Harian Haluan

Harianhaluan.com

Halal Bihalal Kaum Pasukuan Salo Pererat Silaturrahmi

Halal Bihalal Kaum Pasukuan Salo Pererat Silaturrahmi
Halal Bihalal kaum suku Salo, Tanjung Jati, VII Koto diisi dengan pengajian dan musyawarah pembangunan di Mushala Darul Ijtihad Salo, Minggu (17/6). IST  
PAYAKUMBUH, HARIANHALUN.COM-Keluarga besar kaum parsukuan Salo melaksanakan Halal Bihalal di surau kaum Mushala Darul Ijtihad Salo, Jorong Tanjung Jati, VII Koto Talago, Limapuluh Kota, Minggu (17/6).
 
Halal Bihalal  ini rutin dilaksanakan setiap lebaran Idulfitri yang dihadiri para penghulu, pemangku adat   bersama keluarga besar kaum suku Salo baik yang di kampung maupun yang datang pulang basamo dari perantauan. Acara ini juga diisi dengan tausyiah yang disampaikan Buya  Z Gunuang Dt Maruhun Sati, dilanjutkan dengan musyawarah meningkatkan pembangunan surau kaum dan pengembangan lembaga pelatihan dan pendidikan Alquran.
 
Datuak kaum suku Salo HZ Dt. Linjuang Sati, menyatakan momentum sekali setahun ini dilaksanakan untuk mempererat silaturahim antar bapak, etek, mamak, kakak, adik, kemenakan,  anak, cucu, dan rang sumando baik yang di kampung maupun yang di perantuan. Agar sesama anggota kaum   saling mengenal lebih dekat bahwa mereka adalah sepasukuan. "Pengenalan sepasukuan ini kian penting, apa lagi anggota kaum terus berkembang,  banyak anak kemenakan yang lahir dan besar  di perantuan. Dengan Halal Bihalal ini mereka akan   saling mengenali dan menyadari  bahwa mereka adalah sepasukuan yang harus mematuhi  norma-norma adat dan agama," harapnya.

Sementara itu dalam musyawarah pasukuan Salo yang dipimpin Haji Yun,  disepakati untuk merintis pusat pelatihan dan pendidikan Alquran bagi anggota kaum maupun masyarakat. Upaya ini diawali dengan merekrut dan melatih calon gurunya dengan metode pelatihan yang sudah teruji keberhasilannya.
 
Sedangkan Buya Z Gunuang Dt Marahun Sati  dalam tausyiahnya menguraikan pentingnya mengaplikasikan hikmah berpuasa  dalam keseharian  pasca Ramadhan. Buya mengibaratkan 'puasa induk ayam' bagi mereka yang masih saja suka marah-marah. "Induk ayam itu 'berpuasa' selama mengerami telurnya. Sehabis masa 'berpuasa' dan telurnya menetas, ia malah suka marah-marah kepada siapa pun yang  mendekat. Kita jangan begitu hendaknya, pasca ditempa selama Ramadhan, seharusnya  kita menjadi insan yang  penyabar dan suka memaafkan," harapnya. (h/dn)
 

Ikuti kami di