Harian Haluan

Harianhaluan.com

Home »

pemda

Tim Unand Revitalisasi Limau Kacang

Tim Unand Revitalisasi Limau Kacang
BUDI DAYA LIMAU -  Group pengembang Limau Kacang yang merupakan pensiunan pegawai negeri, Kamis (25/10) melakukan monitoring tanaman bersama tim Unand, DR Nasril Nasir di Aripan, Kab Solok. YUTISWANDI 

AROSUKA, HARIANHALUAN.COM—Komoditi jeruk Keprok yang dikenal dengan nama limau Kacang, sejak tahun 80-an sudah menghilang setelah sempat dikenal sebagai buah spesifik daerah Solok. Tanaman buah yang berhasil mengangkat nama nagari Kacang, punah karena diserang penyakit CVPD (Citrus VeinPhloem Degeneration), suatu bakteri tanaman yang mematikan.

Akibat tumpulnya populasi komoditas Limau Kacang, tahun 2011 tim Universitas Andalas berinisiatif melakukan kegiatan penelitian bekerja sama dengan Kagoshoma University Jepang.

"Penelitian yang kami lakukan, menyebutkan limau Kacang berkerabat dekat dengan jeruk populer di dunia itu," sebut akademisi Universitas Andalas (Unand) Padang, DR Nasril Nasir ketika melakukan diskusi dengan group Pengembang Limau Kacang di Aripan, Kecamatan X Koto Singkarak, Kamis (25/10).

Dari kerja ilmiah yang dilakukan, menurut mantan peneliti BPTP Sukarami itu, limau kacang yang konon pertama kali dikembangkan oleh seorang Petugas Pertanian Garut yang notabene adalah putra daerah Singkarak, Baharsyah, memiliki rasa yang spesifik dan berpotensi dikembangkan.

Pernah ada upaya membudidayakannya, secara mandiri atau diproteksi oleh Pemda setempat, tetapi tidak kunjung berhasil. Bakteri CVPD tetap mengancam usaha masyarakat. Padahal dari sisi potensi, jeruk Keprok Kacang sama kualitasnya dengan dua jenis jeruk populer di dunia, yakni jeruk Mandarin dari China dan Ponkan dari Jepang.

Meyikapi potensi besar yang sekarang telah sirna, akhirnya menimbulkan keprihatinan. Tetapi bagi yang optimis, masih tersisa rasa penasaran. Kenapa limau Kacang harus mengalami kepunahan. Hati yang risau akhirnya melahirkan komitmen.

Tim Universitas Andalas selain DR Nasril Nasir, juga ada DR Mairawita dan DR Yulmira Yanti terus memulai dengan generasi baru. Hasil penelitian kerjasama dengan universitas Jepang itu lantas ditawarkan kepada Kemenristek Dikti mendapatkan program pengabdian masyarakat.

Menurut akademisi Unand itu, salah satu program yang dijuluk adalah Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM), yang kegiatan mengembangkan potensi unggulan desa. Limau Kacang dalam program PPDM ini diajukan.

"Tahun 2016 kita laporkan kegiatan ini ke Pemda Solok agar didukung. Bupati Solok merespon baik, sampai kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di Balitbu Tropika Solok dengan Kemenristek Dikti," papar Nasril.

Tetapi prosesnya seolah tergantung. Tindaklanjutnya mengambang. Sampai pada April 2017 pihaknnya memesan sebanyak 2.500 bibit jeruk Keprok Kacang ke Balai Penelitian Jeruk Sub Tropis (Balitjesrro) Balitbang Kementan di Tlekung Jawa Timur.

"Di balai ini ada 18 jenis jeruk keprok. Bibit yang disertifikasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Jawa Timur," ungkap mantan peneliti Balithor Aripan itu.

Selang setengah tahun, pada Januari 2018 bibit jeruk Keprok dikirim ke Solok. Timbul persoalan, kepada siapa disalurkan. Masyarakat petani yang akan mengembangkannya belum memiliki keberanian memulainya, karena harus dilakukan dilahan yang berbeda dari hamparan rentan penyakit CVPD.

"Kami kemudian bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika Aripan untuk pemeliharaan oleh peneliti dan tehnisi Balitbutb Tropika," ungkap Nasril Nasir.

Menyambut gerakan masif dari tim Unand untuk mengembalikan kejayaan Jeruk Keprok Kacang, belasan masyarakat yang didominasi para pensiunan PNS, akhirnya mengambil peluang menjadi petani buah lokal. Dengan jaminan komitmen melakukan budidaya, mantan Asisten II Pemkab Solok, H Yunasman menawarkan diri menanam bibit limau Kacang dihamparan kebun yang paralel dengan komoditi buah Naga.

"Saya mengumpulkan kawan kawan pensiunan dengan mengusung semangat berkebun," aku Yunasman.

Seruan mantan Kabag Pembangunan Pemkab. Solok itu memicu minat Tamyus TM, mantan Kadis Pariwisata dan Kadis Perhubungan. Semangat berkebun itu mengalir ke mantan wali nagari Kacang, kemudian pensiunan penyuluh, termasuk pengusaha rempah putra Gobah Nofita Naizar. Sekitar 12 orang akhirnya berhimpun dalam group Pengembang Limau Kacang.

"Sudah empat bulan kami menanam bibit limau Kacang. Ada 16 tituk lahan tersebar di nagari Aripan, Singkarak, Saniangbaka, hingga ke Sulit Air," sebut Yunasman.

Dijelaskan, pendistribusian bibit kepada 12 petani limau kacang dilakukan Maret 2018. Masing-masing melakukan penanaman sekira 50 sampai 450 batang bibit di kebun masing-masing.

"Saking semangatnya, masih ada lobang tanaman yang belum ditanami bibit. Karena itu kita mengajukan permintaan bantuan bibit untuk tahun 2019 sebanyak 2500 batang, sehingga luas budidaya limau Kacang mencapai 10 hektare, " jelas Yunasman. (h/ndi)

 

 

Ikuti kami di