Harianhaluan.com

Harianhaluan.com

ODHA di Kota Solok Meningkat, Didominasi 'Lelaki Suka Lelaki'

ODHA di Kota Solok Meningkat, Didominasi 'Lelaki Suka Lelaki'
Ilustrasi 

SOLOK, HARIANHALUAN.COM - Pencegahan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency syndrome (HIV/AIDs) terus digaungkan, mulai dari tingkat nasional hingga ke kabupaten, dan kota di Indonesia. Selain itu, upaya yang diperlukan adalah peran aktif masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya, sehingga bisa dicegah dan terdeteksi secara dini.

Menurut Kasi Pengendalian Penyakit, Dinkes Kota Solok, Silvia Yuniwarti, mereka yang terinfeksi HIV/AIDs atau yang disebut ODHA memerlukan pendampingan, sehingga mereka tidak merasa dikucilkan. Selain itu informasi terkait HIV/AIDs serta pengobatan pun bisa mudah didapatkannya. Begitu juga peran masyarakat tentang kepeduliannya terhadap bahaya penyebaran penyakit itu.

“Masyarakat bisa memeriksakan kesehatannya ke Puskesmas terdekat. Bagi ODHA dan berkeluarga juga bisa memeriksakan anaknya, dan anggota keluarganya, jadi tak perlu malu,” ucapnya kepada Haluan beberapa waktu lalu.

Ia menyampaikan, untuk meningkatkan keaktifan warga, dan penderita yang merasa enggan karena malu, pihaknya (Dinkes) bakal membuat jam tambahan konsultasi dan pemeriksaan di salah satu Puskesmas.

Baca Juga : Hingga Kini, Dua Unit Mobil Dalmas Satpol Masih Standby di Lokasi Cekcok Antara Mahyeldi dan Pedagang
Baca Juga : Hati-hati, Kemasan Burger Bisa Picu Berbagai Penyakit


“Jadi setiap Puskesmas ada klinik Voluntary Counselling and Testing (VCT). Jadi kalau ada yang konsul berkunjungnya ke situ. Nah ini masih rencana, jadi konsepnya, jam berkunjung pemeriksaan bisa jam 16.00 WIB atau jam selanjutnya. Dan bisa juga dibuatkan ruang khususnya,” tuturnya.

Menurutnya hal itu dikarenakan, mereka ada yang berkerja, bahkan tidak menutup kemungkinan ada yang pegawai, atau yang sekolah.
“Siang mereka penuh dengan rutinitasnya. Dan terutama adalah privasinya lebih terjaga. Orang tidak tahu,” kata Silvia.

Pemeriksaan HIV dijelaskannya, ada dua cara yakni inisiatif dan yang diwajibkan (triple eliminasi). Wajib bagi ibu hamil, dan penderita Tuberculosis (TB). Seluruh ibu hamil pada massa kehamilan mereka harus periksa triple eliminasi yaitu hepatitis B, HIV dan sifilis.

“Jadi ibu hamil wajib, dengan atau pun tanpa persetujuannya wajib diperiksa,ini demi anaknya. Begitu juga yang TB wajib diperiksa,”ucapnya.

Untuk pemeriksaan inisiatif menurutnya mulai banyak, dengan mencari populasi-populasi kunci bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

“Kebanyakan untuk mobile VCT dilakukan malam hari. Karena mereka (ODHA) banyak beraktifitas siang hari, dan kami dibantu oleh teman-teman LSM, konselor, KPA,” tuturnya.

Data dari Dinkes, penderita ODHA di Kota Solok 2019 tercatat ada 28 orang, tiga diantaranya meninggal dunia. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 20 orang.

Dari gender (jenis kelamin), penderita HIV/AIDs lebih banyak pria, atau yang mengalami kelainan seksual, Lelaki Suka Lelaki (LSL). Sementara data LSL di Kota Solok pada 2015 tercatat ada 218 orang.

Menurut konselor HIV/AIDs yang juga pengelola program Komisi Penanggulangan Aids (KPA), Kristanto, alasan banyak LSL dikarenakan mereka tidak bisa hamil, lalu tidak mudah dicurigai. “Resikonya tinggi, tapi tidak semua (LSL) yang mau diperiksa,” kata Kris.
 
Ia menyampaikan, pihaknya terus memberikan pedampingan kepada ODHA. Karena menurutnya, tidak mudah untuk mendekatkan diri dan memberikan pendampingan. Mereka yang terdeteksi HIV. mereka lebih percaya kepada masing-masing konselornya. 

“Bahkan, untuk minum obat konselor yang mengingatkan. Ya kalau malam-malam nelfon, jam 2 pun yang dilayani,” ucapnya.

Untuk pengobatan, ODHA hanya bisa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Natsir Kota Solok. Karena Puskesmas hanya bersifat konseling dan pemeriksan HIV.

“Ketika ia ditemukan postif HIV ia dirujuk ke ruah sakit M Ntasir untuk pengobatan nanti pengobatannya tetap konselor yang mendampingi,” tuturnya.

Di kota dengan julukan Serambi Manidah ini terdapat 54 konselor, terdiiri dari dokter, perawat, LSM dan KPA. Mereka semua terlatih dan tentunya bisa menjaga rahasia.

Sebelumnya Dinkes Kota Solok juga mengadakan pemeriksaan HIV khusus Aparatur Sipil Negara (ASN). Ada 43 peserta yang ikut tes HIV, 33 berasal dari Dinas Kesehatan dan 10 orang dari Puskesmas. Dari hasil pemeriksaan tersebut, semuanya dinyatakan negatif. (h/rvo)
 

loading...
Reporter : Rivo Septi Andries /  Editor : NOVA

Ikuti kami di