Harian Haluan

Harianhaluan.com

Rektor Nyatakan Kependekan Universitas Andalas Adalah Unand

Rektor Nyatakan Kependekan Universitas Andalas Adalah Unand
Unand (unggeh tabang/unand) 

 

Oleh Holy Adib (Redaktur Bahasa Haluan)

Selama ini, ada dua abreviasi Universitas Andalas yang beredar di tengah masyarakat, yakni Unand dan UA. Akronim Unand lebih populer daripada singkatan UA. Manakah kependekan yang resmi menurut otoritas perguruan tinggi itu?

Rektor Universitas Andalas, Tafdil Husni, menyatakan, dalam statuta perguruan tinggi tersebut, kependekan Universitas Andalas adalah UNAND.

Mengenai adanya pihak yang menyingkat Universitas Andalas dengan UA, Tafdil mengatakan, Universitas Andalas sudah lama menyampaikan kepada publik bahwa kependekan Universitas Andalas adalah Unand, bukan UA.

“Ini sudah lama diberitahukan, sejak zaman Rektor Prof. Werry Darta Taifur. Nanti kita sampaikan lagi. Singkatan UA itu sudah ada untuk Universitas Airlangga,” ujarnya melalui  pesanWhatsApp, Selasa (18/9).

Untuk diketahui, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V (Badan Bahasa, 2016) memuat akronim Unand sebagai abreviasi Universitas Andalas. Situs Universitas Andalas juga memakai akronim Unand, yakni Unand.ac.id.

Mantan Rektor Unand, Werry Darta Taifur, juga mengutarakan bahwa sesuai dengan statuta Universitas Andalas, kependekan yang benar adalah UNAND. Perihal munculnya abreviasi UA, ia mengatakan bahwa singkatan itu tidak resmi. Meski dalam statuta tertulis UNAND, baginya tidak masalah jika akronim itu ditulis Unand.

Werry menjelaskan, perguruan tinggi yang mengubah singkatan nama kampus harus mengubah kependekan tersebut dalam statuta dan disetujui menteri supaya tidak ada perguruan tinggi mempunyai singkatan nama yang sama.

Banyak pertukaran nama perguruan tinggi negeri, kata Werry, terjadi pada periode 2009—2014. Ia menerangkan, pemicunya waktu itu adalah perguruan tinggi yang masuk sepuluh besar memakai nama dua atau tiga huruf, seperti UI, ITB, UGM, IPB kecuali Unair dan beberapa perguruan tinggi lain.

“Waktu itu, saya dan beberapa rektor berpendapat bahwa maju atau tidaknya perguruan tinggi bukan karena nama yang disandangnya, tetapi karena kinerjanya. Kecuali ada persoalan mendasar, seperti un bra atau terlalu susah menyebutnya, seperti perguruan tinggi negeri yang terdapat di Kendari itu. Beberapa perguruan tinggi negeri menukar nama, seperti Unbra menjadiUB terjadi karena orang asing menyebutnya ‘un bra’. Unair, Unpad, Unhas, dan Unand tidak mengubah. Faktanya, tetap tambah maju. Jadi, maju atau tidaknya perguruan tinggi tidak ada sangkut pautnya dengan terkenal atau tidaknya. Perguruan tinggi bisa terkenal karena kinerja dan reputasinya, bukan karena namanya,” ucapnya.

Jika kependekan Universitas Andalas ditukar dari Unand menjadi UA, dan Unair juga menukar singkatanya dengan UA, menurut Werry, hal itu akan menimbulkan masalah karena kependekan nama untuk menjadi dua huruf hanya bisa UA. Dengan demikian, mempertahankan nama yang sudah menjadi ciri atau karakteristik tiap-tiap perguruan tinggi yang sudah dikenal luas jauh lebih baik dan mulia daripada menukar dengan yang baru, tetapi menimbulkan masalah baru.

“Unri yang menukar dengan UR menjadi masalah dan tidak dikenal karena sudah dikenal luasUnri,” tutur Werry melalui pesan WhatsApp, Rabu (19/9).

Salah pihak yang memakai singkatan UA adalah Unit Kegiatan Seni Universitas Andalas. Pada akhir 2014, organisasi itu mengubah singkatan namanya dari UKS UA menjadi UKS Unand.

Sebagai informasi, Universitas Brawijaya menetapkan Unibraw sebagai akronim nama perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur, itu sebagai pengganti Unbra. Setelah itu, Universitas Brawijaya mengubah lagi kependekan namanya menjadi UB. Di situsnya, Universitas Brawijaya juga memakai singkatan UB, yakni ub.ac.id (sebelumnya brawijaya.ac.id). Namun, KBBI V masih mencantumkan Unibraw sebagai akronim Universitas Brawijaya.

Di Sumatra Barat, Universitas Bung Hatta pernah mengalami masalah karena pengubahan kependekan nama perguruan tinggi tersebut. Hal itu terjadi pada 2017. Rektor Universitas Bung Hatta yang baru, Azwar Ananda, berencana mengganti kependekan nama perguruan tinggi itu dari UBH menjadi Unhatta. Dalam berita “Singkatan Kampus UBH Diganti Menjadi Unhatta” (Harianhaluan.com, 21 Juni 2017), Azwar mengutarakan bahwa singkatan UBH berkonotasi kurang baik.

“Singkatan UBH dilarang mungkin karena bunyinya. Akan tetapi, dalam status tidak disebutkan alasannya. Mungkin konotasi UBH kurang baik. Sebagai pembanding, kabarnya Universitas Brawijaya yang dulu dipendekkan dengan Unibra diganti dengan Unibraw karena konotasiUnibra kurang baik,” ujarnya dalam berita tersebut.

Saat itu, akronim Unhatta belum ada dalam statuta Universitas Bung Hatta. Azwar berencana memasukkan akronim Unhatta dalam revisi statuta.

“Jadi, Unhatta adalah kependekan baku Universitas Bung Hatta. Kependekan ini pun sudah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,” ucap Azwar saat itu.

Usul Azwar tersebut diprotes oleh alumni Universitas Bung Hatta karena nama Ikatan Alumni Universitas Bung Hatta memakai singkatan UBH. Azwar pun menyampaikan pembatalan rencananya untuk mengubah UBH menjadi Unhatta melalui akun Facebook-nya pada 23 Juni 2017 dan dicatat Harianhaluan.com pada dalam berita berjudul “Diprotes Alumni, UBH Batal Pakai Akronim Unhatta”.

Meski Univeristas Bung Hatta sudah menyatakan akan terus memakai singkatan UBH dan tidak akan menggunakan akronim Unhatta, kependekan nama perguruan tinggi itu dalam KBBI V tidak berubah sampai kini. Berdasarkan penelusurun Haluan, akronim Unhatta tercatat dalam KBBIsejak KBBI IV terbitan 2008.

Loading...
Ikuti kami di
Loading...
Loading...