Harian Haluan

Harianhaluan.com

MARS Indonesia: Pelestarian Cagar Budaya di Pasaman Terabaikan

MARS Indonesia: Pelestarian Cagar Budaya di Pasaman Terabaikan
Sekretaris Agung pada Majelis Agung Raja Sultan Indonesia (MARS) Indonesia, Hari Ichlas Majo Lelo Sati  

PASAMAN,HARIANHALUAN.COM - Sekretaris Agung pada Majelis Agung Raja Sultan Indonesia (MARS) Indonesia, Hari Ichlas Majo Lelo Sati SE, menilai upaya pelestarian cagar budaya di Pasaman sangat minim dan nyaris terabaikan.

"Padahal jika dikelola serius tentu akan memberi dampak positif terhadap pengembangan sistem pembangunan karakter bagi generasi penerus bangsa," kata dia saat dihubungi melalui telepon selulernya, Rabu.

Salah satunya, lanjut dia, dengan melakukan penelusuran dan pengarsipan segala bentuk peninggalan budaya, situs dan bangunan-bangunan tua yang diperkirakan memiliki nilai sejarah.

Menurutnya, sebagai daerah rantau, Pasaman tentu memiliki keragaman budaya yang unik karena didaerah itulah bertemunya dua kebudayaan besar, yakni Minangkabau dan Mandahiling.

Hal itu, lanjutnya, terlihat dari berjalannya secara dinamis dua jenis patron garis keturunan, yakni  masyarakat matrilineal terbesar di dunia dari suku Minangkabau.

"Kemudian Patrilineal yang menata adat masyarakat dari alur keturunan berasal dari pihak ayah, seperti yang diterapkan oleh suku - suku Mandahiling, keduanya bisa digabungkan dalam sisi pencatatan garis keturunan tanpa harus merubah tatanan yang dianut setiap kelompok masyarakat adat tersebut," jelasnya.

Disamping itu, ia juga merujuk pada sebaran peninggalan peradaban periode Hindu-Budha yang cukup banyak ditemukan di daerah tersebut, yang notabene dipengaruhi oleh peradaban zaman kerajaan Majapahit dan Sriwijaya, dua kerajaan besar tersebut dikenal menganut sistem Multilineal, yakni suatu adat masyarakat yang mengatur sistem kekerabatan berasal dari pihak ayah, pihak ibu, dan kekerabatan sosial yang salah satunya dianut oleh Suku Jawa.

"Adanya bangunan bekas candi, arca, prasasti yang ditemukan dan diperkirakan menyebar di kawasan Rao, cukup menjadi dasar akan pentingnya cagar budaya tersebut dilestarikan dan dikembangkan kawasannya agar menjadi salah satu destinasi unggulan di bidang kepariwisataan daerah ini," ungkapnya.

Ia menambahkan, sebagai salah satu bagian dari bangsa Indonesia, Pasaman juga memiliki catatan sejarah yang panjang sejak zaman pra kemerdekaan.

"Setidaknya ada 3 nama tokoh besar yakni Tuanku Imam Bonjol di daerah selatan, Tuanku Rao dari daerah Utara dan Tuanku Tambusai dari daerah Timur, yang dikenal gigih melawan penjajah Belanda pada masa itu sekaligus simbol berdirinya peradaban Islam di Pasaman," terangnya.

Jika dikelola serius oleh pihak terkait, ia meyakini Kabupaten Pasaman akan tumbuh dan berkembang sebagai daerah wisata budaya yang tentu saja akan mampu memberikan percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat dari sektor tersebut.

"Mengelola Pasaman itu harus kreatif, semua tidak akan selesai jika masih ada kelompok - kelompok termarginalkan akibat proses politik yang tidak sehat dan cenderung memihak kepentingan individu dan kelompok semata," tegasnya.

Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar yang mengetahui adanya temuan dugaan artefak tersebut. Menurut Kepala BPCB Sumbar Nurmatias mengemukakan temuan Isap tersebut berupa makara. Namun untuk mengetahui keaslian dan zaman pengerjaannya saat ini masih dikaji.

"Melihat dari bentuk artefak ini terbuat dari batu tupa dan biasanya makara ini dari zaman Hindu-Budha. Tapi kami belum melihat langsung. Mudah-mudahan nanti tim mendapat informasi yang lebih utuh," katanya Sabtu (28/9/2019). (Rly)

Reporter : Ruli /  Editor : Heldi
Ikuti kami di