Harian Haluan

Harianhaluan.com

Keterlaluan! Tower 5G Dibakar akibat Berita Hoax Corona

Keterlaluan! Tower 5G Dibakar akibat Berita Hoax Corona
Salah satu tower terbakar di Amerika Serikat pada 2014 lalu (Foto: RCR Wireless) 

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Berita palsu (hoax) soal COVID-19 sungguh berbahaya. Selain menambah kepanikan masyarakat, juga menyebabkan kerugian materil. Seperti yang terjadi di Inggris. Dilansir dari Teknologi.id (Haluan Media Group), pada Minggu (5/4/2020), tercatat ada tiga tower jaringan telekomunikasi 5G yang dibakar akibat hoax.

Peristiwa itu terjadi di kawasan Merseyside dan Birminghan pada minggu lalu. Saat ini, insiden itu masih dalam tahap investigasi oleh kepolisian setempat.

Hoax soal jaringan 5G yang ikut berkontribusi menyebar virus pandemi itu memang ramai di Inggris belakangan ini. Kabar itu tersiar lewat berbagai grup-grup media sosial, khususnya Facebook.

Dalam klaim hoax tersebut, jaringan 5G bisa menyebabkan orang-orang terpapar virus corona yang awalnya bermula dari Wuhan, China. Terlebih, saat wabah itu muncul, Wuhan baru saja menggulirkan layanan 5G.

Namun, klaim itu tentu salah besar. Sebab, beberapa negara yang terpapar parah virus itu, tidak sedang dalam penggunaan jaringan 5G, khususnya di Indonesia.

Organisasi pengecek fakta Full Fact dan beberapa ahli lainnya juga telah membantah klaim konspirasi yang merugikan tersebut.
"Cerita tentang 5G tidak memiliki kepercayaan secara ilmiah dan tentu saja merupakan gangguan potensial, seperti misinformasi lainnya, untuk mengendalikan epidemi COVID-19," kata profesor di Colorado School for Public Health, Jonathan M. Samet.

Sementara itu, Menteri Kantor Kabinet Michael Gove dibuat geram atas aksi sepihak dari masyarakat yang sangat merugikan itu. "Itu hanya omong kosong, omong kosong yang berbahaya," tegas Gove, dalam sesi jumpa pers terkait perkembangan terbaru virus corona di Inggris.

Aksi vandalisme itu membuat tower miliki BT, operator telco terbesar di Inggris rusak. Apalagi, tower yang dibakar itu tidak memiliki kemampuan untuk jaringan 5G, melainkan cuma layanan jaringan 2G, 3G, dan 4G.

Parahnya lagi, selain merusak perangkat fisik, sejumlah pegawai operator pun mendapat kecaman dari publik. Para pegawai yang sedang memasang kabel fiber optik untuk instalasi 5G, mendapat intimidasi bahkan diancam untuk dibunuh.

National Health Service, pemberi layanan kesehatan publik di Inggris ikut mengecam tindakan sepihak warga yang termakan hoax itu. National Medical Director NHS, Stephen Powis mengatakan konspirasi dan hoax tentang 5G tidak memiliki landasan ilmiah dan justru mengancam upaya tenaga kesehatan untuk menangani pandemi ini.

"Cerita 5G ini merupakan omong kosong, jenis berita palsu yang paling buruk. Kenyataannya adalah jaringan mobile ini sangat penting bagi kita semua," kata Powis.

"Ini adalah jaringan mobile yang digunakan oleh layanan gawat darurat dan tenaga medis dan saya sangat marah, sangat kesal karena orang-orang menyerang infrastruktur yang kita butuhkan untuk merespon terhadap emergency kesehatan ini," pungkasnya.

Untuk menghindari kejadian serupa, masyarakat diimbau untuk tetap mencerna baik-baik terlebih dahulu infromasi yang beredar serta mencari informasi pembanding dari sumber terpercaya terkait COVID-19. Misalnya dari situs resmi pemerintah atau organisasi yang fokus dalam penanganan COVID-19, seperti WHO. (*)

 Sumber : Haluan Media Group /  Editor : Milna
Ikuti kami di