Harian Haluan

Harianhaluan.com

Tahan Diri Tahan Ego, Corona Bisa Dikalahkan

Tahan Diri Tahan Ego, Corona Bisa Dikalahkan
Ist 

Semenjak mewabah di Wuhan pada akhir Desember 2019 lalu, virus COVID-19 (selanjutnya disebut Corona) menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dunia. Tidak sedikit orang yang terjangkit virus Corona, mulai dari terpapar gejala maupun tidak, hingga jatuhnya korban meninggal akibat virus ganas tersebut. Persebaran virus Corona sudah mencakup ke berbagai negara, sehingga World Health Organization (WHO) menaikkan ‘level’ virus Corona dari tingkat epidemi menjadi pandemic.

Oleh: Mishbah El Yaser, Mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

Masyarakan dunia sedang kalang kabut dengan pandemic virus Corona. Di berbagai negara telah menerapkan kebijakan sebagai respon atas wabah virus Corona, seperti penerapan lockdown di Italia, Spanyol, Selandia Baru, Malaysia, Singapura, dan masih banyak lagi. Sedangkan Indonesia per Februari 2020 sudah diwanti-wanti oleh WHO jika pada akhirnya Indonesia mendapatkan imported case virus corona. Bahkan para petinggi negara RI meyakini bahwa Indonesia aman dari virus corona.
Per 2 Maret 2020, Presiden RI Joko Widodo mengumumkan bahwa dua orang positif terjangkit virus Corona di Depok, Jawa Barat, dan dibawa ke Rumah Sakit Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Pengumuman tersebut menjadi awal mula virus Corona memasuki Indonesia. Hal tersebut menyebabkan masyarakat khawatir dan panik. Kepanikan masyarakat tersebut diwujudkan dengan perilaku panic buying. Istilah tersebut mengartikan perilaku orang atau masyarakat menimbun barang-barang kebutuhan dalam jumlah banyak sebagai respon terjadinya suatu fenomena. Merebaknya virus Corona di Indonesia mengakibatkan persediaan masker dan hand sanitizer langka di pasaran, bahkan kalua pun ada, dijual dengan harga yang tidak tanggung-tanggung.
Panic buying adalah wujud keinginan seseorang atau masyarakat melawan ketakutan akan suatu kejadian dengan rela memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar. Panic buying dipicu oleh rasa ketakutan. Ketakutan akan tidak cukupnya kebutuhan selama wabah penyakit terjadi mendorong mereka untuk mengatasinya dengan rela mengantri di supermarket berjam-jam dan membeli banyak barang. Gejala sosial demikian mengakibatkan dampak negatif. Perilaku panic buying yang ditunjukkan masyarakat Indonesia sebagai respon wabah virus Corona mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia mudah sekali berperilaku khawatir secara berlebihan. Dengan membeli sejumlah barang-barang kebutuhan dalam jumlah banyak mengakibatkan orang-orang yang memang membutuhkan masker dan hand sanitizer tidak mendapat barang tersebut. Di lain pihak, mereka yang menjual masker dan hand sanitizer dengan harga yang tidak manusiawi dianggap berani sekali menyingkirkan rasa kemanusiaan demi meraup keuntungan sebesar-besarnya.
Menghentikan wabah virus Corona adalah tugas berat yang wajib dilaksanakan oleh Pemerintah. Dengan mengikuti rekomendasi dari WHO, pemerintah pusat berusaha menekan angka kasus positif corona serta mencegah masyarakat agar dapat tidak sampai terpapar virus Corona. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah yaitu menyerukan aksi social distancing kepada seluruh masyarakat Indonesia. Mereka yang bekerja di perkantoran sudah dihimbau untuk work from home (WFH). Perlu diketahui bahwa social distancing diartikan sebagai pembatasan sosial. Istilah ini datang dari rekomendasi WHO dengan tujuan menghentikan, meredam penyebaran virus menular.
Tidak ada satu orang pun menginginkan kejadian mewabahnya virus Corona di dunia, khususnya di Indonesia. Tidak semestinya rasa takut dan panik yang berlebihan dimunculkan alih-alih untuk menghindari atau mencegah penyebaran virus Corona. Tidak semestinya rela antri panjang di supermarket atau apotik memborong masker dan hand sanitizer dengan jumlah sangat berlebihan alih-alih melindungi diri dari virus Corona. Masyarakat harus bijak, tahan diri, dan tahan ego demi menghadapi pandemik ini. Tahan diri tahan ego masing-masing dari hasrat mendapatkan masker dan hand sanitizer dengan jumlah berlebihan. Tahan diri tahan ego untuk patuh menerapkan social distancing, yaitu tidak terlibat dalam keramaian, menjaga jarak dengan lawan bicara. Tahan diri tahan ego untuk tetap di rumah saja, tidak perlu ke luar rumah hanya karena urusan-urusan yang sebenarnya tidak begitu penting. Tahan diri tahan ego agar kita bisa beri kesempatan pada orang-orang yang memang membutuhkan alat-alat kesehatan.
Bagaimana dengan sebagian masyarat yang terjangkit penyakit virus Corona ? Sebagai bagian dari masyarakat, mereka yang dinyatakan suspect maupun positif Corona, mereka tidak selayaknya dikucilkan. Lebih tepatnya kita mesti berikan dukungan semangat dan motivasi agar mereka juga semangat dan termotivasi lebih untuk sembuh dari penyakit Corona. Bagi mereka yang menunjukkan gejala-gejala mirip Corona, semestinya kita harus mendorong mereka agar mereka secara sadar diri mau memeriksa dirinya ke faskes terdekat. Hal ini harus dilakukan demi mempercepat pendeteksian penyebaran virus Corona. Tidak baik sekiranya jika mereka yang tergolong Orang Dalam Pantauan (ODP) dan positif Corona dikucilkan oleh masyarakat. Jika pengucilan tersebut benar terjadi, maka sulit rasanya mendeteksi jumlah orang-orang yang terjangkit Corona, mereka bisa saja tidak semangat, minder, dan takut mengakui jika mereka terjangkit Corona.
Momen wabah Corona saat ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan rasa kemanusiaan dan sikap masyarakat Indonesia yang suka bergotong royong saling bantu membantu. Sikap tersebut diwujudkan dengan penggalangan dana yang dimotori oleh sejumlah figur publik yaitu kalangan selebritis dan youtuber. Media sosial mampu menjangkau banyak orang tanpa mengenal batas untuk turut berpartisipasi menyisihkan sebagian rezekinya untuk penggalangan dana. Tanpa menyebutkan nama artis maupun selebgram, mereka mampu memantik minat masyarakat untuk berpartisipasi mengalahkan virus Corona. Penggalangan dana dilakukan suka rela dengan harapan dana yang terkumpul ditujukan pada kebutuhan para tenaga medis seperti masker dan alat pelindung diri (APD) serta memenuhi kebutuhan masyarakat kurang mampu. Penggalangan dana melawan Corona adalah bukti bahwa rasa kepedulian antar sesama masih dimiliki oleh masyarakat Indonesia.
Tak cukup dengan penggalangan dana, melalui media sosial, masyarakat mesti bisa mendesak pemerintah agar lakukan karantina wilayah. Masyarakat harus kompak menjadikan tagar karantina wilayah sebagai trending topic dan viral di media sosial. Dengan viral dan trending topic-nya tagar karantina wilayah diharapkan sampai terdengar dan terlihat oleh para pejabat pusat. Hal demikian harus dilakukan sebab apa yang telah banyak diusahakan masyarakat akan sia-sia saja jika Pemerintah RI masih saja memikirkan dampak ekonomi dari wabah virus Corona. Jujur saja, pemerintah RI terlalu sibuk berkutat pada dampak perekonomian negara ketimbang berkutat menuntaskan penyebaran virus Corona di Indonesia. Tidak dimungkinkan masyarakat menonton televisi atau mengakses media online
Hal yang perlu diingat adalah wabah virus Corona dapat dikalahkan. Artinya selain harus bisa tahan diri dan ego, masyarakat harus didukung dengan literasi media yang mumpuni perihal informasi mengenai virus Corona. Masyarakat harus mampu menyeleksi mana informasi yang valid dan mana informasi hoaks tentang perkembangan wabah Corona, khususnya di Indonesia. Nah tidak hanya itu, seringkali keadaan genting seperti ini menjadi kesempatan bagi beberapa media, hanya demi mengejar viewers, media memancing rasa penasaran masyarakat dengan memunculkan informasi tentang virus Corona dengan judul-judul clickbait (umpan klik). Kebanyakan konten berita-berita yang dikemas dengan teknik tersebut tidak sesuai dengan judul yang diracik sedemikian rupa. Bahayanya berita seperti itu malah menjadi salah persepsi/salah penafsiran oleh masyarakat sebagai pembaca berita yang pada ujung-ujungnya bisa memperkeruh situasi. Seleksilah mana informasi valid nan mampu memberikan wawasan baru oleh media massa atau online.
Media massa merupakan tempat di mana masyarakat sangat membutuhkan informasi yang valid, kredibel, dan mampu menambah wawasan, apalagi dengan kondisi pandemik COVID-19, informasi terbaru perihal wabah Corona sangat ditunggu-tunggu publik. Media massa semestinya wajib memberikan informasi yang bernilai edukasi untuk masyarakat, bukan hanya sekedar mengejar angka viewers postingan berita. Media massa juga harus berikan perhatian khusus kepada kalangan masyarakat berkebutuhan khusus. Artinya media massa harus ramah pada kalangan disabilitas, dengan cara menyediakan seorang penafsir bahasa isyarat. Dengan demikian, seluruh informasi yang disampaikan kepada publik bersifat inklusif, bukan eksklusif.
Mengalahkan wabah Corona tidak bisa hanya dilakukan oleh masyarakat saja. Melalui tulisan ini, penulis berkewajiban berikan penyadaran kepada pemerintah perihal penanganan wabah virus Corona. Harus diakui, manajemen krisis yang dilakukan Pemerintah RI dalam menyelesaikan krisis wabah Corona merupakan kesalahan amat fatal. Buruknya koordinasi pemerintah sejak pertama kali Corona menyebar di Indonesia hingga kini bermuara pada semakin tingginya angka terkonfirmasi positif dan angka kematian karena virus Corona. Kemudian diperparah lagi dengan pernyataan blunder yang dikeluarkan oleh Jubir Penanganan COVID-19 yang sempat menimbulkan salah tafsir dan perdebatan di tengah masyarakat. Seharusnya untuk sekelas Kementerian Kesehatan RI, tidak perlu ada narasi ambigu seperti yang disebutkan oleh Jubir Penanganan COVID-19 yang menyinggung orang miskin dan orang kaya saling bantu tangani virus Corona. Wibawa seperti apa yang ingin ditunjukkan oleh Achmad Yurianto kepada publik dengan narasi tersebut. Oleh karena itu pelajaran berharga untuk Jubir Penanganan COVID-19 adalah jangan pernah sandingkan wabah bencana non alam dengan status sosial seseorang di tengah masyarakat.
Hal terpenting dari masalah besar ini adalah pemerintah harus lakukan aksi nyata dan berani. Aksi tersebut adalah lakukan karantina wilayah. Karantina wilayah adalah hal nomor satu yang segera dilakukan Pemerintah RI. DKI Jakarta sebagai wilayah dengan angka konfirmasi positif Corona paling tinggi di Indonesia harus diterapkan karantina wilayah. Sebab seluruh persebaran virus Corona yang sampai ke wilayah RI lainnya berasal dari wilayah DKI Jakarta. Mungkin Presiden tidak mau menyebutnya Lockdown, namun mengkarantina wilayah DKI Jakarta dengan membatasi semua pintu masuk maupun keluar DKI Jakarta adalah senjata ampuh menekan pergerakan orang ke wilayah RI lainnya. Masyarakat DKI Jakarta sudah berusaha menuruti instruksi Pemerintah RI dengan tetap di rumah saja, beribadah dan beraktivitas, melakukan work from home (WFH). Tapi apa yang diusahakan masyarakat akan bertepuk sebelah tangan jika Pemerintah RI tidak membuat peraturan resmi mengenai tindakan karantina wilayah yang sifatnya memaksa dan inklusif. Apabila Pemerintah RI tidak juga mengesahkan aturan karantina wilayah secepatnya, maka tidak akan heran rasanya jika Indonesia akan bernasib sama dengan Italia.
Menerapkan peraturan karantina wilayah berarti Pemerintah RI sudah membantu meringankan beban kerja tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan tenaga medis)cyang sedang berusaha sekuat tenaga melawan virus Corona. Karantina wilayah bertujuan menahan perpindahan orang-orang, sehingga infection rate dapat dikendalikan seiring dengan upaya tenaga kesehatan berusaha menangani masalah Corona di wilayahnya masing-masing. Bahkan sampai pensiunan dokter pun ‘turun gunung’ membantu melawan wabah virus Corona. Para tenaga kesehatan akan sepakat satu suara bahwa mereka hanya ingin masyarakat RI sembuh dari virus Corona. Mereka rela bekerja hingga mempertaruhkan nyawa mereka sendiri dengan harapan Indonesia bebas dari virus Corona, dan mereka tidak meminta bayaran apapun. Maka malulah sekiranya jika Pemerintah RI melalui Kementerian Kesehatan RI kurang menaruh perhatian khusus pada mereka. Pemerintah wajib memenuhi kebutuhan para tenaga kesehatan dengan APBN yang dimiliki.
Memprediksi hal paling buruk di kemudian hari juga harus dilakukan oleh Pemerintah RI. Jika wilayah RI memang sudah mengharuskan untuk dikarantina wilayah, maka hal paling darurat yang akan berimbas adalah perekonomian. Pemerintah harus libatkan para pakar ekonomi, duduk satu meja (berkumpul dalam jaringan internet) membahas bagaimana prediksi perekonomian RI bila kebijakan karantina wilayah diterapkan. Dengan demikian setidaknya Pemerintah RI tidak hilang arah jika (semoga ini tidak terjadi) kondisi paling buruk terjadi.
Jika benar peraturan karantina wilayah diterapkan dengan serius, maka Pemerintah RI harus mampu berikan kepastian pangan apabila serius menerapkan karantina wilayah. Selama karantina wilayah dilakukan, maka stok pangan suatu wilayah mutlak harus dijamin. Artinya pemerintah baik pusat dan daerah harus siap menjaga pasar, supermarket, maupun pusat perbelanjaan dari tindakan penjarahan. Oleh karena itu seluruh tindakan yang telah disebutkan sebelumnya tidak lain bertujuan mengendalikan grafik pertumbuhan jumlah terjangkit virus Corona di Indonesia. Pemerintah RI harus tahan diri, tahan ego dari upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Nyawa masyarakat RI jauh lebih berharga dibanding jumlah dana investor asing yang akan berinvestasi di NKRI. (**)

 Editor : Milna
Ikuti kami di