanghari un­tuk dapat sampai ke seberang guna melihat keindahan candi candi.  ”Jangan lupa melakukan program merehabilitasi serta melakukan penghijauan di dae­rah aliran sungai (DAS),” papar­nya sambil menyebut, banyak pengembangan eko sistem,  ikan, pertanian, air minum yang tak lagi terbuang percuma.

Ke depan tukuk Rahmadian, BLH sudah punya program mem­buat taman buah sepanjang aliran Sungai Batanghari yang berada di Kabupaten Dharmas­raya, yang mana untuk sampai ke taman buah tersebut, pengunjung dapat melalui air dan darat, begitu pula berbagai festival akan digelar di sekitar aliran Sungai Batanghari. “Semuanya itu tu­juan­nya adalah untuk “mengusir” para penambang liar yang beraksi di sungai itu,”katanya meng­akhiri.***

 

Oleh: MARYADI

Ikuti kami di