Harian Haluan

Harianhaluan.com

Sosialisasi Bahaya Radikalisme, 105 Guru di Padang Panjang Dapat Pencerahan BNPT

Sosialisasi Bahaya Radikalisme, 105 Guru di Padang Panjang Dapat Pencerahan BNPT
Prof. Duski Samad, Kolonel Sujatmiko dan moderator Eko Yanche Edrie. (IST) 

PADANG PANJANG,HARIANHALUAN.COM-Kepala Sub Direktorat Propaganda Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Kolonel Pas. Sujatmiko mengatakan bahwa pada hakekatnya radikalisme itu adalah empat hal yang membahayakan bangsa dan negara sebagaimana dirumuskan oleh BNPT.

“Yang pertama radikalisme dalam terminologi undang-undang antiterorisme adalah anti NKRI, yang kedua anti Pancasila, yang ketiga anti kebinekaan dan yang keempat adalah sikap yang selalu mengkafirkan pihak lain yang tidak sejalan dengannya,” kata anggota Paskhas TNI AU yang kini ditugaskan di BNPT itu.

Maka salah satu cara untuk mencegah paham radikalisme itu meluas adalah dengan memberikan sosialisasi kepada semua elemen masyarakat tentang betapa bahayanya radikalisme. Guru-guru menjadi salah satu pintu gerbang untuk masuknya paham tersebut, tetapi sekaligus pintu masuk pula untuk mencegahnya. “Lewat guru-guru, para murid akan mendapat pencerahan apabila guru-gurunya dicerahkan,” ujar Sujatmiko di hadapan para guru TK/PAUD, SD dan SMP lintas agama di Padang Panjang, Kamis (26/9). 

Sujatmiko yang tampil pada sesi pertama pada acara sosialisasi antiradikalisme-terorisme bertajuk ‘Harmoni dari Sekolah’ yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Barat di hotel Flamingo Padang Panjang, mengajak para guru untuk memberikan pencerahan kepada murid-muridnya tentang betapa berbahayanya paham radikalisme.  


Sementara itu, kata berjawab gayung bersambut, Guru Besar UIN Imam Bonjol, Prof, Duski Samad yang tampil pada sesi kedua memberi garis bawah lagi tentang peran guru dalam rangka mencegah berkembangnyan paham radikalisme.

Prof. Duski Samad mengatakan bahwa guru, khususnya guru pada tingkat pendidikan usia dini sampai tingkat menengah sangat berpotensi memberi arah terbentuknya paham radikalisme atau tidak terbentuknya paham itu terhadap anak didiknya.

“Karena itu penting dan sangat strategis peranan para guru ini untuk membentengi bangsa ini dari bahaya radikalisme yang kemudian bisa menjurus kepada tindak terorisme,” katanya.
Ia juga meminta para guru itu terlebih dulu paham apa itu bahayanya radikalisme. “Jadi guru dulu yang paham, baru mentransformasikan kepada anak muridnya,” kata Duski Samad.

Menurut penulis buku Konseling Sufistik ini, pada awalnya paham-paham sesat ini masuk melalui kesesatan informasi yang masuk pada ruang-ruang publik yang tidak dicerna dengan baik oleh masyarakat. “Semua informasi masuk begitu saja, dan sedikit sekali yang memiliki kesadaran untuk bertabayyun atau mengecek kebenaran informasi itu, bahkan langsung dibagikan kepada pihak lain. Akibat yang pertama sudah keliru, seribu berikutnya menjadi seribu kesesatan informasi, ini jelas berbahaya,” kata Duski.

Sebelumnya, ketika membuka acara itu secara resmi, Walikota Padang Panjang Fadly Amran mengatakan bahwa kegiatan deradikalisasi ini semestinya lebih banyak dilakukan dalam rangka mencegah paham radikalisme berkembang.

“Radikalisme itu memicu terorisme, dan membuat perpecahan bangsa yang mestinya kita jaga keutuhannya ini. Harmoni, seperti tema acara ini adalah sesuatu yang kita dambakan dalam berbangsa dan bernegara saat ini,” kata Fadly.

Acara yang menghadirkan sekitar 105 guru-guru TK/PAUD, SD dan SMP itu diantar oleh Ketua FKPT Sumatera Barat, Dr. Zaim Rais. Ia menyebutkan bahwa kegiatan di Padang Panjang ini merupakan kegiatan rutin FKPT Sumbar setiap tahun dari lima bidang yang ada di FKPT. “Ini merupakan kegiatan ketiga yang sudah kita laksanakan tahun ini,” kata Zaim.(rel)
 

 Sumber : RL /  Editor : DNJ


Ikuti kami di