Harian Haluan

Harianhaluan.com

Formasi CPNS Dokter Spesialis di Sumbar Banyak Kosong, Sebagian Dokter Enggan “Terikat”

Formasi CPNS Dokter Spesialis di Sumbar Banyak Kosong, Sebagian Dokter Enggan “Terikat”
Ilustrasi (haluan) 

Faktor ketiga, kata Pom, adalah beban kerja yang tidak sesuai dengan penghasilan yang diterima. "Dalam aturan Aparatur Sipil Negara (ASN), waktu kerja kan ditetapkan di kisaran 37 sampai 40 jam/minggu. Dengan keterbatasan yang dimiliki oleh seorang dokter spesialis, upah dan beban kerja itu rasanya tidak sebanding," tutur Pom.

Di sisi lain Pom menyadasari, saat ini sebaran dokter spesialis di Sumbar masih belum memadai dan merata. "Belum terpenuhi termasuk di daerah-daerah. Apalagi Mentawai, kabarnya sedang ada pembangunan rumah sakit baru. Sementara kebutuhan dokter spesialis di Rumah sakit yang sudah ada di Mentawai saja belum terpenuhi. Akan menjadi tugas tambahan bagi IDI untuk menjembatani pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di daerah-daerah, khususnya daerah terpencil seperti Mentawai," ucapnya lagi.

Pom mengaku, upaya penjembatanan itu selalu dilakukan dengan koordinasi antara IDI Sumbar dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumbar di bawah arahan Kepala Dinas Merry Yuliesday. Bahkan koordinasi dan kerja sama itu telah tertuang dalam nota kesepahaman.

"IDI dan Dinkes Provinsi Sumbar telah MoU untuk pemenuhan pelayanan rutin ke daerah-daerah, untuk menutupi keterbatasan dokter spesialis yang ada. Kami memakai sistem jemput bola saja. Jadi kami yang datang ke daerah secara rutin memantau pemenuhan pelayanan kesehatan tersebut," tutup dr. Pom.

Kembali pada Pribadi Dokter

Banyaknya faktor yang menyebabkan seorang dokter spesialis enggan menjadi PNS, ikut disikapi oleh ahli hukum kesehatan dari Universitas Ekasakti (Unes), Firdaus. Menurutnya, pada dasarnya dokter telah disumpah untuk membaktikan hidup bagi kepentingan kemanusiaan. Sedangkan di sisi lain, pembukaan formasi dokter spesialis pada seleksi penerimaan CPNS merupakan panggilan negara.

“Fenomena ini memang tak melulu soal materi. Meski pada kenyataannya memang untuk menjadi seorang spesialis itu, seorang dokter keluar uang yang tidak sedikit. Namun di samping itu, saya merasa dokter spesialis juga mempertimbangkan lokasi penempatan. Semakin ke pedalaman, semakin tertutup aksesnya pada pusat perkotaan, dan itu cenderung banyak yang tak menyukai,” kata pengajar yang kerap disapa Diezo itu.

Di perkotaan, katanya lagi, dokter spesialis biasa melakukan pekerjaan tidak hanya di satu tempat. Selain di rumah sakit pemerintah atau swasta, seorang dokter juga meningkatkan penghasilannya dengan bekerja di klinik swasta atau membuka dan mengurus klinik sendiri.

“Itu juga alasan yang masuk akal menurut saya. Sedapat mungkin naluri manusia ini ingin di tempat yang aksesnya terbuka. Namun, mengingat sumpah dokter yang seperti itu, sementara formasi CPNS adalah panggilan negara, akhirnya kembali pada diri masing-masing dokter. Kembali kepada dokter, dan itu hak mereka juga untuk memutuskan,” ucapnya menutup. (h/mg-yes/mg-hen)

Tags
CPNS
Ikuti kami di