Harian Haluan

Harianhaluan.com

Minang Mart Mulai Rontok

Minang Mart Mulai Rontok
Meski masih bermerk Minang Mart, gerai toko ritel di Simpang Lampasi, Kota Payakumbuh ini telah memutus kerja sama dengan PT RMM. Pemutusan kerja sama disebabkan ketidakmampuan PT RMM memenuhi permintaan barang, Kamis (3/1). ARI 

Sebenarnya pemilik gerai siap bekerja sama dengan Minang Mart, tetapi dengan syarat barang-barang yang dibutuhkan dapat tersedia. Sementara kenyataannya tidak demikian. Bahkan saat melakukan pemesanan barang, uang harus dibayar terlebih dulu kepada pengelola Minang Mart. Namun, barang yang dipesan baru akan sampai sepekan kemudian.

PADANG, HARIANHALUAN.COM – Minang Mart yang semula sempat memberi harapan kepada pengusaha lokal dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Sumbar disinyalir gagal total. Sejumlah gerai di Kota Padang sampai Kota Padang tutup. Pemutusan hubungan kerja disinyalir karena ketidakmampuan PT Ritel Minang Moder (RMM) memenuhi permintaan barang dari pemilik gerai, komplain pelanggan terkait harga, serta seabrek masalah lainnya.

Pemutusan kerja oleh pemilik gerai dengan PT RMM terpantau dari beberapa toko di Kota Padang yang telah tutup dalam jangka waktu yang lama, bahkan beberapa di antaranya telah terpasang palang merk dikontrakkan di pintu gerai tersebut. Satu gerai di kawasan Sungai Lareh, Kecamatan Kuranji, bahkan telah mengganti nama Minang Mart menjadi Minang Midi. Pemutusan kerja sama juga terjadi di Kota Payakumbuh.

Erna, pemilik salah satu gerai bekas Minang Mart Payakumbuh 1 di Simpang Lampasi, Kelurahan Sungai Durian, Kecamatan Lampasi Tigo Nagari, mengatakan, para awalnya ia memang tertarik dan memutuskan membuka gerai Minang Mart di Payakumbuh. Namun selang satu bulan kemudian, Erna mengaku sudah memutuskan hubungan kerja sama.

“Pengelola tidak bisa mencukupi kebutuhan barang yang akan dijual itu. Sejak mendaftar 2016 lalu, kami hanya bertahan sebulan. Setelah itu, kami berdiri sendiri sampai sekarang,” ucapnya kepada Haluan beberapa hari lalu.

Erna mengatakan, pihaknya sebenarnya siap untuk bekerja sama dengan pihak Minang Mart, tetapi dengan syarat barang-barang yang dibutuhkan dapat tersedia. “Banyak barang yang disediakan tidak lengkap. Mulai dari makanan, minuman, hingga produk-produk lain,” ucapnya.

Bahkan kata Erna, ketika ia melakukan pemesanan barang, uang harus dibayar terlebih dulu kepada pengelola Minang Mart. Namun, barang yang dipesan tidak sampai tepat waktu ke Payakumbuh. “Bahkan setelah dibayar, barangnya baru sampai seminggu kemudian,” tuturnya.

Pantauan Haluan, walau pun sudah putus kemitraan, Erna masih menggunakan palang merk Minang Mart di tokonya itu.

“Dulu memang sempat kami buka, sekarang dipasang saja dulu,” ucapnya.

Selain itu, berdasarkan pantauan Haluan di Kota Padang, sejumlah gerai Minang Mart telah tutup atau beralih merk. Gerai di Jalan Adinegoro, Batang Kabung Ganting, Koto Tangah, tampak tutup dan bertuliskan toko tersebut dikontrakkan. Sementara itu, gerai Minang Mart di Sungai Lareh, Kecamatan Kuranji telah berganti nama menjadi Minang Midi.

Sementara itu di pihak pelanggan, sejumlah masyarakat mengaku selama Minang Mart hadir di Sumbar tetap tidak mampu menarik minat untuk berbelanja. Sebab, harga yang dipatok untuk setiap produk yang dijual berselisih cukup jauh dari toko ritel lain, bahkan dari harga di warung tradisional.

“Kebutuhan harian seperti sabun, pasta gigi, gula, dan lain-lain. Itu memang lebih mahal. Makanya kalau tidak mendesak saya tidak belanja di Minang Mart. Memang mahal dibanding toko lain. Bahkan kedai di dekat rumah menjual barang yang sama dengan harga lebih murah,” kata Arni, salah seorang warga Kota Padang.

Ikuti kami di