Harian Haluan

Harianhaluan.com

Melewati Puluhan Lebaran di Negeri Tulip

Melewati Puluhan Lebaran di Negeri Tulip
DANIEL CARELSE bersama anaknya membuat kue untuk menyambut Lebaran. Kue itu nantinya disuguhkan kepada orang Minang yang berkunjung ke rumahnya saat Lebaran. YESI 

 

Apa rasanya jauh dari kampung halaman ketika beduk ditabuh dan takbir dilantunkan? Sesak pastinya. Apalagi jika mengingat bau aroma rendang yang dimasak ibu di kuali besar kala malam peralihan Ramadan, hati pasti ngilu. Begitu nan dirasakan Efi Bachmar. Perempuan Taram, Kabupaten Limapuluh Kota ini sudah lama tak pulang. Berpuluh Lebaran dilewatinya di Belanda. Entah seperti apa sesak yang dirasakannya.

Oleh: Yessi Deswita

Efi merindu. Dia kangen suasana Lebaran di kampung halaman. Tawa ceria anak-anak yang berlarian dengan obor di tangan, tingkah batu gilingan dan kucuran santan kala diparut memenuhi kepalanya jika mendekati Lebaran. Namun apa daya, nasib membawanya jauh dari rumah, dari segala hal yang diimpikannya tentang Lebaran.

Saat Haluan mengirimkan foto terkini Taram, kampung halamannya via WhatsApp, Efi membalas dengan emotion senyum. Tak banyak yang berubah menurut mantan guru yang diboyong suaminya ke Belanda 26 tahun silam. Daniel Carelse, sang suami adalah orang Belanda. “Taram selalu hidup dalam kenangan. Saya merindukan segalanya, terutama suasana Lebaran,” terang Efi kepada Haluan.

Lebaran adalah hari yang paling ditunggu Efi dan keluarga. Saat Lebaran ia bisa berjumpa dengan teman-temannya sesama orang Indonesia di Belanda, termasuk dengan orang Minang, yang mencari hidup di negara kincir angin tersebut. Rumahnya akan menjadi tujuan kunjungan dan tempat bersantap. Maklum, Efi perempuan Minang yang pandai memasak.  "Lebaran adalah saat kerinduan akan kampung halaman sedikit terobati dengan cara berkumpul bersama orang Minang. Saya masak banyak,” paparnya.

Bagi Efi, pulang kampung adalah impian. “Siapa saja yang berada di rantau sudah pasti berharap bisa pulang ketika hari raya. Berkumpul bersama keluarga, makan bersama dan saling bersilaturahmi. Saya juga demikian. Bisa pulang dan menikmati suasana yang sudah berpuluh tahun tidak saya rasakan,” harapnya.

Persiapan Lebaran jauh-jauh hari dirancang Efi. Dia memasak makanan Minang dan kue khas Indonesia, untuk disantap. Suaminya turut membantu.  Hari pertama Lebaran, dia tidak bersilaturahmi. Hanya ke mesjid, KBRI Centre Point lalu bersilaturahmi dengan semua teman-teman dan pulang berkumpul dengan keluarga. Efi dan orang Minang lainnya yang ada di Den Haag, salat Id di Masjid Al-Hikmah yang dulunya merupakan gereja. 

“Bangunan itu dibeli oleh masyarakat muslim Indonesia. Setiap Idul Fitri selalu dipenuhi jamaah. Lebaran kali ini, lantai dua masjid penuh, jamaah sampai melimpah hingga ke jalan. Bahkan tahun-tahun sebelumnya salat Id diadakan dua kali. Hal ini sangat luar biasa di negara yang mayoritas berpenduduk nonmuslim," cerita Efi.

Untuk menambah riang suasana, biasanya, usai salat Id, Efi dan keluarganya menghidupkan lagu-lagu Minang seperti ayam den lapeh, dan lagu-lagu khas Indonesia. “Di hari Lebaran, yang paling penting saya bersiap menyambut mertua yang datang berkunjung. Mertua saya non muslim, tapi setiap Lebaran selalu berkunjung dan ikut merayakan. Toleransi seperti ini yang membuat saya bangga,” sebut Efi yang semasa jadi guru mengajar di Ombilin Simawang, Danau Singkarak.

Putri Efi, Esmeralda yang meraih juara 3 Miss Grand Belanda itu juga sangat ingin merasakan Lebaran di kampung halamannya. “Cerita ibu tentang Lebaran di kampung halaman sangat menarik. Mendengar cerita saja saya sudah merasa terbuai apalagi merasakannya langsung. Suatu saat saya akan pulang untuk merasakan suasana itu,” papar Esmeralda.

Ia masih merekam jelas kenangan saat kanak-kanak, kala ia dan adiknya Sabrina masih sering dibawa orangtuanya pulang kampung. Esmeralda yang kini tenar di Amsterdam, menceritakan masa kecilnya sembari menunjukkan foto saat ia ikut mengembalakan sapi di Taram, Limapuluh Kota. "Di rumah nenek berkeliaran selalu binatang ternak dan saja gembalakan. Di sini, di Amsterdam, saya kenal semua binatang itu hanya dari supermarket, itupun telah dibungkus plastik," ucapnya sambil tertawa kecil.

Kerinduan Efi dan Esmeralda adalah kerinduan seluruh orang Minang di perantauan. Siapa yang tak rindu pulang kala hari raya sedang ditabuh dan ditakbirkan. Pada malam, orang sekampung menyalakan obor sepanjang jalan? Orang Minang mana yang tidak berharap bisa mencium aroma randang dan lemang yang mengepuli sudut dapur?

Pulang saat Lebaran tiba akan menjadi kuncup kenangan paling wangi di antara bertangkai ingatan lain, sebelum pada akhirnya waktu akan tetap membuatnya layu dan pasi. Ya, bagi siapa saja, selamatkanlah kepulangan yang satu itu, menjelang roda-roda perjalanan menggiring ke hamparan lain. Hamparan yang tidak beralamat dan mungkin tidak lagi mengenal kampung halaman. (*)

Ikuti kami di