Harian Haluan

Harianhaluan.com

Anak yang Diikat di Pohon Dibawa ke Dinsos, Orang Tua: Biarlah Saya Mati

Anak yang Diikat di Pohon Dibawa ke Dinsos, Orang Tua: Biarlah Saya Mati
Si Kriwil dibimbing kakaknya di Kantor Satpol PP Padang, Jalan Tan Malaka, Jumat (9/11). Anak tersebut diserahkan ke Dinas Sosial untuk pembinaan. IRHAM 

PADANG, HARIANHALUAN.COM— Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah menilai kasus diikatnya seorang bocah kecil bernama samaran Kriwil oleh ibu kandungnya di akar pohon beringin Ruang Terbuka Hijau (RTH) Imam Bonjol merupakan dampak dari kurangnya pengetahuan dan kesadaran orang tua.

"Pengetahuan, kesadaran dan wawasan orang tua perlu ditingkatkan. Selain itu, anak-anak yang ada di jalanan akan dibina dan diarahkan serta dialihkan ke potensi yang mereka miliki. Demikian juga menanggulangi perilaku menyimpang lainnya, seperti LGBT yang ditangkap sebelumnya. Mereka akan dibina dan panggil orang tuanya. Dikembalikan semua prilaku yang menyimpang kepada prilaku yang sebagaimana mestinya. Untuk itu Pemko Padang bekerjasama dengan TNI, Polri, Kemenag dan lain-lain," terang Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah, Jumat (9/11).

Mahyeldi mengungkapkan kasus Kriwil telah ditangani oleh Pemko Padang.

"Tadi sudah dibawa dan diurus oleh Dinas Sosial untuk selanjutnya dibina. kakak laki-laki Kriwil turut berdialog dan memberi penjelasan kepada ibunya," ungkap Mahyeldi.

Plt Kasatpol PP Padang Yadrison mengatakan, Kriwil sudah sering diamankan oleh anggotanya.

“Bahkan sudah pernah dikirim ke Dinsos. Tapi sekarang terulang kembali, anak tersebut diikat lagi. Sekarang ditertibkan lagi, selanjutnya diserahkan ke Dinas Sosial,” sebut Yadrison.

Yadrison menyebutkan, bocah tersebut sengaja diikat orang tuanya disalah satu pohon di RTH Imam Bonjol. Bahkan kejadian berulang dan sudah bertahun-tahun. Ibunya sehari-sehari menjadi pedagang asongan di Pasar Raya Padang.  

“Kata orang tuanya kepada kami, ia sengaja mengikat anaknya karena tidak dapat lagi mengendalikan si anak yang sering mengamuk dan merusak apapun yang ditemuinya. Setiap pukul 17.00 WIB ikatan dilepas dan setiap jadwal makan siang dibawa pergi makan,” ucap Yadrison.

 Sementara itu, Kepala Dinsos Kota Padang, Amasrul membenarkan, kalau anak tersebut memang sudah sering dikirim ke dinsos. Selain itu orang tuanya juga sudah diberikan bantuan seperti diberikan gerobak untuk berjualan.

"Dari dulu kami ingin merawat anak tersebut, dan menempatkannya di panti. Tapi memang orang tuanya tidak mau anaknya di sini. Bahkan ia sempat mengatakan, dari pada anaknya kami rawat biarlah dia mati dulu," sebutnya.

Saat ini Dinsos Padang masih mengupayakan cara-cara kekeluargaan. Menurutnya pendekatan secara kekeluargaan akan berdampak untuk anak.

“Apabila nantinya memang tidak bisa lagi dengan cara kekeluargaan. Tentunya kami akan menempuh cara lain, sehingga anak ini bisa mendapatkan penanganan dari kami,” katanya. 

Dikatakan Amasrul, sekarang dari dinsos sudah mendatang pisikolog untuk orang tuanya, tujuan agar bisa memberikan pengertiannya.

Sementara itu orang tua si Kriwil, Lusi di depan awak media mengatakan tidak ingin berpisah dengan anaknya.

"Kalau ditinggalkan di dinsos, saya tidak bisa hidup besok lagi. Kriwil tidur dengan saya. Makan disuapi. Ia diikat karena sering lari-lari dan merusak. Sementara saya harus berdagang asongan. Pagi ia diikat, tapi sore setelah saya selesai berjualan dilepas lagi. Tapi pagi diberi makan, juga siang dan malam. Tidak ada yang terabaikan," ungkapnya, kemarin.

Terlihat Lusi benar-benar menyayangi bocah yang berusia 11 tahun itu. Tapi apa daya tak ada solusi lain yang bisa dilakukannya sehingga cara yang dipilihnya dengan mengikat Kriwil. Hal yang dilakukannya itu dinilai banyak pihak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. (h/yes/pmi)

Baca juga: Miris-kisah-anak-yang-diikat-di-bawah-pohon-beringin

Ikuti kami di