Harian Haluan

Harianhaluan.com

Home »

pemda

Bupati Pessel: Wali Nagari Jangan Berpoligami Kasihan Istri Pertama

Bupati Pessel: Wali Nagari Jangan Berpoligami Kasihan Istri Pertama
Bupati Pessel Hendrajoni  
PAINAN, HARIANHALUAN.COM - Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni, menegaskan kepada seluruh wali nagari di daerah itu jangan berpoligami atau melakukan nikah sirih dengan perempuan lain. 
 
"Kasihan itu sama istri pertamanya. Sebelum kita sukses dia yang memberikan semangat. Tau-tau sudah sukses malah berpoligami, wali nagari itu tidak besar gajinya, saya tau itu," ujar Bupati Hendrajoni pada wartawan di Painan, Selasa (12/3).
 
Menurut bupati, hal itu terkait peristiwa penyegelan kantor Wali Nagari Salido, Kecamatan IV Jurai, oleh sejumlah masyarakat pada Jumat (8/3) malam.
 
"Saat ini prosesnya sudah di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Kita lihat dulu aturannya seperti apa. Sekarang sedang dikaji," ucapnya.
 
Bupati menyebutkan, apapun sanksi yang diberikan nantinya, wali nagari harus siap menerima segala keputusan tersebut. 
 
"Masyarakat sudah dibuat resah dengan ulah wali nagari. Seharusnya sebagai pemerintah daerah memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Jabatan itu amanah yang harus dipertanggungjawabkan," tuturnya.
 
Dalam waktu dekat, lanjut dia, pihaknya bakal memanggil seluruh wali nagari yang di daerah itu untuk mengingatkan agar kejadian tersebut tidak terulang kembali. 
 
"Sebab, ini kecenderungan pihak laki-laki. Kalau sudah banyak uang maka timbul niat yang tidak baik. Bahkan sampai berselingkuh dengan istri orang. Jangan sampai bertambah gaji, bertambah pula istri. Ingat perjuangan ketika bersama istri hingga akhirnya dianugerahi anak," ucap bupati mengingatkan. 
 
Sementara itu, Hamdi selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa mengatakan, saat ini pihaknya menonaktifkan Wali Nagari Salido Mar Isnedi tersebut, hingga mencari tau apa penyebab kejadian yang sebenarnya.
 
"Pihak kami sudah menunjuk pelaksana tugasnya. Hal ini bertujuan agar tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat," kata Hamdi. 
 
Lebih lanjut kata dia, pihaknya bakal mengkaji lebih dalam apakah tindakan wali nagari tersebut bertentangan dengan aturan atau tidak.
 
"Jika memang bertentangan dengan aturan maka kami ambil langkah tegas, jika tidak yang bersangkutan akan diaktifkan kembali," ucapnya. 
 
Sebelumnya, sejumlah masyarakat menyegel kantor Wali Nagari Salido, Kecamatan IV Jurai, pada Jumat (8/3) malam, lantaran geram dengan ulah oknum wali nagari yang telah berselingkuh dengan seorang guru honorer di daerah itu. 
 
"Guru honorer tersebut statusnya masih istri orang dan saat ini tengah hamil 7 bulan. Ini perbuatan yang sangat merusak nama nagari dan pemerintah. Penyegelan ini kami lakukan setelah hasil rapat masyarakat dan pemuda di Masjid," ucap Rusdi masyarakat setempat pada wartawan.
 
Ia menyebutkan, penyegelan malam itu sebenarnya bakal difokuskan pada ruangan wali nagari saja. Namun, karena kunci kantor tidak diberikan oleh sekretaris nagari, maka masyarakat mengambil keputusan untuk menyegel kantor wali nagari tersebut. 
 
"Sesuai keputusan awal, kami hanya ingin menyegel ruangan wali nagari saja. Namun, karena kunci tidak diberikan Seknag akhirnya kami menyegel kantornya," ujarnya.
 
Lebih lanjut kata dia, masyarakat berkeinginan agar wali nagari tersebut diberhentikan dari jabatannya. Sebab, sudah mencoreng nama baik nagari dan tidak patut menjadi percontohan masyarakat.
 
"Karena perbuatan tidak senonoh itu, maka kami bersama masyarakat meminta agar dia diberhentikan saja dari jabatannya," katanya.
 
Terpisah, Wali Nagari Salido, Mar Isnedi, angkat bicara terkait penyegelan kantornya dan membantah tuduhan warganya yang menyebut ia telah berzina dan berselingkuh dengan seorang guru honorer hingga hamil 7 bulan.
 
Ia menegaskan, tuduhan tersebut adalah fitnah, sebab ia sama sekali tidak berzina dengan guru honorer itu, melainkan telah nikah siri.
 
"Perlu saya luruskan, bahwa saya tak berzina seperti apa yang dituduhkan itu. Tapi jika dikatakan berpoligami, itu baru benar. Hal itu saya akui karena saya telah nikah siri dengan dia," ucapnya.
 
Menurut dia, nikah siri itu dilakukannya pada September 2018 lalu di Sungai Penuh. Nikah siri itu, kata dia, juga telah disetujui oleh istri pertamanya.
 
Ia menjelaskan, nikah siri itu dilangsungkan karena berbagai faktor dan pertimbangan, diantaranya guru honorer itu telah berpisah dan tak pernah berkomunikasi sejak 3 tahun terakhir dengan sang suami.
 
Selain itu, ia juga membantah informasi yang beredar di tengah masyarakat yang menyebut bahwa guru honorer itu tengah hamil 7 bulan.
 
"Kalau hamil, memang benar. Tapi bukan 7 bulan, melainkan 5,5 bulan," ujarnya. (h/kis)
 
 



Ikuti kami di