Harian Haluan

Harianhaluan.com

Kubik Koffie, Bisnis yang Ditunjang Gaya Hidup Urban

Kubik Koffie, Bisnis yang Ditunjang Gaya Hidup Urban
KUBIK Koffie di Jl. Olo Ladang No.12, Padang.  

PADANG, HALUAN — Pada dasarnya, Kubik Koffie didirikan karena hobi pe­miliknya yang merupakan penikmat kopi. Dari sisi bisnis, kedai kopi tersebut dibangun karena melihat pasar penikmat kopi di Pa­dang yang muncul atas doro­ngan gaya hidup urban.

“Kalau pergi ke sebuah tempat, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, yang saya cari adalah kopi. Karena hobi minum kopi, saya ber­pikir, kenapa tidak saya buat sa­ya kedai kopi sendiri. Atas da­sar itu, saya mendirikan Ku­bik pada Oktober 2014,” ujar Yan Partawijaya (45), pe­milik Kubik Koffie saat me­ngobrol dengan Haluan di ke­dai ter­sebut, Jl. Olo La­dang No. 12, Padang, Selasa (19/7).

Ia melihat bahwa in­dustri ko­pi di Padang baru ber­kem­bang 4 tahun bela­kangan, atau 2 tahun te­rakhir untuk per­kembangan yang sig­nifi­kan karena gaya hidup urban ta­di. Salah satu faktor mun­cul­nya gaya hi­dup urban itu karena doro­ngan media. Per­kem­bangan tersebut ia lihat da­ri ber­tam­bahnya kedai kopi ber­kon­sep kekinian dan se­ma­kin banyaknya penikmat kopi. 

Dari sana, ia membangun kedai kopi dengan konsep berbeda untuk segmen yang berbeda pula. Ia memembuat kedai tersebut dengan tiga konsep. Pertama, ruang ter­bu­ka untuk tempat mengo­brol sambil mengopi. Seg­men yang disasar adalah anak-anak muda, seperti pe­lajar dan mahasiswa. Ke­dua, ruang pertemuan, se­buah ruang tertutup berpe­ngatur udara. Segmen yang disasar pekerja kantoran. Ketiga, ruang untuk komu­nitas, de­ngan sasaran anak-anak mu­da anggota komu­ni­tas.

Di kedai itu terdapat fa­si­litas, yakni ruang perte­mu­an, miniteater untuk pe­mu­ta­ran film, galeri seni ru­pa, per­pustakaan, dan wifi. De­ngan adanya fasilitas gratis yang diberikan untuk pe­ngunjung itu, kata Yan, ia mem­buat kedai itu sebagai tempat mengopi yang edu­ka­tif.   

Meski membuat konsep kedai kopi dengan segmen pasar yang sedemikian jelas, namun Yan mengaku tak memikirkan ramai atau ti­dak­nya kedai tersebut saat ber­diri karena ia mendirikan kedai kopi berdasarkan hobi. Faktanya, kedai tersebut memiliki banyak pengunjung setiap hari. Jefry, Manager Kubik Koffie mengung­kap­kan, setiap hari rata-rata terjual 100 gelas kopi, teh, cokelat, dan mojito & smoo­thies. Yang dominan adalah penjualan kopi.

“Penjualan meningkat kalau hari Sabtu karena pe­ngunjung juga banyak,” ujar Jefry yang merupakan po­nakan Yan.

Kopi yang dijual Yan di Kubik dibelinya dari pe­masok kopi dari Jakarta. Kopi tersebut adalah cam­puran Arabika dan Robusta yang diracik oleh barista Kubik untuk menemukan rasa kopi khas Kubik.

“Karakter kopi Kubik, bodi kopinya kuat, kopinya lebih pekat,” ujar Yan yang merupakan dosen di Ju­rusan Teknik Sipil, Fa­kultas Poli­teknik, Uni­ver­sitas Andalas.

Ia menambahkan, di Ku­bik terdapat 20 ragam minu­man kopi, 7 macam minuman the, 6 jenis minuman cokelat, dan 3 variasi mojito & smoo­thies. Tiga minuman selain kopi tersebut disediakan untuk pengunjung yang tak menyukai kopi, misalnya pengunjung perempuan. De­ngan demikian, Kubik men­dapatkan semua segmen pa­sar. (h/dib)



Ikuti kami di