Harian Haluan

Harianhaluan.com

Sistem Peringkat Diterapkan, Nilai SKD 255 Bisa Saja Ikut SKB CPNS

Sistem Peringkat Diterapkan, Nilai SKD 255 Bisa Saja Ikut SKB CPNS
Dokumentasi Haluan 

Misal apabila sebuah lembaga membutuhkan 100 aparatur, maka pada tes awal akan dicari 3 kali lipat dari 100 dan akan dilakukan pemeringkatan nilai tertinggi dari 1-300. Selanjutnya, 300 peserta itu akan mengikuti seleksi tahap berikutnya

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Pemerintah secara resmi menerapkan sistem peringkat sebagai alternatif kriteria kelulusan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) peserta seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Angka kelulusan SKD dinilai sangat rendah karena banyak peserta yang tidak memenuhi passing grade atau ambang batas nilai.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafruddin, sebagaimana dilansir dari kompas.com mengatakan, pihaknya sudah menerbitkan Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 61 Tahun 2018 sebagai payung hukumnya. Dengan Permen ini, peserta yang tak memenuhi passing grade bisa tetap lulus lewat sistem peringkat.

"Kami tidak berorientasi pada passing grade, tapi berorientasi pada peringkat," kata Syafruddin di Istana Kepresidenan, Bogor, Rabu (21/11).

Syafruddin mengatakan, pemerintah tidak menurunkan passing grade yang sudah ditetapkan sejak awal. Sebab, penurunan passing grade dikhawatirkan justru akan menurunkan kualitas SDM aparatur negara. "Jangan sampai ini mundur karena itu kita kembali ke sistem peringkat saja," katanya lagi.

Syafruddin mencontohkan, apabila suatu lembaga membutuhkan 100 aparatur, maka pada tes awal akan dicari 3 kali lipat dari 100 dan akan dilakukan pemeringkatan nilai tertinggi dari 1-300. Selanjutnya, 300 peserta itu akan mengikuti seleksi tahap berikutnya. "Kira-kira begitu jalan keluar yang terbaik. Tapi tidak menurunkan grade," ujarnya.

Syafruddin memastikan, sistem pemeringkatan akan dilakukan secara transparan. Peserta CPNS bisa memantau langsung berapa nilai mereka dan para pesaingnya. "Itu nanti BKN (Badan Kepegawaian Negara) teknisnya. Pesertanya itu tahu," ucapnya.

Dalam PermenPAN RB tersebut, pada pasal 2 disebutkan, peserta SKB terdiri atas peserta SKD yang memenuhi passing grade dan peserta SKD yang tidak memenuhi passing grade namun memiiliki peringkat terbaik dari angka kumulatif SKD sesuai yang diatur dalam peraturan menteri.

Ada pun peserta SKD yang tidak lolos passing grade tetapi tetap bisa mengikuti SKB dengan ketentuan antara lain, nilai kumulatif SKD formasi umum paling rendah 255, nilai kumulatif SKD formasi umum untuk jabatan dokter spesialis dan instruktur penerbang paling rendah 255; dan nilai kumulatif SKD formasi umum untuk petugas ukur, rescuer, anak buah kapal, pengamat gunung api, penjaga mercusuar, pelatih/pawang hewan, dan penjaga tahanan paling rendah 255.

Selanjutnya, nilai kumulatif SKD formasi putra putri lulusan terbaik (cumlaude) dan diaspora paling rendah 255, nilai kumulatif SKD formasi penyandang disabilitas paling rendah 220, nilai kumulatif SKD formasi putra/putri Papua dan Papua Barat paling rendah 220, dan Nilai kumulatif SKD formasi tenaga guru dan tegana medis/paramedis dari eks tenaga honoer K-II paling rendah 220.

SKD Kemenag Sumbar 1,8 Persen

Sementara itu, dari total 15.550 peserta seleksi kompetisi dasar (SKD) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk mengisi 801 formasi di lingkungan Kanwil Kemenag Sumbar, hanya 297 atau 1,84 persen peserta lulus nilai ambang batas (passing grade). Sementara, 15.253 peserta lain tumbang. Selain faktor kesulitan soal ujian, kualitas ranah pendidikan tinggi dan metode perumusan soal ikut mendapat sorotan.

Kepala Kanwil Kemanag Sumbar, Hendri, kepada Haluan menilai, banyak faktor yang perlu ditelusuri saat melihat hasil ujian SKD CPNS tahun ini yang jauh dari harapan. Ia menilai, kualitas pendidikan tinggi dari segala sisi perlu mengevaluasi diri agar kejadian serupa tak berulang pada penyelenggaraan seleksi tahun berikutnya.

“Saya pikir mesti melihat ke dalam diri juga. Memang selentingan kabar mengatakan tingkat kesulitan soal jadi masalah di ujian tahun ini. Ada juga yang menyebutkan passing grade terlalu tinggi, tetapi, patut dilihat juga kualitas individu peserta ujian yang didominasi output dari dunia pendidikan tinggi,” kata Hendri, Rabu (21/1).

Tags
CPNS
Ikuti kami di