Harian Haluan

Harianhaluan.com

Home »

Opini

Menelisik Kasus Incest di Pasaman, Fakta Sosial yang Jarang Terendus

Menelisik Kasus Incest di Pasaman, Fakta Sosial yang Jarang Terendus
ilustrasi incest 

Kasat Reskrim Polres Pasaman, AKP Lazuardi menyebutkan, SHF (18) selaku tersangka dalam kasus pembuang bayi hasil hubungan seksual sedarah (incest) dengan adik kandung sendiri berinisial IK (13) dapat dikenai ancaman hukuman 15 tahun penjara. 

Laporan: Yessi Swita

Sejumlah pengamat sosial menegaskan, kasus incest adalah fakta sosial yang terjadi di tengah masyarakat, meski pun memang sangat jarang yang terungkap ke permukaan. Dalam berita sebelumnya, warga Kampung Kalawi, Jorong IV Beringin, Rao Selatan digemparkan penemuan sesosok mayat bayi berjenis kelamin laki-laki, di salah satu selokan pembuangan air kolam milik salah seorang warga, Minggu (16/2). 

Setelah diusut, ternyata pelaku pembuangan bayi itu adalah seorang remaja putri berinisial SHF (18). Psikolog Klinis Septi Mayang Sarry menyebutkan, kasus incest memang jarang terkuak di Sumbar. Namun, bukan berarti kasus tersebut jarang terjadi. Pada umumnya, incest dapat terungkap karena menimbulkan kecurigaan dari masyarakat itu sendiri, melalui kondisi kehamilan tiba-tiba seseorang atau melalui kasus tertentu seperti penemuan mayat bayi.

“Oleh karena itu sangat diperlukan kepekaan masyarakat dalam hidup bertetangga. Penyebabnya tentu multifaktor. Mulai dari salahnya pemahaman dan penalaran seseorang, yang merasa menyayangi itu bisa diwujudkan dalam bentuk berhubungan intim. Bisa juga karena hubungan dalam keluarga yang tidak harmonis dan sering berkonflik. Bisa juga karena paparan pornografi dan lain sebagainya," sebut Mayang.

Pengajar pada Prodi Psikologi Universitas Andalas itu menyebutkan, beragam dampak buruk secara psikologis akan muncul pada pelaku incest di masa depannya. Seperti, penurunan self esteem, pengasuhan anak hasil hubungan yang tidak optimal, hubungan sosial kemasyarakatan yang rusak, dan lain sebagainya.

Fakta Sosial
Sementara itu, Sosiolog Universitas Andalas, Yulkardi menerangkan, dari sudut pandang sosiologi, kasus incest adalah fakta sosial di tengah masyarakat. Namun, untuk melihat penyebabnya, tidak bisa dari sekadar fakta di sekitar individu, tetapi juga harus dilihat fakta-fakta lainnya.

“Kita dapat mulai menelisik dari lingkungan terdekat pelaku, yaitu keluarga. Seperti apa peran, fungsi, dan solidaritas dalam keluarga itu berjalan. Jika itu berjalan baik, maka sekecil apapun masalah internal akan segera teridentifikasi,” sebut Yulkardi.

Ia juga menilai, incest tentu berawal dari gejala-gejala tertentu dalam diri pelaku. Sehingga, keluarga semestinya dapat membaca gejala tersebut, sehingga perlakuan incest pun dapat diantisipasi sebelum terjadi. “Secara konseptual, solidaritas keluarga itu harus mengandung unsur soliditas, integrasi, dan kepedulian menjalankan peran dan fungsi dalam keluarga,” sebutnya lagi. 

Selain itu, Yulkardi juga menyorot keterakaitan kasus incest dengan faktor relasi kuasa dalam keluarga. Sebab, ada kemungkinan incest terjadi karena adanya tindakan represi dari salah satu pihak kepada pihak lain dalam keluarga, yang secara relasi kuasa memiliki kekuasaan yang lebih lemah.

“Banyak variabel lain yang juga harus diperhatikan, seperti status sosial ekonomi keluarga, pendidikan, moral dan keberagamaan, relasi sosial keluarga dengan lingkungan, dan lain sebagainya. Di sisi lain, perlu juga menelisik faktor lingkungan peer group anak, baik di dunia nyata maupun di dunia maya,” ucapnya menutup.

Penelitian Incest
Psikolog klinis lainnya dari Unand, Vivi Amalia menyebutkan, incest termasuk dalam bentuk gangguan psikologi dalam subtipe pedofilia. Berupa hubungan seksual yang dilakukan oleh dua orang yang memiliki kekerabatan dekat/atau mereka yang memiliki hubungan darah, yang dilarang untuk menikah.

“Umumnya antara saudara laki-laki dengan sudara perempuan, ayah kandung dengan anak perempuan, dan ibu kandung dengan anak laki-laki. Namun juga ada beberapa kasus incest hubungan sejenis, antara ibu dengan anak perempuan. Penelitian di luar menunjukkan bahwa korban yang paling banyak adalah anak perempuan,” sebut Vivi kepada Harianhaluan.com.

Dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Andalas itu menyebutkan, secara genetik, anak hasil hubungan incest sangat rentan membawa gen resesif, yang dapat berdampak negatif secara biologis dan berujung kecacatan. Selain itu menurutnya, incest sangat jarang diketahui publik.

“Biasanya akan terungkap saat ada kasus seperti di Pasaman kemarin itu. Akan tetapi, kita tidak bisa memungkiri ada kemungkinan banyak kasus incest lain yang tidak diketahui. Belum pernah ada survei terbaru yang mengungkapkan incest dalam keluarga," sebutnya lagi.

Vivi Amalia menambahkan, terdapat penelitian pada tahun 1979 kepada 769 mahasiswa perempuan di Amerika Serikat menunjukkan hasil bahwa 19% dari responden mengaku pernah mengalami kekerasan seksual, dan 28% di antaranya terjerat hubungan incest. 

"Dapat kita asumsikan sekarang, kasus incest mungkin banyak terjadi. Apalagi pada kasus-kasus yang tidak ada bukti yang menunjukkan terjadinya incest, seperti anak hamil atau ada keluarga terdekat yang mengetahui perbuatan itu," sambungnya.

Selain itu Vivi menilai, incest juga rentan terjadi pada budaya patriarki yang kuat, dimana laki-laki sangat dihargai dan perempuan pada posisi yang harus patuh kepada laki-laki tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa laki-laki yang rentan melakukan incest adalah mereka yang melakukan tindak kekerasan pada anak perempuan yang masuki masa puber. 

"Selain itu, ketidakhadiran ibu atau ibu yang sedang tidak di rumah karena bekerja juga memancing potensi terjadinya incest," katanya menutup.

Keluarga Bermasalah
Sosiolog lain dari Universitas Andalas, Dwiyanti Hanandini menyebutkan, dari sudut pandang ilmu sosial, kasus incest membuktikan terjadinya masalah atau lemahnya kontrol keluarga dan masyarakat terhadap individu pelaku incest itu sendiri. Selain itu, pengaruh dari luar seperti pola tontonan juga dapat memancing terjadinya incest.

“Mungkin karena masyarakat sudah terlalu percaya satu sama lain, sehingga santai saja meninggalkan anak di rumah bersama saudara berlain jenis kelamin atau bersama bapaknya untuk anak perempuan. Selain itu, mudahnya akses ke konten pornografi melalui HP juga bisa jadi sebab awal incest terjadi," sebut Hanandini.

Hanandini menilai, untuk mengatasi agar incest tak terjadi dalam keluarga, maka pola pengasuhan dan komunikasi dalam keluarga harus dijalankan sesuai fungsi dasar masing-masing anggota keluarga. "Sebab, sekarang sudah tidak pandang bulu. Anak bisa jadi korban ayah atau kakaknya," sebutnya lagi.

Selain itu, dalam kehidupan sosial, Hanandini menilai para pelaku incest juga berpotensi dikucilkan dalam lingkungan bermasyarakat. “Sudah dapat label dari masyarakat. Entah itu si pemerkosa, atau si korban. Untuk menghilangkan label itu tidak mudah," ucapnya menutup. (**)

Reporter : Yessy Swita /  Editor : Agoes Embun
Ikuti kami di