Harian Haluan

Harianhaluan.com

Atraksi Kuda Kepang Hibur Wisatawan di Sawahlunto

Atraksi Kuda Kepang Hibur Wisatawan di Sawahlunto
Atraksi kuda kepang sanggar Subur Budaya, ikut menghibur wisatawan dan perantau saat libur Lebaran 1440 H, di Lapseg Ombilin. RIKI YUHERMAN 

SAWAHLUNTO, HARIANHALUAN.COM - Penampilan kesenian tradisional asli Sawahlunto "kuda kepang" menjadi atraksi wajib yang disuguhkan dalam setiap momen perayaan di kota ini termasuk perayaan Idul Fitri 1440 H.

Setidaknya ada 6 sanggar kuda kepang yang tampil selama liburan Lebaran tahun ini, yakni Bina Satria, Bima Sakti, Kalimasodo, Harapan Jaya, Mekar Budaya dan Subur Budaya.

Kuda kepang atau kuda lumping biasa di Jawa ini disebut memiliki keunikan tersendiri karena dimainkan tidak saja oleh masyarakat keturunan Jawa tapi juga masyarakat dari etnis lainnya seperti Minang.

Marjadi, pimpinan paguyuban kuda kepang "Subur Budaya" Sawahlunto menyebutkan, kuda kepang merupakan kesenian Jawa yang mengundang arwah para leluhur dengan diiringi alunan gamelan dan gendang.


"Kesenian ini dimulai dengan tarian para penari kuda lumping dengan dandanan seperti para punggawa kerajaan, di mana penari naik ke atas kuda-kudaan yang terbuat dari kulit bambu (gedek) dan menari mengikuti alunan dari gendang dan gemelan," katanya.

Marjadi juga menyebutkan, ada sedikit perbedaan yang terdapat pada kuda lumping di Jawa dengan kuda kepang di Sawahlunto. Perbedaannya terletak pada makhluk gaib yang merasuki pemainnya. Di mana, lanjutnya, danyang danyang, inggang, indang dan arwah yang merasuki pemain di setiap daerah atau tempat memiliki penguasa alam gaib yang berbeda-beda.

Khusus untuk Subur Budaya, lanjut Marjadi, keberadaan sanggarnya merupakan bentuk kepedulian untuk melestarikan budaya yang dimiliki kota ini.

Sanggar Subur Budaya, sebutnya, juga diharapkan bisa sebagai wadah bagi generasi muda untuk belajar kesenian tradisional kuda lumping.

"Untuk yang ingin bergabung dan belajar, kami tidak mengkhususkan bagi keturunan etnis Jawa saja, tapi terbuka bagi siapa saja yang suka dan berkeinginan belajar dan mengembangkannya," ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Permuseuman dan Peninggalan Bersejarah Kota Sawahlunto, Hendri Thalib sangat mengapresiasi hadirnya sanggar-sanggar kesenian tradisional. Bagi Pemko Sawahlunto lanjutnya, kesenian ataupun sanggar seni dan budaya memiliki peran yang sangat besar khususnya dalam mengembangkan sektor pariwisata andalan.

"Terlebih saat ini Sawahlunto tengah berjuang mendapat pengakuan sebagai kota Warisan Dunia yang diakui Unesco. Setiap seni dan budaya yang ada didalamnya merupakan komponen hidup yang senantiasa harus lestari. Untuk itu pemerintah sangat mendukung setiap langkah pengembangam budaya dan seni di kota ini," tuturnya.

Hendri menambahkan, Pemko Sawahlunto sangat komit dalam mendukung kegiatan seni dan budaya. Hal ini terbukti dengan dibentuknya Dinas Kebudayaan pada awal 2017 lalu, dengan harapan akan mempermudah koordinasi dan komunikasi bagi setiap komunitas seni dan budaya yang ada di Sawahlunto.

 

Reporter: Riki Yuherman

Editor: HSP



Ikuti kami di