Harian Haluan

Harianhaluan.com

Demo Anti-pemerintah  Hong Kong, Inilah Bocah pertama yang Diciduk Polisi

Demo Anti-pemerintah  Hong Kong, Inilah Bocah pertama yang Diciduk Polisi
Inilah Bocah 12 Tahun yang identitasnya dirahasiakan, ikut aksi protes di Hong Kong , 21 November 2019. (FOTO: PHILIP FONG/AFP) 

INTERNASIONAL,HARIANHALUAN.COM - Anak itu, yang tidak bisa disebutkan namanya, ditangkap saat berangkat ke sekolah sehari setelah ikut demonstrasi memprotes penguasa Hong Kong. Bocah laki-laki berusia 12 tahun itu kini menjadi orang termuda yang dihukum terkait protes anti-pemerintah Hong Kong. 

Di kantor polisi  bocah itu mengaku melakukan tindakan kriminal berupa perusakan fasilitas umum, seper itu membuat coretan slogan di kantor polisi dan stasiun metro. Dia akan menjalani hukuman bulan depan.

Sejauh ini, ada lebih dari 5.000 orang yang sudah ditangkap semenjak protes digelar pada Juni lalu.

Sebagian dari pengunjuk rasa anti-pemerintah adalah anak-anak, yang berusia antara 12 hingga 15 tahun. Namun ini adalah pertama kalinya salah satu dari mereka menjalani proses dakwaan.


Jaksa penuntut mengatakan kepada majelis hakim bahwa seorang polisi berpakaian preman melihat anak itu membuat tulisan "polisi kejam" dan "bebaskan HK" di dinding Kantor Polisi Mong Kok dan stasiun MTR Prince Edward pada 3 Oktober.

Polisi itu kemudian mengikuti si bocah pulang ke rumahnya dan menunggu di luar sepanjang malam, demikian laporan South China Morning Post, Jumat (22/11/2019).

Ketika anak itu berangkat sekolah pada pukul 07.00 keesokan paginya, petugas mencegatnya dan melakukan penggeledahan di rumahnya. Di sana, aparat menemukan cat hitam.

Pengacara bocah itu, Jacqueline Lam, mengatakan kepada pengadilan bahwa dia ditahan semalam di kantor polisi setelah ditangkap. Dia menyebut hal itu menjadi "pelajaran penting" bagi bocah tersebut.

"Saya meminta pengadilan memberinya kesempatan," katanya.

"Lagipula, usianya baru 12 tahun."

Aksi protes pertama dimulai pada Juni, dipicu oleh usulan rancangan undang-undang (RUU) yang memungkinkan pihak berwenang mengekstradisi tersangka kriminal ke daratan China.

Hong Kong merupakan bagian dari China, tetapi sebagai bekas jajahan Inggris menikmati kebebasan yang tidak terlihat di kawasan daratan.

Walaupun RUU itu sendiri sudah dicabut, para pemrotes terus menuntut penyelidikan atas kebrutalan polisi, dan amnesti (pengampunan) bagi semua orang yang ditangkap.

Namun demikian, gerakan protes ini dilatari persoalan yang lebih mengakar yaitu ketakutan -terutama di kalangan anak muda- bahwa identitas mereka yang unik akan terancam karena di bawah otoritas China.

Pekan ini, para pemrotes menduduki kampus Universitas Politeknik Hong Kong (PolyU), yang lantas berubah menjadi medan pertempuran dengan aparat kepolisian.

Para pendemo melempar bom molotov dan menembakkan panah ke arah polisi, sementara petugas membalasnya dengan menembakkan gas air mata dan peluru karet.

Lebih dari 1.000 orang ditangkap dan dituduh melakukan kerusuhan, sementara ratusan lainnya meninggalkan kampus itu di tengah kekurangan makanan dan suhu dingin yang memicu hipotermia.

Polisi mengatakan, ratusan pemrotes berusia di bawah 18 tahun. Meskipun pengepungan hampir berakhir, puluhan pengunjuk rasa diyakini masih bertahan di dalam kampus.(ins)

 Sumber : iNews /  Editor : Dodi


Ikuti kami di