Harian Haluan

Harianhaluan.com

Home »

pemda

Cegah Corona, 11 Warga Binaan Rutan Kelas II B Lubuksikaping Dibebaskan, Satu Napi Anak

Cegah Corona, 11 Warga Binaan Rutan Kelas II B Lubuksikaping Dibebaskan, Satu Napi Anak
Rutan Lubuksikaping. Ist 

PASAMAN, HARIANHALUAN.COM -- Sebanyak 11 warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B Lubuksikaping, dibebaskan usai mendapatkan program asimilasi (pembebasan bersyarat) dalam pencegahan Virus Corona (Covid-19) dari pemerintah. Salah satunya napi anak.

Pemberian asimiliasi tersebut sebagai tindak lanjut dari Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Permenkumham) Nomor 10 Tahun 2020 tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi Bagi Narapidana dan Anak dalam rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19.

Menurut Kepala Rutan Kelas II B Lubuksikaping, Nofrizal, belasan warga binaan tersebut, diasimilasikan ke rumah masing masing untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau covid 19. Ini sesuai dengan keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

"Disini ada 11 napi dapat asimilasi. Semuanya napi kasus pidana umum, 363 dan 378 KUHP. Napi kasus narkoba dan korupsi tidak mendapatkan program asimilasi dari pemerintah," ungkap Nofrizal, saat dihubungi Harianhaluan.com, Minggu (5/4/2020).

Dikatakan, bahwa narapidana yang mendapatkan program asimilasi tersebut adalah napi dengan prilaku baik dan tidak pernah melakukan pelanggaran tata tertib di Rutan. Selain itu, sudah menjalani setengah lebih dari masa hukuman.

"Napi yang bebas dari program asimilasi ini sudah melewati setengah hukuman dan menunggu dua per tiga masa hukuman, sedang menunggu SKPD dan PD dari Dirjen pemasyarakatan atas nama Menteri Hukum dan HAM," katanya.

Sebelas dari total 154 warga binaan di Rutan itu telah dirumahkan ke rumahnya masing-masing. Mereka, kata dia, wajib melakukan isolasi mandiri dengan pengawasan ketat dari pihak Rutan.

"Kemarin, Kamis (2/4) kita sudah mengeluarkan 11 warga binaan itu. Salah satunya Napi anak. Mereka sebagian dijemput oleh pihak keluarga dan ada yang pulang sendiri," tukasnya.

Guna mencegah penularan dan penyebaran Covid-19 di Rutan, pihaknya kata dia sudah memberlakukan pembatasan kunjungan (Lockdown) oleh keluarga warga binaan ke rutan tersebut.

"Kita sudah meniadakan kunjungan (besuk) bagi pihak keluarga. Kebijakan ini kita berlakukan sejak 24 Maret 2020. Spanduk, sebagai informasi ke masyarakat sudah kita pasang," ujarnya.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga sudah melakukan sejumlah langkah-langkah pencegahan penyebaran Covid-19. Diantaranya, mewajibkan warga binaan berjemur setiap pagi, aksi bersih-bersih kamar dan menyediakan alat pencuci tangan.

"Sekali dua atau tiga hari, mereka kita cek kesehatannya menggunakan alat pengukur suhu (Thermogun) yang kita miliki," katanya.

Nofrizal mengakui, bahwa perhatian pemerintah daerah setempat terhadap keselamatan jiwa bagi warga binaan di rutan itu sangatlah minim ditengah mewabahnya virus corona (Covid-19) saat ini.

"Itulah, kalau dari instansi Pemda bentuk perhatian itu belum ada sama sekali. Kita sudah menyurati Dinkes dan RSUD untuk melakukan sosialisasi, tapi, alasannya saat ini dilarang berkumpul-kumpul. Kita juga minim APD disini," imbuhnya. (*)

Reporter : Yudi /  Editor : Milna
Ikuti kami di