Harian Haluan

Harianhaluan.com

Sepanjang 2019 Ditemukan 287 Kasus HIV di Kota Padang, Penderitanya Mayoritas Warga Pendatang

Sepanjang 2019 Ditemukan 287 Kasus HIV di Kota Padang, Penderitanya Mayoritas Warga Pendatang
Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Feri Mulyani Hamid, saat memberikan keterangan HIV kepada media, Rabu (22/1/2020). FOTO/Milna Miana. 

PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Penderita HIV (Humas Immunodeficiency Virus) di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) bukan dikarenakan penduduk setempat. Melainkan akibat perilaku seks menyimpang atau seks bebas yang dilakukan warga pendatang.

"Dari semua kasus yang ditemukan hanya berkisar 40-48 persen yang beralamat di kota Padang dan 60 persen itu dari luar Kota Padang. Jika dilihat dari prevalensi HIV yang asal Kota Padang hanya 0,14 per 100 penduduk," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Feri Mulyani Hamid, Rabu (22/1/2020).

Ferry menyebutkan, hal ini dipengaruhi karena Kota Padang memiliki akses rumah sakit rujukan yaitu, 26 Rumah Sakit Umum (RSU) dan Rumah Sakit Ibu&Anak (RSIA). Ada juga puskesmas sebanyak 23. Seluruhnya telah menjadi layanan LKB yang mampu melakukan pemeriksaan atau testing dan konseling HIV.

Dari 26 rumah sakit dan RSIA tersebut, dua diantaranya menjadi RS rujukan pengobatan HIV yaitu RSUP Dr. M. Djamil dan RS Yossudarso. Tak hanya itu, Puskesmas Kota Padang juga sudah menjadi rujukan yaitu puskesmas Seberang Padang dan puskesmas Bungus.

"Pada kasus kita masyarakat yang mengakses layanan di kota Padang yaitu 40 persen masyarakat Padang dan 60 persen dari luar kota Padang. Ini membuktikan bahwa layanan yang diberikan itu bagus karena lebih banyak diakses oleh orang luar," imbuh Feri.

Selain itu, Feri menuturkan, tahun 2019 jumlah penderita HIV di Kota Padang mengalami tren penurunan dibanding tahun sebelumnya. Pertama kali kasus HIV ditemukan pada tahun 1992, terbanyak ditemukan pada tahun 2018 dengan jumlah mencapai 447 kasus HIV, sedangkan tahun 2019 hanya 287 kasus.

"Di 2019 terjadi penurunan, kita berharap dimana HIV di Kota Padang ini seperti puncak gunung esnya, maka tidak lagi kita berada di puncaknya tapi sudah sampai ke dasarnya," ujar Feri.

Untuk memutuskan mata rantai HIV, kata Feri, pihaknya melakukan Voluntary Counselling and Testing (VCT). VCT ini merupakan upaya konseling dan tes HIV sukarela. Layanan tersebut bertujuan untuk membantu pencegahan, perawatan, serta pengobatan bagi penderita HIV.

"Kita menemukan secara dini dengan melakukan VCT secara sukarela pada kelompok berisiko. Dilakukan pemeriksaan darah, kalau dia positif kita lakukan edukasi untuk tidak menularkan ke orang lain dengan cara seks bebas, seks pada pasangan, dan pakai juga pelindung jika berhubungan," ulas Feri.

Sementara faktor risiko penularan HIV adalah karena hubungan seksual tidak aman pada heteroseksual sebanyak 1/100-1/1000, penggunaan jarum suntik tidak steril 3/1000, dan percikan cairan tubuh pada mukosa sebanyak 9/1000, dan transfusi darah sebanyak 900/1000. (*)

Reporter : Milna /  Editor : Milna


Ikuti kami di