Harianhaluan.com

Harianhaluan.com

Yaman Diserang, Sedikitnya 38 Tentara Pemerintah Tewas

Yaman Diserang, Sedikitnya 38 Tentara Pemerintah Tewas
Petugas memeriksa lokasi serangan udara yang dipimpin Arab Saudi di penjara Houthi di Dhamar, Yaman, pada Minggu (1/9/2019). 

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Serangan terhadap kamp pelatihan militer di provinsi Marib, Yaman menewaskan sedikitnya 38 tentara pemerintah dan melukai puluhan lainnya, menurut sumber keamanan.

"Serangan pada Sabtu malam itu melibatkan tiga rudal," kata Mohammed Alattab dari Al Jazeera, yang melaporkan dari ibukota, Sanaa.

Dia menambahkan bahwa sasarannya termasuk pasukan pemerintah dan gudang persenjataan. "Jumlah korban diperkirakan akan meningkat," kata Alattab seperti dikutip Aljazeera.com, Minggu (19/1/2020).

Tidak ada klaim pertanggungjawaban atas serangan itu. Akan tetapi, televisi pemerintah Saudi menyalahkan pemberontak Yaman Hutsi yang terkunci dalam konflik selama bertahun-tahun dengan pasukan pemerintah yang didukung oleh koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi-Uni Emirat Arab.

Baca Juga : Wah, Pilek Ternyata juga Bisa Terjadi pada Alat Kelamin
Baca Juga : Ini 'Bisikan' Megawati ke Putra Jokowi soal Pilkada Solo


Televisi al Ekhbariya mengutip sumber-sumber yang mengatakan serangan itu dilakukan dengan rudal balistik dan pesawat tak berawak dan menewaskan 60 personil militer dan melukai puluhan lainnya.

Secara terpisah, sumber medis di rumah sakit kota Marib, tempat korban tewas, mengatakan sedikitnya 70 tentara tewas dalam serangan itu.

Serangan di kamp pelatihan militer tersebut terjadi setelah serangan yang terus menerus oleh pasukan yang didukung Arab Saudi terhadap sasaran Hutsi di wilayah timur Sanaa. Serangan-serangan itu menewaskan sedikitnya 22 orang di kedua sisi, menurut sejumlah pejabat.

Yaman dilanda aksi kekerasan dan kekacauan sejak 2014 ketika Hutsi menguasai sebagian besar negara, termasuk Sanaa.

Krisis meningkat pada Maret 2015 ketika koalisi yang dipimpin Arab Saudi-UEA meluncurkan serangan udara dahsyat yang bertujuan memperkuat teritorial Hutsi.

Perang lima tahun, yang menurut PBB telah menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia, diperkirakan telah menewaskan puluhan ribu orang dan mendorong negara itu ke ambang kelaparan.

loading...
 Sumber : kabar24 /  Editor : Heldi

Ikuti kami di