Harianhaluan.com | Mencerdaskan Kehidupan Masyarakat

Harianhaluan.com

Home »

opini

Kota Transmigrasi

Kota Transmigrasi
 

Selama ini kita mengenal wilayah trans­migrasi berada di perkampungan. Wila­yah yang mayoritas penduduknya bergerak dalam bidang pertanian.

Transmigrasi adalah suatu program yang dibuat oleh pemerintah Indonesia untuk memindahkan penduduk dari suatu daerah yang padat penduduk (kota) ke daerah lain (desa) di dalam wilayah Indonesia.

Kenagarian Desa Baru di Kecamatan Ranah Batahan, Kabupaten Pasaman Barat adalah wilayah transmigrasi pertama di Sumatera Barat. Artinya lebih dulu dari kedatangan penduduk Wonogiri, Jawa Tengah di Sitiung, Kabupaten Dharmasraya.

Kedatangan masyarakat ke Desa Baru berawal dari program kolonialisasi peme­rintahan Hindia Belanda pada tahun 1938. Masyarakat yang datang dari Pulau Jawa membuka lahan untuk tempat permukiman, pertanian dan perkebunan, selanjutnya kedatangan kedua setelah merdeka yang disebut transmigrasi pada tahun 1956.

Sebelumnya daerah Desa Baru bernama Bedeng terdiri dari Bedeng Barat dan Bedeng Timur. Nama Desa Baru sendiri diberikan pada tahun 1948 oleh seorang asisten wedana (camat) pada waktu itu. Masyarakat Desa Baru adalah masyarakat yang multietnis karena berawal dari daerah yang berbeda seperti Solo, Jogyakarta, Minang dan Mandailing yang menyusul kemudian.

Kenagarian Desa Baru terdiri dari 4 Jorong, yakni Jorong Sidomulyo, Jorong Sukorejo, Jorong Karangrejo dan Jorong Mulyorejo. Nagari Desa Baru juga berba­tasan langsung dengan Sumatera Utara, tepatnya Kabupaten Mandailing Natal.

Daerah ini terkenal sebagai sentra hasil hutan yang dibawa ke Medan, Padang dan Jakarta. Daerah ini dulunya penghasil coklat (kakao) terbesar di Kabupaten Pasaman Barat. Pada umumnya masyarakat di daerah ini petani ladang.

Meski sudah ada kota di Simpang Ampek, Bupati Pasaman Syahiran nampaknya ingin mengembangkan wilayah transmigrasi di Kenagarian Desa Baru menjadi sebuah kota. Artinya segala infrastruktur dan fasilitas lainnya akan dilengkapi sebagaimana layak­nya sebuah kota.

Jika ini terwujud tentunya Desa Baru akan menjadi Kota Transmihgrasi pertama di Sumatera Barat.

Menurut Prof. Bintarto (1983) dari segi geografis kota diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata ekonomi yang heterogen.

Untuk menjadikan Desa Baru sebuah kota tentunya tidaklah gampang, mem­butuhkan waktu yang cukup lama. Namun keinginan Bupati Syahiran itu bukan tak mungkin untuk bisa diwujudkan.

Untuk mewujuhkan Desa Baru menjadi Kota Transmigrasi, Bupati Pasaman Syahiran menginginkan segala bentuk permasalahan lahan atau persoalan transmigrasi di nagari itu segera tuntas, sehingga lahan transmigrasi tidak menjadi masalah di kemudian hari.

Langkah selanjutnya yang harus dilaksa­nakan oleh Pemkab Pasaman tentunya membuat master plan atau rencana pemba­ngunan kota. Master plan ini sangat penting untuk menata sebuah kota. Pembangunan yang dilaksanakan tentunya tidak membuat sebuah kota menjadi semrawut.

Kota yang dimaksudkan Bupati Sya­hiran barangkali bukanlah kota dalam pengertian daerah otonom yang dipimpin oleh seorang walikota. Tapi daerah dengan fasilitas yang lengkap sebagaimana layak­nya sebuah kota. (*)

Ikuti kami di