Harianhaluan.com | Mencerdaskan Kehidupan Masyarakat

Harianhaluan.com

SIDANG DUGAAN SUAP 12 PROYEK JALAN DI SUMBAR

Putu Gugup Jadi Saksi Yogan

Putu Gugup Jadi Saksi Yogan
Anggota Komisi III DPR RI, Putu Sudiartana. 

Sidang dugaan suap 12 proyek jalan di Sumbar terus bergulir di Pengadilan Tipikor Jakarta. Anggota Komisi III DPR yang jadi tersangka KPK sebagai penerima suap, gugup saat memberi kesaksian untuk tersangka Yogan Askan. Jaksa KPK pun menegurnya.

JAKARTA, HA­LUAN — Anggota Komisi III DPR RI, Putu Sudiartana me­nga­ku gugup saat memberikan keterangan sebagai saksi di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipi­kor) Jakarta. Dia ditegur Penuntut Umum KPK ka­rena keterangannya yang berubah-ubah dan tidak sesuai dengan berita acara pemeriksaan (BAP).

“Ini saya sedang gemetaran, saya gemetaran sekali duduk di sini,” kata Putu dalam sidang di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (12/10).

Putu beberapa kali ditegur penuntut umum karena diang­gap memberikan keterangan yang berbeda. Dia diminta untuk memberikan keterangan yang sesuai fakta. “Mohon maaf yang mulia, jaksa penuntut umum, ini saya bicara apa adanya,” imbuh Putu seperti dilansir detik.com.

Saat dikonfirmasi beberapa rekaman percakapan dengan orang kepercayaannya, Suhemi, dan dengan Yogan Askan, kete­rangan Putu dianggap penuntut umum tidak sesuai. Salah satunya tentang istilah ‘satu kilo’ yang di­sampaikan Suhemi dan dimak­sud sebagai uang tetapi diban­tah Putu.

Namun kemudian penuntut umum membacakan BAP Putu bahwa ‘satu kilo’ itu meru­pakan uang yang digunakan untuk meloloskan pengu­sulan dana alokasi khusus dalam APBN-P 2016. Putu pun lalu menyebut

bahwa keterangannya yang benar adalah yang berada di BAP. “Yang benar adalah yang di dalam BAP. Sekali lagi saya meminta maaf,” kata Putu.

Dalam keterangannya, Putu mengakui menerima uang suap melalui staf pribadinya, Novi­yanti. Namun Putu mengaku tidak tahu menahu perihal asal muasal uang itu. “Tanggal 25 (Juni) Pak Yogan kirim uang, Bu Novi bilang saya kasih rekening,” kata Putu.

Namun Putu kemudian me­ngira bahwa uang itu adalah hasil penjualan tanah. Dia pun me­ngaku meminta uang itu dikem­balikan. “Saya tidak tahu uang Pak Yogan. Setahu saya uang istri saya yang jual tanah di Singaraja, yang beli Bu Ratna. Pemikiran saya gitu,” kata Putu.

Sebelum mengetahui uang itu dari Yogan, Putu sempat meminta Noviyanti menggunakan uang itu untuk keperluan pribadinya. Sa­lah satunya untuk pembayaran utang sebesar Rp 200 juta kepada orang bernama Jon.

Selain itu, Putu juga meme­rintahkan Noviyanti untuk me­ngi­rim uang itu ke rekening beberapa kerabatnya. Namun saat kemudian mengetahui uang itu dari Yogan, Putu mengaku me­minta Noviyanti mengembalikan uang itu tetapi belum sempat dilakukan karena dia ditangkap KPK.

“Saya bilang sama Novi, cepat kembalikan uang ini, karena waktunya hanya satu bulan. Saya katakan, Novi, kamu akan ber­hadapan dengan hukum, cepat kembalikan,” kata Putu.

Saksi lainnya, Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Wihadi Wiyanto mengaku berte­mu dengan I Putu Sudiartana. Pertemuan itu dilakukan sebelum APBN-P 2016 disahkan.

“Saya ketemu Putu tanggal 27 (Juni) malam. Itu pada sela-sela rapat Banggar diskors karena menunggu putusan tax amnesty. Ini APBN alot karena tax amnesty belum diketok, itu saja,” kata Wihadi.

Wihadi beralasan perte­muan­nya dengan Putu lantaran hendak menukar jam tangan yang dibe­rikan Putu. Jam itu disebut Wi­hadi merupakan barter atas lukisan miliknya.

“Saya serahkan jam karena Putu mau menukar lukisan di ruangan saya dengan jam tangan karena saya tahu jam ini palsu, saya balikkan ke dia,” ujar Wihadi.

Wihadi mengaku bahwa perte­muan itu tidak ada kaitannya dengan pemulusan penambahan dana alokasi khusus (DAK) untuk kegiatan sarana dan prasarana penunjang Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Penuntut umum KPK pun mencecar Wihadi soal jatah seperti yang disampaikan saksi-saksi terutama dari kete­rangan Putu. “Kita tidak ada kuota sebenarnya,” ujarnya.

Dalam surat dakwaan, Yogan Askan disebut memberikan Rp 500 juta kepada Putu. Uang itu diberikan agar Putu membantu pengurusan penambahan DAK kegiatan sarana dan prasarana penunjang untuk Sumbar yang rencananya akan digunakan un­tuk pembangunan jalan tersebut berasal dari APBN-P 2016.

Sekitar bulan Juni 2016, Yo­gan bertemu dengan Putu di Plaza Senayan Jakarta. Dalam perte­muan itu hadir pula staf pribadi Putu bernama Noviyanti dan pihak swasta bernama Ippin Mamoto.

Saat itu Yogan menanyakan perkembangan pengurusan DAK Provinsi Sumbar. Yogan meminta agar dana yang dialokasikan minimal Rp 50 miliar yang ke­mudian disanggupi oleh Putu.

Namun Putu meminta imbalan Rp 1 miliar untuk memuluskan aksinya. Yogan lalu meminta agar kisaran angka anggaran itu antara Rp 100 miliar sampai Rp 150 miliar.

Kemudian Putu mengatakan alokasi DAK untuk Provinsi Sum­bar akan menggunakan kuota Wihadi Wiyanto selaku anggota Banggar. Lalu Putu menghubungi Yogan bahwa alokasi DAK itu sudah disetujui dan meminta jatah Rp 1 miliar melalui Noviyanti. (h/ald)

Ikuti kami di