Harianhaluan.com

Harianhaluan.com

Habiskan Rp293 Miliar, Underpass Terpanjang Indonesia Diberi Sentuhan Seni Khas Yogyakarta

Habiskan Rp293 Miliar, Underpass Terpanjang Indonesia Diberi Sentuhan Seni Khas Yogyakarta
Underpass New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ist 

YOGYAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) / Sukuk Negara Tahun Anggaran 2018-2019 menjadi sumber pendanaan jalan bawah tanah atau underpass New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Biaya yang diperlukan dalam pembangunan underpass ini sebesar Rp293 miliar. Underpass ini mulai difungsikan sejak 20 Desember 2019.

Underpass NYIA merupakan underpass terpanjang di Indonesia dengan bentang 1,3 kilometer dan terdiri dari konstruksi terowongan (slab tertutup) sepanjang 1.095 meter.

Pembangunan underpass ini bertujuan agar akses Jalan Nasional Pantai Selatan (Pansela) Jawa yang menghubungkan Purwokerto dan Yogyakarta tetap terbuka karena pembangunan Bandara Kulonprogo memotong jalan Pansela yang lama.

Untuk mengantisipasi terjadinya genangan air saat turun hujan, konstruksi underpass ini juga dilengkapi dengan rumah pompa dan dilapisi waterstop yang terbuat dari karet untuk beton dinding dan lantainya. 

Ketua Komite Keamanan Jembatan Panjang dan Terowongan Jalan, Sugiyartanto yang juga Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga mengatakan, keberadaan underpass baru tersebut tidak hanya menunjang lalu lintas kendaraan menuju Bandara NYIA tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pariwisata di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya yang terkenal akan seni dan budayanya.

"Kita tidak hanya sekedar membangun jalan atau membangun underpass (NYIA), tetapi kita juga berikan sentuhan-sentuhan seni atau bahasa kami diberikan beautifikasi tanpa menghilangkan fungsi utama (dari underpassnya)," ungkap Sugiyartanto seperti dikutip dari situs Kementerian PUPR. (*)

loading...
 Sumber : Kementerian PUPR /  Editor : Milna

Ikuti kami di