Harian Haluan

Harianhaluan.com

Penumpang Bus Sumbar-Jawa Naik 100 Persen

Penumpang Bus Sumbar-Jawa Naik 100 Persen
TRANSPORTASI DARAT-- Satu unit bus NPM melintas di kawasan Ulak Karang, Kota Padang, Kamis (28/2). Sejak harga tiket pesawat dan tarif bagasi pesawat berbayar masyarakat banyak beralih menggunakan angkutan darat untuk pergi keluar provinsi. IRHAM 

PADANG, HARIANHALUAN.COM—Kenaikan harga tiket pesawat penerbangan domestik berimbas positif terhadap bisnis transportasi darat. Bahkan, kenaikan penumpang bus angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) menembus angka hingga 100 persen.

Hal itu diutarakan Kepala Dinas Perhubungan Sumatera Barat (Sumbar), Heri Noviardi. Ia mengatakan, pada hari biasa, bus angkutan Sumbar menuju Jakarta seperti PO NPM hanya memberangkatkan tiga unit bus dalam sehari menuju Jakarta, Bogor, dan Bandung. Sedangkan saat ini, NPM sampai mengerahkan tujuh unit armada setiap hari.

"Peningkatan paling signifikan terjadi di bus NPM. Bayangkan, dari tiga jadi tujuh bus per hari. Bahkan, tidak semua permintaan penumpang NPM ter-cover dan harus nyari bus tambahan," kata Heri, Selasa (19/3), sebagaimana dilansir oleh jawapos.com.

Peningkatan jumlah penumpang NPM itu, sebutnya, terjadi di beberapa kabupaten/kota. Seperti Lima Puluh Kota, Bukittinggi, Padang Panjang, Padang Pariaman dan Padang. Sementara untuk tarif, Jakarta-Padang atau Padang Jakarta di kelas ekonomi, NPM mematok harga Rp 300 ribu. Sedangkan untuk kelas eksekutif ada pada angka Rp 400 ribu. "Bus NPM juga menyediakan pembelian tiket online dan langsung ke loket," sebutnya lagi.

Heri menyebutkan, bukan hanya bus PO NPM yang melayani rute antar provinsi antar pulau ke Jawa. Selain itu juga ada PO Transport, Gumarang Jaya, ANS, Family Raya, dan lain-lain. "Tapi, peningkatan perusahaan angkutan umum selain NPM tidak terlalu signifikan karena keterbatasan armada," sebutnya lagi.

Di sisi lain, dengan peningkatan transportasi darat ini, pihaknya juga telah mengimbau seluruh perusahaan untuk meningkatkan jumlah armada dan kualitas pelayanan kepada masyarakat. "Kendaraan yang dioperasikan harus layak jalan. Harus memerhatikan ketepatan waktu juga," kata Heri.

Sebelumnya diberitakan, pada awal 2019 lalu, perusahaan transportasi Naikilah Perusahaan Minang (NPM) mengaku memang telah melakukan penambahan unit kendaraan sebanyak 10 unit bus. Penambahan dilakukan berkaitan dengan peremajaan unit yang sudah direncanakan tiga bulan sebelumnya.

Chief Executive Officer (CEO) PT NPM, Angga Virchansa Chairul, mengatakan, meski pun adanya peningkatan jumlah penumpang di pool yang merupakan akibat dari tingginya harga tiket pesawat, penambahan bus tak dipengaruhi oleh hal tersebut.

“Terkait penambahan bus antar kota antar provinsi (AKAP) ini tak ada hubungannya dengan harga tiket yang sedang mahal, ini sudah kami rencanakan jauh-jauh hari untuk peremajaan unit-unit kami,” ujarnya kepada Haluan.

Ia menjelaskan, sebelum Desember 2018, pihaknya sudah berencana akan melakukan peremajaan unit. Proses pembuatan bodi bus di karoseri itu sendiri, membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan. Pada akhirnya, di awal Januari, telah selesai 10 unit bus baru yang juga bisa digunakan untuk menampung jumlah penumpang yang sedang meningkat. “Dengan penambahan tersebut, total kendaraan yang kami miliki sudah sebanyak 80 unit,” katanya lagi.

Di samping itu, kenaikan harga tiket pesawat agaknya mempengaruhi pilihan masyarakat dalam memilih moda transportasi. Tak jarang, penumpang beralih ke moda transportasi darat seperti bus yang harganya jauh lebih ekonomis.

Angga menambahkan, sejak tingginya harga tiket pada tahun baru 2019, jumlah keberangkatan meningkat setiap harinya. Normalnya, pihaknya memberangkatkan sebanyak 2-3 bus dalam sehari, sedangkan saat ini setiap harinya, NPM memberangkatkan sebanyak 4-5 bus.

“Penumpang pesawat bukan serta merta pindah ke bus semua. Ada yang menunda perjalanan, naik kendaraan pribadi, ada yang naik bus. Bus tetap menjadi pilihan terakhir karena ekonomis,”ucapnya. (h/isq/mg-pic)

 

Ikuti kami di