Harian Haluan

Harianhaluan.com

TdS dan Olahraga Prestasi

TdS dan Olahraga Prestasi
 

Sejak tahun 2009, Tour de Singkarak (TdS) telah digelar. TdS merupakan kejuaraan balap sepeda resmi dari Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International) yang diselenggarakan setiap tahun di Sumatera Barat. Kejuaraan yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 ini merupakan balapan jalan raya jarak jauh yang umumnya diadakan sekitar bulan April hingga Juni dan berlangsung selama seminggu. Kejuaraan ini telah menjalin kerjasama dengan Amaury Sport Orga­nisation yang menjadi penyelenggara Tour de France di Perancis.

Tour de Singkarak diselenggarakan untuk pertama kali oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia pada tahun 2009. Dipandang sukses dari segi peyelenggaraan, menjadikan ajang balap sepeda ini sebagai salah satu kejuaraan balap sepeda resmi Persatuan Balap Sepeda Internasional di kelas 2.2 Asia Tour.

Sehingga selain didukung oleh Kemen­terian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Tour de Singkarak juga diperkuat dengan dukungan APBD provinsi dan kabupaten atau kota yang daerahnya dilalui oleh peserta.

Hal ini disebabkan setiap daerah yang menjadi bagian dari tahapan perlombaan balap sepeda Tour de Singkarak mempunyai peran cukup besar dalam mengenalkan daerahnya. Sehingga jumlah kabupaten dan kota yang menjadi jalur lintasan Tour de Singkarak dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Sejak pertama kali dilaksanakan, panjang lintasan yang diperlombakan selalu mening­kat setiap tahunnya, kecuali di tahun  2016 ini, menyusul tak disertakannya Solok Selatan. Sempat menjadi polemic, ketika kabupaten ini tak disertakan.

Hanya saja, di balik polemic tersebut muncul pertanyaan menarik yang nyaris muncul setiap tahun, lalu tak terjawab di tahun-tahun berikutnya. Apa faedahnya untuk olahraga. Jangankan untuk Sumbar, untuk Indonesia saja, rasanya belum juga muncul faedah gelaran iven yang ditargetkan menyaingin Tour de France ini.

Sejak pertama kali digelar, artinya sudah 8 kali, termasuk tahun 2016 ini, belum seorang pun putra Indonesia yang jadi juara. Sejak tahun 2009, Iran mencatatkan diri sebagai penyumbang juara terbanyak, yakni 7 kali. Satu kali, gelar juara TdS juga sempat terbang ke Eropa kala Oscar Pujol Munoz menjadi juara. Sebagai catatan, Oscar sendiri saat itu turun bersama tim asal Iran (2012).

Kemana pebalap Indonesia? Mestinya pertanyaan ini bukan pertanyaan sin­diran, tapi lecutan. Kenapa demikian? Jika perta­nyaan itu ditanggapi dengan pikiran sempit, pasti yang ada hanyalah balasan caci maki. Tapi jika ditanggapi dengan terbuka, ten­tunya bisa menjadi bahan evaluasi.

Jika ditarik ke lokal, bagaimana dengan pebalap Sumbar. Padahal, anugrah tak terhingga untuk sebuah kompetisi, sebe­narnya bisa dirasakan pebalap sepeda daerah ini. Tapi sekali lagi, itu kesempatan ini juga tak juga memunculkan pebalap handal. Ntah kapan lagi, Sumbar memiliki pebalap hebat seperti Nurhayati di era 1980-an lalu yang juga sempat menjadi tumpuan Indonesia di berbagai ajang internasional. (*)

Loading...
Ikuti kami di
Loading...
Loading...