Harian Haluan

Harianhaluan.com

Keren!!, Songket Silungkang Kini Sudah Bersertifikat IG

Keren!!, Songket Silungkang Kini Sudah Bersertifikat IG
SONGKET SILUNGKANG - Kain tenun buah karya tangan terampil warga Silungkang kini resmi diakui sebagai produk indikasi geografis. Hal ini tercetus pada Sawahlunto Internasional Songket Silungkang Carnaval (SISSCa), yang digelar Minggu (8/9). FADIL  

SAWAHLUNTO, HARIANHALUAN.COM - Ada yang berbeda dengan ajang Sawahlunto Internasional Songket Silungkang Carnaval (SISSCa), yang digelar Minggu (8/9). Kain tenun buah karya tangan terampil warga Silungkang itu, kini resmi diakui sebagai produk indikasi geografis.

Pengakuan itu ditandai dengan Penyerahan Dokumen dan Sertifikat Indikasi Geografis Songket Silungkang (IG-SS) dari Kemenkum HAM RI, yang diterima langsung Wali Kota Sawahlunto, Deri Asta dari Direktur Merek dan Indikasi Geografis Kemenkum HAM RI.

Dengan demikian, kain tenun yang telah diproduksi sejak tahun 1340 masehi itu, telah memiliki sertifikat sebagai produk indikasi geografis. Pendaftaran kain tenun Songket Silungkang itu diajukan oleh Pemerintah Kota Sawahlunto.

Dari catatan perjalanan kain Songket Silungkang itu terbilang sangat panjang, serta mengalami pasang surut dan akhirnya mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang pesat sampai saat ini.

Songket Silungkang diproduksi dengan menggunakan peralatan sederhana berupa Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dinamakan palanta atau palantai. Bahan dasar Songket Silungkang sendiri merupakan benang rentang, yang disebut benang lungsi berbahan katun.

Sedangkan benang untuk motif adalah benang pakan atau benang makau. Kain songket tersebut merupakan khas daerah Silungkang, sebuah kecamatan yang menjadi bagian dari Kota Sawahlunto.

Keistimewaan dan keunggulan Songket Silungkang terletak pada corak dan motif di antaranya pucuak rabuang, kaluak paku, bintang, rangkiang, itiak pulang patang, buruang merak, buruang dalam rimbo dan lain lain dipadu dengan kombinasi warna yang menarik.

Ciri khas songket Silungkang juga ada pada detail motif dengan benang emas, perak atau tembaga dan tidak menutupi seluruh permukaan kain, sehingga bisa dijadikan pakaian formal dan semiforma.

Dalam perkembangannya saat ini, masyarakat pengrajin juga mulai menggunaan bahan pewarna celup alami, yang dinilai mampu menghasilkan produk songket yang semakin berkualitas.

 

“Songket Silungkang dengan pewarna celup alami dengan kualitas yang semakin bagus, akan diikuti dengan nilai ekonomis yang bagus pula,” ujar Walikota Sawahlunto, Deri Asta.

Dngan nilai ekonomis yang lebih baik, produk songket Silungkang berbahan pewarna celup alami mampu mengkatrol nilai ekonomi pengerajin songket Silungkang sendiri. Tujuannya, tentu saja untuk memperbaiki ekonomi masyarakat Sawahlunto.

Songket berbahan pewarna alami, dapat diracik sendiri, dengan menggunakan daun-daunan, kulit pohon, kulit jengkol, daun gambir, bahkan juga bisa menggunakan pewarnaan dengan bahan batubara. Harga songket berbahan alam itu, justru mengangkat harga jual songket yang dihasilkan.

Melalui ajang SISSCa yang kini salah satu kalender penting Sawahlunto sejak 5 tahun terakhir, pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas maupun pasar bagi songket Silungkang.

 

Hingga tutup tahun 2018 lalu, Sawahlunto tercatat memiliki 914 pengrajin tenun songket. Jumlah itu mengalami peningkatan dari tahun 2017, yang mana pengrajin tenun berjumlah 877 orang.

 

Sementara sebelumnya, 2016, pengrajin tenun Silungkang di Kota Sawahlunto berada di posisi 796 orang. Jumlah itu terus mengalami peningkatan seiring dengan program pelatihan yang diberikan pemerintah setempat.

 

Saat ini, Pemerintah Sawahlunto juga menyediakan 100 unit ATBM, yang akan dibagikan kepada para pengrajin. Seiiring dengan itu, juga dipersiapkan pelatihan terhadap 50 orang calon pengerajin. (h/dil)

 

Reporter : Fadil /  Editor : HSP


Ikuti kami di