Harian Haluan

Harianhaluan.com

Rupiah Makin Terpuruk, DPRD Sumbar: Cegah Dampaknya pada Ekonomi Rakyat

Rupiah Makin Terpuruk, DPRD Sumbar: Cegah Dampaknya pada Ekonomi Rakyat
Tren rupiah terus melemah. ILUSTRASI 

 
PADANG, HARIANHALUAN.COM-– Merosot tajamnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mendapat sorotan dari kalangan DPRD Sumbar. Pemerintah pusat diminta segera mengambil sikap, terutama dalam upaya menekan kebijakan impor agar rupiah bisa kembali stabil. 

Wakil Ketua DPRD Sumbar, Guspardi Gaus mengatakan, langkah sigap tersebut tak hanya untuk menstabilkan rupiah saja, tapi juga mengantisipasi agar ekonomi rakyat tidak terpuruk.

“Salah satu sikap yang bisa diambil adalah menekan kebijakan impor. Untuk ini, harus ada skala prioritas mana barang yang boleh diimpor dan mana yang hanya bisa memanfaatkan produk dalam negeri saja. Jangan seluruh barang dimpor. Berdayakan masyarakat dan gunakan produk dalam negeri, dan jangan seperti yang sudah-sudah, garam saja diimpor,"ujar Guspardi saat berbincang dengan Haluan, Rabu (5/9).


Guspardi menambahkan, jika melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar tak segera disikapi, harga akan terus naik, selanjutnya daya beli masyarakat akan menurun. Situasi ini, kata dia, bukanlah persoalan yang sederhana lagi, sebab 20 tahun setelah reformasi sepengetahuan dia baru kali ini rupiah merosot sejatam sekarang. Kalau dikaitkan dengan utang Indonesia, ia menilai situasi yang ada saat ini sangatlah merugikan, dengan semakin garangnya dolar, otomatis nilai utang Indonesia juga akan melonjak drastis.

"Kita tak memungkiri ini juga terpengaruh dengan ekonomi global, tapi semakin diperparah karena terlalu banyak bahan baku dan produk-produk yang kita impor atau didatangkan dari luar," ucapnya.


Guspardi berpandangan, ke depan pemerintah pusat harus mengetatkan ikat pinggang dengan mengurangi impor, kemudian ungkapan untuk mencintai produk dalam negeri yang selama ini sering digaungkan, hendaknya jangan hanya sebatas slogan saja. Ungkapan itu ia harap terlebih dahulu direalisasikan oleh pemerintah, sehingga rakyat juga bisa mengikuti atau menjadikannya sebagai contoh. "Kalau garam, beras dan kedelai sebagai bahan baku tempe saja pemerintah masih mengimpor, bagaimana rakyat akan mencintai produk dalam negeri. Pemerintah saja tidak bisa memberi contoh, di lain sisi kita adalah negara pertanian," katanya. 

Senada, anggota DPRD Sumbar, Mockhlasin menyebut pemerintah pusat harus berupaya ekstra mencari jalan keluar atas melemahnya mata rupiah. Jika tidak ekonomi Indonesia akan goncang.  "Kebijakan yang diambil bisa dengan meminta bantuan pada negara sahabat untuk mendapatkan pinjaman, kemudian melakukan kontrol terhadap belanja negara, karena ini sudah mengkhwatirkan negara memang harus tegas, impor mesti dibatasi," tutur Mockhlasin.

Sementara itu, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) memperkirakan pengusaha makanan dan minuman akan menaikkan harga jual produk sekitar 3-5 persen bila nilai tukar rupiah kian terpuruk dalam beberapa waktu ke depan.

Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman mengatakan proyeksi kenaikan harga ini merujuk pada penurunan margin keuntungan yang terpaksa ditanggung pengusaha sejak rupiah melemah hingga melewati level Rp14.900 per dolar Amerika Serikat (AS) saat ini, dari kisaran Rp13.400 per dolar AS awal tahun ini. 

Presiden Joko Widodo menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah belakangan banyak disebabkan oleh faktor global. (len)
 

Ikuti kami di