Harian Haluan

Harianhaluan.com

Balimau Paga, Tradisi Pessel yang Tak Pernah Hilang

Balimau Paga, Tradisi Pessel yang Tak Pernah Hilang
MENGAMBIL SIRIH - Sekda Erizon terlihat saat mengambil sirih dalam carano pertanda dimulainya kegiatan prosesi Balimau Paga, di Timbulun, Kecamatan IV Jurai, Rabu (16/5) . OKIS MARDIANSYAH 

PAINAN, HARIANHALUAN.COM - Setiap memasuki Bulan Suci Ramadan, kegiatan Balimau Paga masih menjadi tradisi yang unik di Kabupaten Pesisir Selatan. Sebab, tradisi tersebut bukan saja suatu wadah kekayaan adat dan budaya, namun lebih kepada mempererat tali silatuhrahmi antar sesama muslim.

"Sebanyak 182 nagari yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan, Painan adalah nagari yang mampu mempertahankan kelestarian Balimau Paga hingga saat ini, termasuk satu lagi di Nagari Inderapura," sebut Sekda Erizon saat menghadiri prosesi Balimau Paga dalam rangka memasuki Bulan Suci Ramadan tahun 1439 H/2018 M bersama Kerapatan Adat Nagari (KAN) Painan, di Timbulun, Kecamatan IV Jurai, Rabu (16/5).

Dikatakan Sekda, Pemkab Pessel sangat mendukung penuh kegiatan tersebut. Sebab, prosesi Balimau Paga merupakan bagian dari tradisi menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan yang harus dipertahankan.

"Jadi, kita harapkan melalui KAN, ke depan tradisi Balimau Paga ini agar lebih di sosialisasikan lagi hingga ke tingkat bawah. Ninik Mamak harus mengajak anak kemenakan menjaga kampung halaman dan tradisi meramaikan masjid," ucap Sekda mengingatkan.

Sementara itu, Ketua KAN Painan, Syafrizal Ucok Dt Nan Batuah mengakui, setiap memasuki bulan suci Ramadan, sejumlah nagari yang ada di Painan selalu mengadakan prosesi Balimau Paga. Menurutnya, kegiatan itu sangat perlu dilestarikan hingga ke anak cucu.

"Seperti kita ketahui, saat ini anak kemenakan kita disibukan dengan kegiatan masing-masing. Bahkan ada yang di perantauan. Jadi, dengan kegiatan Balimau Paga seperti inilah kita jalin kembali hubungan silatuhrahmi antara mamak dengan anak kemenakan," ungkapnya.

Tokoh masyarakat setempat, Alirman Sori mengatakan, prosesi Balimau Paga diharapkan tetap terbalut ABS-SBK, sehingga dapat menjadi potensi wisata budaya selamanya. Menurutnya, apabila dikemas dengan baik dan rapi maka akan menjadi daya tarik tersendiri bagi Kabupaten Pesisir Selatan.

"Dalam artian tidak menghilangkan makna dari prosesi Balimau Paga itu sendiri. Sehingga mampu menjadi wahana wisata budaya yang dapat memancing wisatawan asing datang ke Pesisir Selatan," ucapnya kepada wartawan usai menghadiri prosesi Balimau Paga di Timbulun, Painan.

Lebih lanjut dikatakannya, prosesi Balimau Paga adalah prosesi yang memiliki nilai kebersamaan dan kerukunan masyarakat antar nagari. Kegiatan itu, lanjut dia, juga dapat diartikan sebagai simbol dari kegembiraan masyarakat dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

"Jadi, tradisi Balimau Paga juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperkokoh tali silaturahim. Selanjutnya tetap menjaga nilai-nilai serta esensi utama dalam filosofi Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK)," ajaknya.

Melalui prosesi Balimau Paga, lanjut dia, masyarakat bersama para tokoh-tokoh adat, berkumpul bersama saling memaafkan. Kegiatan itu diharapkan dapat membersihkan diri dari kesalahan antar sesama sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih dan suci.

"Seperti kita lihat, Rumah Gadang dari kaum masing-masing suku di Nagari Painan membawa hantaran ke lapangan tempat berlangsungnya prosesi Balimau Paga. Tak luput membawa rempah-rempah wewangian tradisional yang disebut dengan Limau dalam satu wadah yang disebut Carano," jelasnya.

Ditambahkannya, Air limau berupa rebusan rempah wewangian tersebut, nantinya akan diusapkan ke kepala seluruh yang hadir, dimulai dari Ninik Mamak yang paling dituakan atau orang penting di daerah tersebut.

"Jika selalu dilestarikan, maka kebersamaan yang dibungkus dalam prosesi adat ini akan menarik minat wisatawan asing. Sehingga nilai yang terkandung di dalamnya adalah sebagai lambang dari kerukunan masyarakat dan kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Lebih dari itu, tradisi Balimau Paga agar tidak dinodai dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan tuntunan adat dan agama. Sebab, prosesi ini bukan saja sekedar mandi beramai-ramai di sungai, tetapi lebih kepada sebuah tradisi adat," tutupnya. (h/kis)

 

 

 

 

Ikuti kami di