Logo Harianhaluan

Mengenal Tradisi Serak Gulo, Limpahan Rezeki bagi Muslim Keturunan India

Mengenal Tradisi Serak Gulo, Limpahan Rezeki bagi Muslim Keturunan India
Tradisi Serak Gulo di Masjid Muhammadan. Ist 

PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Beragam tradisi di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) akan meramaikan perayaan Imlek di tahun 2020 ini jatuh pada tanggal 25 Januari, termasuk tradisi Serak Gulo di Jalan Batipuh, Pasa Gadang, Padang Selatan.

Tradisi Serak Gulo ini biasanya dilakukan pada sore hari. Biasanya, tradisi Serak Gulo tersebut digelar di Masjid Muhammadan. Tepatnya pada waktu selepas shalat ashar.

Lantas, bagaimana tradisi Serak Gulo ini dilakukan?

Tradisi Serak Gulo diawali dengan pengumpulan gula hasil sumbangan masyarakat keturunan India yang tinggal di Kota Padang. Gula itu kemudian dibungkus kecil-kecil menggunakan kain warna-warni.

Nantinya, masyarakat akan berkumpul di depan Masjid Muhammadan, Kota Padang untuk berebut bungkusan gula pasir tersebut.

Siapa sajakah yang melemparkan Gulo di tradisi Serak Gulo ini?

Para pelempar gulo adalah jamaah masjid yang ingin berbagi rezeki. Bukan hanya itu, mereka adalah orang-orang yang ingin melestarikan tradisi yang sudah berjalan sejak 200 tahun lalu saat etnis India mulai masuk ke pesisir barat Sumatera, tepatnya di Kota Padang.

Tradisi Serak Gulo Punya Tujuan Mulai

Tradisi Serak Gulo merupakan tradisi turun temurun yang dijalankan oleh warga Muslim keturunan India di Kota Padang. Tradisi yang digelar tahunan setiap 1 Jumadil Akhir penanggalan hijriyah ini diyakini sebagai simbol rasa syukur umat Muslim keturunan India atas rezeki yang diterima sepanjang tahun.

Tak hanya itu, prosesi ini sekaligus digunakan untuk memperingati wafatnya ulama di Nagore, India, yakni Shaul Hamid. Dia adalah orang yang sudah berjuang untuk menegakkan Islam di India.

Menurut Ketua Himpunan Keluarga Muhammadan Padang, Ali Khan Abubakar, tradisi Serak Gulo ini merupakan wujud rasa syukur atas rezeki yang diterima sepanjang tahun. Tradisi dari masyarakat muslim keturunan India ini dimulai saat etnis India masuk ke pesisir barat Sumatera, tepatnya di Kota Padang, pada ratusan tahun yang lalu.

Selain simbol rasa syukur, prosesi Serak Gulo tersebut untuk memperingati wafatnya ulama di Nagore, India, yakni Shaul Hamid. Gula yang dibagikan sebelumnya juga disematkan doa, zikir, serta salawat. Ali khan menyebut gula juga digunakan sebagai media pemenuhan nazar atas keinginan yang dipanjatkan.

"Tradisi ini sudah melalui proses akulturasi budaya yang panjang dengan budaya setempat, tanpa meninggalkan nilai-nilai yang dibawa langsung dari daerah asalnya di India, yakni di Nagapattinam, Tamil Nadu, India," terang Ali. (*)

Editor : Milna
Tag :
News